Inilah Mudahnya Mengakses Permodalan dari LPDB

JAKARTA – EKSPLORE (27/4/2018) – Koperasi kopi di Jambi belum genap berumur dua tahun. Itu sebabnya tak bisa mengakses permodalan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM), karena, syaratnya usaha harus sudah eksis selama dua tahun. Padahal, Dirut LPDB Braman Setyo sudah mensosialisasikan mudahnya mengakses dana bergulir LPDB hingga Jambi belum lama ini.

‘’Karena belum genap dua tahun, ya kami mensiasati menjadi binaan Koperasi Mitra Malabar di Jawa Barat yang sudah  tua,’’kata Rina Safitri, pemilik Rumah Kreatif Ne’No, Jambi. Dengan cara itu, Ne’No dan ratusan pengusaha kopi di Jambi bisa mengakses sumber pembiayaan yang berada di bawah Kementerian Koperasi dan UKM tersebut.

Menurut Rina, di Jambi sekurangnya terdapat 2 ribuan UMKM. Jika masing-masing mengajukan modal usaha Rp 10 juta, LPDB bisa menyalurkan dana pinjamannya di Jambi hingga Rp 40 miliar. Selain mencoba mengakses dana bergulir dari LPDB, Rina dan rekann-rekannya juga mencoba memanfaatkan program wirausaha pemula yang diadakan Kementerian Koperasi dan UKM maupun Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Hal itu diungkapkan Rina dalam diskusi bertajuk ‘Potensi Pembiayaan LPDB-KUMKM ke Sektor Usaha Pengolahan Kopi Asli Indonesia’ di Gedung LPDB-KUMKM di Jakarta, Kamis (26/4/2018) petang.  Selain Rina, diskusi juga menghadirkan narasumber Dirut LPDB Braman Setyo, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Agus Rizal. Hadir pula Komunitas Kopi Nusantara.

Saat angkat bicara, Agus Rizal pun mengungkapkan, selama ini andalan pembiayaan bagi para pengusaha kopi di wilayahnya adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi. Dia bangga, kopi Jambi termasuk juaranya kopi nusantara, utamanya jenis arabika.

Fahrizal Rusdi dari Kelompok Tani Kopi Arabica Kerinci, menambahkan dia dan kelompoknya butuh dukungan pembiayaan bagi pengembangan usaha kopi mereka. Dia senang, dana dari LPDB bunganya ringan, yaitu 7%. Itu sebabnya dia dan rekan-rekannya membentuk wadah koperasi agar mudah mengakses LPDB.

Ketua Komunitas Barizta Kerinci Iskandar menimpali, modal usaha diperlukan agar mereka bisa memenuhi permintaan ekspor yang besar. Apalagi kopi arabika dari Kerinci ini berhasil meraih medali dalam kontes kopi di Australia belum lama ini.

Menjawab itu semua, Braman pun mengungkapkan, bantuan perkuatan modal usaha bagi UMKM Kopi ini diharapkan bisa meningkatkan nilai ekspor kopi Indonesia. Menurut dia, berdasarkan data LPDB, Indonesia menempati posisi ke-4 dari 10 negara penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Namun nilai ekspor kopi kita masih rendah.

“Makanya saya mengundang dinas untuk mendorong pemerintah daerah mengajukan pelaku usaha kopi dari tempatnya masing-masing,” kata Braman. Jambi, kata dia, akan dipilih menjadi salah satu proyek percontohannya. Apalagi, kini kopi Jambi sudah banyak diekspor ke luar negeri termasuk Australia dan Amerika Serikat (AS).

Dari data menunjukkan, AS menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor kopi Indonesia dengan nilai US$ 281,15 juta, disusul Jepang, dengan nilai US$ 104,96 juta. Lalu, Jerman US$ 88,4 juta, Itali US$ 84 juta, dan Malaysia US$ 70,8 juta.

Braman pun meminta Dinas Koperasi dan UMKM setempat untuk mensosialisasikan cara mengakses pinjaman dari LPDB-KUMKM. Pelaku usaha kopi juga berkoordinasi dengan Dinas Koperasi atau membentuk wadah agar mudah mengakses pembiayaan LPDB-KUMKM

Menjawab pertanyaan Eksplore soal kemudahan mengakses modal LPDB, termasuk lamanya masa pengembalian kredit, Braman menjelaskan, pihaknya fleksibel dalam hal masa tenggang pengembalian (grace priod). Sebab, kenyataannya, petani tidak bisa mengangsur pinjamannya pada bulan berikutnya setelah memperoleh dana. Yaitu saat masa tanam hingga masa panen.

“Kami fleksibel, tidak kaku, bisa 6 bulan, 8 bulan, tergantung dalam akad atau perjanjiannya,’’ kata Braman, mantan Deputi Pembiayaan Kemenkop dan UKM ini. Dia menjelaskan, pada 2018 ini, LPDB akan menfokuskan penyaluran dana bergulir untuk sektor riil khususnya pertanian.

LPDB menargetkan bisa menyalurkan dana bergulir hingga Rp 1,2 triliun. Dana tersebut dialokasikan sebesar Rp 120 miliar untuk koperasi simpan pinjam, Rp 480 miliar untuk sektor riil, Rp 360 miliar untuk UMKM. Selebihnya disalurkan melalui bank maupun lembaga keuangan non bank. (b4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *