Angka Rasio Gini 0,39 Dipertanyakan Rasionalnya

JAKARTA- EKSPLORE (15/4/2018) – Benarkah rasio gini yang ada selama ini itu 0,39 ? Darimanakah angka itu diperolehnya? Pertanyaan inilah yang disampaikan oleh Mukhaer Pakkanna, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan  (STIEAD) Jakarta kepada EKSPLORE dalam keterangannya, Ahad ( 15/4/2018) di Jakarta.
Menurutnya, rasio gini yg hanya 0,39 sejatinya itu “ngibul”, karena hanya menghitung aspek pengeluaran, bukan aspek pendapatan dan penguasaan aset – aset  yang lain. “Saya agak yakin rasionya 0,75,” tandasnya dengan serius.
Dia memaparkan, dari data yang kini dikelola oleh Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Jakarta, menunjukkan bahwa  dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)  per Januari 2018, dari sekitar 246 juta rekening di perbankan, 98,1% dimiliki nasabah yang simpanannya di bawah Rp100 juta. Komposisi dana simpanan ini hanya 14.1% dari total simpanan perbankan. Dari perspektif ini bisa dibandingkan, jika kelas terkaya yang hanya 1,9%  jumlah nasabahnya, justru menguasai 85,9 persen dari total simpanan. Apabila itu  diratakan simpanan di bawah Rp100 juta, ternyata mereka memiliki simpanan di bawah Rp3,1 juta. Sementara kelompok kaya di atas  Rp100 juta, terutama yang di atas Rp5 milyar simpanannya, ternyata diratakan memiliki Rp27,7 miliar. Ini ada kontras luar biasa antara Rp3,1 juta dan Rp27,7 miliar.
Kekontrasan, lanjut Mukhaer,   belum menghitung jumlah aset tetap dan bergerak yang dimiliki oleh lapisan atas, terutama aset lahan, properti, dan simpanan (investasi) dalam bentuk lain (saham, obligasi, dll).
Dari perspektif ini, maka tidak mengherankan, pasca krisis global 2008, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia terus terdongkrak dari US$20,6 milyar (2008) menjadi US$119 miyar (2017). Demikian pula konsentrasi sumberdaya materi meterial power index (MPI) juga menganga lebar dalam rentang 10 tahun. MPI-40  artinya, membandingkan rerata kekayaan 40 orang terkaya dengan rerata pendapatan per kapita.  Pada 2008, MPI-40 hanya 1:1 juta maka pada 2017, MPI-40 menjadi 1:8 juta. Ini mengirim pesan, 1 orang terkaya kekayaannya berbanding 8 juta orang. Maka, saya agak yakin, 4 orang paling kaya dari 40 orang terkaya ekuivalen kekayaannya sama dengan 100 juta orang.
Melihat data – data tersebut, Mukhaer yang juga wakil ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammdiyah, menyimpulkan, mengapa ketimpangan ini makin menganga lebar. Boleh jadi dipicu, pertama, liberalisasi kontestasi politik. Dia menduga, liberalisasi politik hanya memproduksi kebijakan ekonomi yang makin memuluskan pemilik modal raksasa. Hampir pasti, pemilik modal raksasa inilah yang sesungguhnya menyuplai kebutuhan material para kontestasi politik. ”Mereka melakukan perselingkuhan yang makin dahsyat, terutama pada lingkaran elite politik, apapun partainya,” katanya.
Kedua,  geliat dunia perbankan, apapun mereknya, business as usual, yakni mengawetkan ketimpangan. Tidak ada industri perbankan yang mau rugi, bank bukanlah usaha biasa tapi semacam drakula yang hanya menghisap kekayaan, apalagi setelah bank-bank asing bebas masuk menguasai 99% saham perbankan nasional. Sepanjang masyarakat masih bertransaksi dengan perbankan, jangan harap ketimpangan pendapatan dan aset akan mengecil.
Melihat realitas ini, umat Islam harus waspada dan aktif menggerakkan ekonomi umat dengan cara membangun instrumen-instrumen zakat, infak, shodaqah (ZIS), menghidupkan baitul maal, koperasi rakyat, optimalisasi waqaf, hingga Sukuk, yang bisa menggerakkan pemerataan dan menyapa rakyat. ” Saya yakin inilah cara agar umat tidak tergerus dengan adanya ketimpangan,”kata Mukhaer. (y/b6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat