Di Era Industri 4.0, Generasi Milenial Baiknya Berkoperasi

Di Era Industri 4.0, Generasi Milenial Baiknya Berkoperasi

BOGOR – EKSPLORE (25/5/2018) – Koperasi kini juga tidak mau ketinggalan zaman di era milenial yang didominasi serba digital. Itu sebabnya, di zaman now saat ini, kalangan generasi muda baiknya harus ikut berkoperasi. Apalagi sekarang motto Gerakan Koperasi Nasional adalah ‘tiada hari tanpa IT bagi gerakan koperasi’.

“Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan bersama bagi Gerakan Koperasi di era milenium. Bagaimana agar anak-anak muda jaman sekarang lebih tertarik berkoperasi daripada menjadi pekerja kantoran atau pegawai negeri yang masuk ‘jaman angkatan bapak saya’,” kata Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi. Hal itu diungkapkan dalam diskusi bertema ‘Koperasi Era Industri 4.0/Rebranding Koperasi’, di Bogor, Rabu (25/4/2018).

Saat ini, jumlah koperasi di Indonesia mencapai 150.000 unit dengan jumlah anggota mencapai 35 juta orang. Di era serba digital saat ini, kata Zabadi, seharusnya dapat mendorong koperasi berbasis teknologi.

Diskusi yang dipandu  Kabag Koordinasi Penyusunan Peraturan Perundangan-undangan Hendra Saragih, ini juga menghadirkan Asisten Deputi Keanggotaan Koperasi Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Untung Tri Basuki,  Ketua Umum Asosiasi Start Up Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono, dan maupun Pelaksana Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Agung Sudjatmoko, maupun sejumlah  koperasi yang sudah menerapkan aplikasi teknologi.

Zabadi menambahkan, Koperasi 4.0 memang lebih menyasar generasi milenial. Terlebih para start up (wirausaha pemula) lebih didominasi kalangan anak muda yang lebih melek teknologi. Karenanya, diharapkan para generasi Y ini juga mampu mengajak anak muda lainnya untuk ikut berkoperasi.

Sementar itu, Untung Tri Basuki mengatakan, sebenarnya Menteri Koperasi sejak menjabat pada 2014 sudah minta agar koperasi harus digitalisasi, mengikuti perkembangan teknologi. Karena dari segi regulasi perkoperasian pun tidak ada masalah.

Menurut Untung, penggunaan teknologi digital bagi pelaku usaha koperasi akan memberi keuntungan. Di antaranya, bisa sebagai sumber pendapatan dari layanan jasa yang diperoleh jika koperasi menyediakan layanan transaksi anggota seperti untuk mengisi pulsa seluler, pembayaran PAM, listrik, dan lain-lain.

“Termasuk untuk membayar simpanan pokok dan wajib yang bisa dilakukan anggota dengan mengetikkan ujung-ujung jari di atas keyboard laptop atau ponsel. Dengan cara ini, anggota tidak perlu repot-repot datang ke kantor koperasi yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal, terutama untuk koperasi yang berada di luar Jawa,” katanya.

Usaha juga bisa dikendalikan dari rumah atau ruang pribadi asalkan tersedia jaringan internet yang bagus. Koperasi bisa mengambil peran dengan menyediakan market place untuk transaksi antaranggota.

Dia menambahkan, dalam Permenkop No. 2 tahun 2017 membolehkan digitalisasi koperasi. Karenanya, mindset kepengurusan koperasi juga harus diubah seiring perkembangan teknologi. Tidak lagi hanya ketua, sekretaris dan bendahara. Kepengurusan seperti ini yang membuat koperasi menjadi kurang maksimal.

Karena itu, kata dia, sangat mendesak melakukan pemberdayaan anggota koperasi dalam bentuk peningkatan jiwa kewirausahaan, pelatihan pemanfaatan teknologi informasi, sistem manajemen dan pengelolaan yang efektif, membangun jaringan bisnis, pengelolaan struktur organisasi, dan pelatihan lainnya. “SDM yang berkualitas tentunya menjadi modal utama membangun kondisi internal yang baik serta mampu menjadikan koperasi lebih sehat, mandiri dan tentunya berkualitas,” ujarnya.

Nantinya koperasi akan membuat jaringan networking koperasi modern dengan menerapkan sistem digitalisasi untuk mengembangkan jaringan e-commerce sehingga lebih efisien dan memudahkan masyarakat. Menurut Untung lagi, proses adaptasi koperasi dengan perkembangan IT akan memperluas ruang gerak koperasi yang selama ini belum memiliki jaringan konektivitas seluas perbankan.

Narasumber diskusi lainnya, Handito Joewono menambahkan, Revolusi Industri 4.0 atau Koperasi dan UKM 4.0  sangat relevan di jaman sekarang ini. Penerapan teknologi dapat menarik anak-anak muda untuk ikut berkoperasi. Jadi ada semacam Gerakan Koperasi 4.0 yang sangat efektif mengembangkan koperasi menjadi lebih baik.

“Tidak perlu khawatir dengan penerapan Koperasi 4.0. Jika pada koperasi konvensional pertemuan harus secara fisik dan tanda tangan basah, maka pada koperasi jaman digital pertemuan bisa dilakukan secara online dengan tanda tangan digital. Kan sekarang sudah banyak juga yang melakukan cara seperti itu,” ujarnya.

Menurut Handito, minat anak muda untuk menjadi pegawai kantoran mulai menurun. Sementara, keinginan masyarakat untuk berkoperasi meningkatkan. Kondisi ini bisa menjadi peluang bagaimana menghidupkan koperasi di generasi milenial.

Revolusi Industri 4.0 atau Koperasi 4.0 yang dihadapi saat ini sudah masuk dalam era serba internet. Karena itu, semua pihak — pemerintah, pengusaha, koperasi, pekerja, harus siap dalam menghadapi perubahan yang sedang terjadi saat ini. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *