Oleh: Dr. Adian Husaini*

HARI ini, 1 Agustus 2020, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia Pendidikan di Indonesia.   Sebab, 152 tahun lalu, 1 Agustus1868, lahirlah seorang tokoh pendidikan yang hebat, yang kemudian dikenal dengan “KH Ahmad Dahlan”.  Semoga, 1 Agustus juga akan diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Entah mengapa hanya tanggal 2 Mei – hari kelahiran Ki Hajar Dewantara – yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tentu lebih baik dan lebih adil, jika ada TIGA kali Peringatan Hari Pendidikan Nasiolah: (1) Tanggal 2 Mei (2) Tanggal 1 Agustus,  dan (3) Tanggal 14 Februari — Hari Kelahiran KH Hasyim Asya’ari, pendiri NU, yang lahir 14 Februari 1871.

KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri sebuah organisasi besar bernama Muhammadiyah. Atas jasa besarnya kepada bangsa Indonesia, pada tahun 1961, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada KH Ahmad Dahlan, melalui Keputusan Presiden No 657 tahun 1961.

Yang menarik adalah dasar penetapan Keputusan Presiden Soekarno dalam Keppres 657 tersebut, antara lain: (a) KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; (b) Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam.

Apa masih terjajah?

Kini, menjelang peringatan kemerdekaan RI yag ke-75 tahun,  apakah bangsa kita sudah benar-benar merdeka? Apakah kita sudah merdeka dari utang yang mencekik anggaran negara kita? Apakah jiwa kita sudah merdeka? Apa jiwa kita sudah merdeka dari perhambaan kepada selain Allah?

Dalam bidang kegiatan utama Muhammadiyah —  pendidikan —  patut pula kita tanyakan: apakah sekolah-sekolah dan kampus-kampus Muhammadiyah sudah merdeka menentukan sistem dan kurikulumnya sendiri?

Ki Hajar Dewantara yang mengikuti jejak Kyai Dahlan – terjun dalam bidang pendidikan — pada tahun 1922 mendirikan Perguruan Taman Siswa. Ketika itu, Ki Hajar mengingatkan: “Pendidikan yang selama ini diterima orang Indonesia dari Barat jauh dari kebal terhadap pengaruh-pengaruh politik kolonial; singkatnya, ialah pendidikan yang ada hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial; dan ini sifatnya tetap semenjak zaman VOC meskipun di bawah politik etika. Tetapi anehnya, banyak priyayi atau kaum bangsawan yang senang dan menerima model pendidikan seperti ini dan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah yang hanya mengembangkan intelektual dan fisik dan semata-mata hanya memberikan surat ijazah yang hanya memungkinkan mereka menjadi buruh.”

*****

Kyai Dahlan adalah seorang sosok idealis yang memiliki kepribadian dan kemampuan komunikasi hebat.  Bung Karno mengaku, saat masih berumur 15 tahun, ia sudah terpesona dengan ceramah Kyai Dahlan. Bahkan, sejak itu, Bung Karno “ngintil” Kyai Dahlan.         “Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil (mengikuti. Pen.) kepadanya, tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah; tahun ’62 ini saya berkata, moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhaanahu wa-Ta’ala, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya,” begitu pidato Bung Karno pada Muktamar Muhammadiyah di Jakarta, 25 November 1962.

Solichin Salam, dalam bukunya, K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia (1963), mendokumentasikan sosok Kyai Dahlan.   “Kebesaran Kyai Dahlan tidaklah terletak pada luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, melainkan terletak pada kebesaran jiwanya, kebesaran pribadinya,” tulis Solichin Salam.

Kyai Dahlan memberikan teladan yang hebat dalam perjuangan. Beliau melakukan kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Meskipun dalam kondisi sakit, beliau tidak menuruti nasehat para dokter untuk berhenti berjuang. Beberapa kali, usaha murid-muridnya untuk membujuknya beristirahat gagal.

Maka, suatu saat,  dimintalah Nyai Dahlan menasehati Sang Suami.

“Istirahat dulu, Kyai!” saran sang istri.

“Mengapa saya akan istirahat?” tanya Kyai Dahlan.

“Kyai sakit, istirahatlah dulu, menunggu sembuh,” kata Nyai Dahlan lagi.

“Ajaib,” kata Kyai Dahlan, “Orang di kiri kananku menyuruh aku berhenti beramal, tidak saya pedulikan. Tetapi sekarang kau sendiri pun ikut pula.”

Dengan meneteskan air mata, istrinya berucap, “Saya bukan menghalangi Kyai beramal, tetapi mengharap kesehatan Kyai, karena dengan kesehatan itulah Kyai dapat bekerja lebih giat di belakang hari.”

Kyai Dahlan pun menenangkan istrinya; menjelaskan latar belakang perjuangannya. “Saya mesti bekerja keras, untuk meletakkan batu pertama dari pada amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan atau pun saya hentikan, lantaran sakitku ini, maka tidak ada orang yang akan sanggup meletakkan dasar itu. Saya sudah merasa, bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Maka jika saya kerjakan selekas mungkin, maka yang tinggal sedikit itu, mudahlah yang di bekalang nanti untuk menyempurnakannya.”

Kira-kira seminggu sebelum wafatnya, Kyai Dahlan berpesan kepada murid-muridnya, “Aku tak lara ya, kowe kabeh temandanga!” (Saya mau sakit, bekerjalah kalian semua!”). Dan pada 23 Februari 1923, Kyai Dahlan dipanggil Allah SWT.  Benar, beliau telah meletakkan landasan yang kuat dalam perjuangan.

Begitulah Kyai Ahmad Dahlan mendidik kita dalam perjuangan! Kita dididik memahami hidup; paham arti cinta dan ikhlas dalam perjuangan dan pengorbanan; juga bagaimana menjadi guru sejati, guru pejuang!

Sebelum wafat, Kyai Dahlan sempat menitipkan pesan: “Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?”

Semoga amanah perjuangan Kyai Ahmad Dahlan bisa kita tunaikan! Amin.

Depok, 1 Agustus 2020

*penulis pengasuh Pesantren At-Taqwa, Depok, www.attaqwa.ccom

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini