Ini Kiat Rifdah Menjaga Hafalan Qurannya

JAKARTA – EKSPLORE (4/4/2018) – Nama Rifdah Farnidah, gadis 22 tahun ini tentu jauh lebih harum namanya dibanding Sukmawati Soekarnoputri, nenek berumur 66 tahun. Dalam beberapa hari ini, keduanya moncer. Namun, Rifdah terhormat karena berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Dia berhasil menyabet juara 2 Musabaqah Hifdzil Alquran (MHQ) Internasional Tahun 2018 di Jordania, pada 19-24 Maret lalu. Dan satu-satunya yang berasal dari luar kawasan Timur Tengah.

Sebaliknya nama Sukma mencuat karena dihujat akibat membandingkan keindahan tusuk konde dari pada cadar seorang muslimah. Sukma juga menganggap lebih indah suara kidung seorang ibu dibandingkan lantunan azan yang tak lain adalah panggilan Tuhan kepada hambanya. Lontaran itu termuat dalam puisi yang berjudul Ibu Indonesia yang dibacakan saat pembukaan Indonesia Fashion Week 2018, 28 Maret 2018 lalu. Orang-orang mendoakan semoga Sukma sadar dan mau bersujud di hamparan sajadah dan mau belajar tentang syariat Islam.

Kembali ke Rifdah yang mampu menghafal Alquran hingga 30 juz. Bacaan kitab suci itu berhasil dihafalkan dalam tempo 7 tahun lamanya sejak umur 10 tahun, dan selesai saat tamat di madrasah Aliyah yang setara dengan SMA. “Tahap pertama saya menghafal  satu halaman dahulu, setiap ayatnya dihafal berulang-ulang hingga hafal betul, biasanya 1 hari dapat lima halaman Alquran,” tutur Rifdah yang kini tercatat sebagai mahasiswa Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta ini.

Menurut gadis kelahiran Sumedang ini, waktu yang baik untuk menghafal adalah usai salat tahajud maupun setelah salat subuh. Lalu bagaimana menjaga hafalannya, Rifdah mengungkapkan, setiap hari minimal lima juz. “Saya biasanya tidak berurutan, misal setelah salat Subuh mengulang hafalan (murojaah) juz 1, setelah zuhur juz 11, dan setelah maghrib juz 21,” katanya.

Mengapa tidak berurutan, menurut dia, agar supaya tidak ada kecemburuan antara juz satu dengan juz lainnya. ‘’Itu metoda menghafal yang saya lakukan,” tutur Rifdah yang lahir pada 3 Juni 1995. Hidup Rifdah memang banyak diberi kemudahan. Hidup di lingkungan pesantren, yaitu di Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sumedang yang diasuh kakeknya KH M Aliyuddin.

Rifdah pun diikutan dalam berbagai ajang musabaqah, baik tilawatil maupun hifdzil Quran.(MTQ dan MHQ). Pada 2010 juara 1 MHQ 5 Juz pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional. Juara 1 MHQ 10 juz pada MTQ Nasional di NTB pada 2016. Terakhir, 2017 menyabet juara 1 MHQ 30 juz di Tarakan, Kalimantan Utara.

Dia sendiri mengaku prihatin betapa banyaknya generasi muda seusianya sudah terkontaminasi jiwanya oleh gadget dan media sosial, juga pergaulan bebas, jauh dari Alquran. Berpacaran, menurut dia, mempersulit upayanya untuk menghafal Quran.

“Mudah-mudahan selanjutnya banyak generasi muda yang menghafal Alquran,” ucapnya. Rifdah pun berpesan kepada sesama generasi muda untuk tetap semangat membaca, menghafal dan mengkaji Alquran. Karena sesungguhnya bagi siapa yang membaca, menghafal, dan mengkaji Alquran akan mendapat syafaat di hari kiamat.

Mutmainah, dosen pembimbingnya di IIQ menambahkan, agar mudah menghafal, perbanyaklah membaca ayat-ayat suci berulang-ulang. Sebaiknya, sebelum menghafal, baca terlebih dahulu ayat-ayat tersebut. Lakukan berulang-ulang hingga 20 kali,  baru kemudian dihafalkan.

Menurut  dia, usia juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi mudahnya menghafal Al-Quran. Sebaiknya, kata Mutmainah, anak sejak bisa berbicara sudah diperkenalkan dan diajarkan untuk menghafal Al-Quran. “Usia mulai anak bisa bicara sampai sekitar 23 tahun adalah usia emas. Dengan pengenalan sejak dini menjadikan lebih mudah untuk menghafal Al-Quran,” katanya.

Namun, bukan berarti jika sudah melebihi usia emas lalu tidak bisa lagi menghafal Al-Quran. Rasul kita saja baru mempelajari Al-Quran saat umur 43 tahun kan. Karena saat itu wahyu baru diturunkan kepada beliau. Diakuinya, sekarang ada saja yang mempelajari Al-Quran untuk kebutuhan perlombaan semata, atau mengejar pujian semata. “Niatkan mempelajari Al-Quran memang lillahi ta’ala, karena Allah SWT semata,” kata Mutmainah.

Tak ingin kehilangan momen, Gubernur DKI Jakarta Anies R Baswedan pun mengundang Rifdah ke Balai Kota, pecan lalu (29/3/2018), bersama kedua orang tuanya pasangan  Muhammad Kadris dan Ai Faridah dan dosen pembimbingnya Mutmainah. Tamu Gubernur DKI Sheikh Khalid Al Hamoudi, seorang ulama dari Mekkah bahkan memberi hadiah buat Rifdah, yaitu undangan ibadah haji bersama kedua orang tua, dan ibu dosen.

“Perkenankan saya sampaikan hadiah kepada Rifdah. Kami akan sepenuhnya fasilitasi Rifdah bersama kedua orangtuanya, juga ibu dosen pembimbing Rifdah beserta suaminya, untuk diberangkatkan ibadah haji.Saya akan tunggu dan sambut di Mekkah, di mana Rifdah dan rombongan akan menjadi tamu Allah, dan tamu kehormatan di mata saya,” kata Khalid. (a5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat