Pelatihan Digital Marketing PIBI Ikopin: Indonesia Jangan Gaptek

BANDUNG – EKSPLORE (29/5/2018) – Indonesia diharapkan tidak menjadi negara yang gagap teknologi, khususnya teknologi informasi dan digital. Sebab, era digital memberikan dampak perubahan yang sangat berarti dalam kehidupan khususnya dunia bisnis.

Karena itu, siapapun harus menyadari, mengenal dan memahami agar khususnya para pengusaha dapat memanfaatkan sebagai peluang untuk berkembang dan memenangkan persaingan. Hal itu diungkapkan Haryo Ardito, praktisi digital marketing.
“Melalui kegiatan-kegiatan seminar/workshop Digital Marketing yg disampaikan secara offline/online kami punya visi Indonesia bebas gaptek dan Indonesia makin cerdas teknologi,” tutur Haryo yang juga founder Digital Marketing Community (DMC), kepada Eksplore usai memandu Pelatihan Digital Marketing Bagi Pengusaha Start Up.
Acara itu diadakan Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBI) Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) bekerjasama dengan para start up yang tergabung dalam Digital Youthpreneur pada Sabtu ,(28/4/2018) di Gedung Ikopin Training Center (ITC) di Bandung.

Acara itu merupakan kali kedua kerjasama keduanya. Kegiatan yang pertama adalah Seminar Digital Marketing Bagi Pengusaha Start Up dengan tema Cara Promosi dan Menjual Secara Online) pada awal Januari 2018 yang lalu.

Peserta pelatihan dibatasi hanya 50 orang. Pelaksanaannya berbentuk workshop, agar peserta dapat langsung mempraktekannya selama kegiatan berlangsung”, kata Direktur PIBI Ikopin Indra Fahmi.

Indra menjelaskan, workshop ini dipandu instrukur Haryo Ardito, seorang praktisi Digital Marketing dengan materi Facebook Ads, Instagram Ads, SEO & SEM, Google Ad words, E-Mail Marketing, dan Optimalisasi Webiste. “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya PIBI untuk meningkatkan kompetensi para pelaku usaha (Start Up) khususnya kompetensi marketing. Dalam penerapan strategi pemasaran produknya, kita senantiasa dihadapkan pada empat hal klasik, yaitu belum memahami perbedaan antara pemasaran (marketing) dan penjualan (sales). Kedua, sering mengandalkan harga murah sebagai strategi bersaing. Ketiga, belum memahami konsep service. Keempat, belum membangun positioning and differentiation”, papar Indra.

Menurut Indra, beberapa pengusaha Start-Up ada yang tidak menyadari bahwa ada kompetitor yang menawarkan manfaat produk/jasa sejenis yang relatif sama. Ada juga yang sudah menyadari hal ini, tetapi mereka pasrah dengan keadaan tersebut, kemudian terjebak dalam perang harga (price war). “Yang harus dilakukan pada kondisi saat ini adalah mempertajam differentiation dari manfaat yang ditawarkan, supaya berbeda dengan para kompetitor”, kata Indra.

Tujuan besarnya, lanjut Indra, adalah supaya dapat memiliki positioning di pikiran dan hati konsumen. Jika sudah melakukannya maka konsumen sudah punya opsi untuk kembali kepada brand produk tersebut. Sekaligus menjadi brand endorser yang mengkomunikasikan brand tersebut kepada keluarga atau kolega mereka. “Salah satu peluang untuk meningkatkan upaya tersebut adalah dengan membidik masyarakat pengguna internet,” kata Indra lagi.

Dia menjelaskan, jumlah pengguna internet di Indonesia sekitar 132 juta orang. Sebanyak 40% diantaranya adalah penggila media sosial atau 106 juta orang. Penggila internet tersebut, 85% di antaranya mengakses media melalui perangkat seluler.

Beberapa kelebihan penggunaan internet dalam implementasi bisnis adalah konsumen lebih aktif mencari apa yang diinginkannya dengan menggunakan media online, konsumen dapat mengakses berbagai informas dengan lebih mudah, pemasar dapat menawarkan lebih banyak produk dan jasa. “Dan juga pemasar dapat mengumpulkan informasi mengenai konsumennya dengan lebih cepat dan mudah,” tutur Indra. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat