Gubernur BI Sikapi Perkembangan Nilai Tukar Dunia

WASHINGTON DC -EKSPLORE (24/4/2018) Gubernur Bank Indonesia (BI)  Agus D.W. Martowardojo, dalam siaran  langsung dari Washington DC, AS terkait dengan perkembangan nilai tukar di berbagai negara terhadap dolar AS beberapa hari ini, mengatakan, mata uang AS (USD), yang pada hari Jumat kemarin menguat tajam terhadap semua mata uang dunia, termasuk rupiah, pada hari Senin ini kembali mengalami penguatan secara meluas (broadbased). Sama seperti yang terjadi di hari Jumat, penguatan USD di hari ini masih dipicu oleh meningkatnya yield US treasury bills mendekati level psikologis 3,0% dan munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari 3 kali selama 2018.

Kenaikan yield dan suku bunga di AS itu sendiri, kata Gubernur BI,  dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS seiring berbagai data ekonomi AS yang terus membaik dan tensi perang dagang antara AS dan China yang berlangsung selama th 2018 ini .

Sejalan dengan itu, pada hari Senin kemarin semua mata uang negara maju kembali melemah terhadap USD, antara lain JPY -0,25%, CHF -0,27%, SGD -0,35%, dan EUR -0,31%. Dalam periode yang sama, mayoritas mata uang negara emerging market, termasuk Indonesia, juga melemah.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah (IDR) sesuai fundamentalnya, BI  telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar. Dengan upaya tsb, IDR yg pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar -0,70%, pada hari Senin ini hanya melemah  -0,12%, lebih rendah daripada depresiasi yg terjadi pada mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya, seperti PHP -0,32%, India INR -0,56%, Thai THB -0,57%, MXN -0,89%, dan Afrika Selatan ZAR -1,06%.

Gambaran serupa diungkapkan oleh Agus,  juga tampak dalam periode waktu yang lebih panjang. Dengan dukungan upaya stabilisasi oleh BI, sejak awal April (mtd), IDR melemah -0,91%, lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain, seperti THB -1,04%, INR -1,96%, MXN -2,76%, ZAR -3,30%. Demikian pula, sejak awal tahun 2018 (ytd) IDR melemah -2,35%, juga lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain seperti BRL -3,06%, INR -3,92%, PHP -4,46%, dan TRY -7,17%.

Terkait dengan itu BI akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah, baik yg dipicu oleh gejolak global (dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-China, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar SBN dan saham Infonesia) maupun yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik (terkait kebutuhan pembayaran impor, ULN, dan dividen yang biasanya cenderung meningkat pada triwulan II). “Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya. Terimakasih,” terangnya. (a1/b)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat