Kepala Pustanas: Kurikulum dan Sistem Akademik Kita Menyesatkan

JAKARTA – EKSPLORE (17/7/2018) – Kurikulum dan sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia dinilai menyesatkan dan justru merusak kualitas intelektual generasi muda kita. Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Nasional (Pustanas) Iskandarsyah Siregar. “Kurikulum dan sistem akademik kita di Indonesia menyesatkan dan bahkan terindikasi merusak kualitas intelektual generasi muda kita,” kata Iskandar Siregar di kampus Unas, Jakarta (17/7/2018).

Iskandar pun menyontohkan, seorang siswa harus menghapal ratusan teori. Mereka disibukkan mengumpulkan data tanpa sempat memahaminya. Pola transfer knowledge seperti ini membuat anak dipaksa tahu banyak teori tanpa bisa mengaplikasikannya. “Mereka tidak pernah jadi ahli, tapi hanya sampai di level medioker di banyak disiplin,” kata dosen mata kuliah Linguistik, Enterpreneurship, Pancasila, dan Ketahanan Nasional ini.

Dari hasil kajian dan analisisnya, Anggi, sapaan Iskandar, menyimpulkan bahwa kurikilum dan sistem pendidikan kita telah membuat orang Indonesia kerap gagal bersaing dengan ahli dari negara lain. “Hal ini berbahaya bagi masa depan generasi muda serta bangsa dan negara kita,” tuturnya.

Anggi pun membandingkan kondisinya dengan pendidikan di luar negeri. Di luar sana seorang ahli nuklir tidak pernah dipaksa lulus TOEFL. Seorang ekonom atau bussiness talent juga kerap kali tidak berkeras memahami matematika, karena mereka bisa beli kalkulator. Beda dengan di Indonesia. Seorang mahasiswa Etnomusikologi harus lulus TOEFL jika mau maju sidang tesisnya. Begitupun yang harus dihadapi siswa SMA dalam ujian akhir. “Begitu banyak hapalan dan teori dari begitu banyak mata pelajaran yang harus mereka kuasai. Tapi fokus pengembangan potensinya di mana? Habis energi untuk banyak hal yang belum tentu terpakai oleh mereka,” ujarnya.

Iskandarsyah menyarankan agar segera dibentuk sebuah sistem yang memfokuskan generasi bangsa ini untuk menjadi ahli. Caranya adalah dengan tidak membebani sesorang talenta dengan begitu banyak persoalan.

“Jangan sampai kerepotan dalam mengurus administrasi membuat seorang dosen jadi lelah dalam mengajar, meneliti, dan mengabdi di masyarakat. Harus ada sistem yang memudahkan mereka dalam menjalankan kewajibannya. Begitupun untuk level siswa dan mahasiswa. Harus ada pembinaan dan pelatihan khusus yang komprehensif mulai dari pengamatan potensi hingga penjurusan bakat, yang meningkatkan potensi setiap lulusan sudah berada dalam track potensi dan karirnya,” kata dosen yang juga mengajar di Lomonosov Moscow State University dan University Of Guangxy ini. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat