Begraf Genjot Produksi Game Lokal Kualitas Global

JAKARTA – EKSPLORE (19/7/2018) – Saat ini pasar game Indonesia berada di peringkat 16 dunia. Pada 2017 lalu, market size game Indonesia mencapai US$ 880 juta. Kendati demikian, peranan game developer Indonesia baru mencapai 5%.

Inilah challenge (tantangan) kita bersama. Karena itu Bekraf sangat berkomitmen untuk membantu game developer dan publisher lokal agar bisa menaikkan market share untuk game developer lokal menjadi 10%,” tutur Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Santosa Sungkari. pada acara Bekraf Game Prime (BGP) 2018 di Jakarta belum lama ini.

Hajatan BGP 2018 meliputi seminar dan pameran game. Seminar menghadirkan narasumber antara lain; Kepala Bekraf Triawan Munaf, Hari Sungkari (Deputi Infrastruktur Bekraf), Robbi Baskoro (Founder Duniaku, Deputi Riset dan Regulasi AGI), Narenda Wicaksono (Founder Dicoding, Ketua AGI),    Arief Widhiyasa (CEO Agate Studio, AGI), Adam Ardisasmita (CEO Arsanesia), Elizabeth Galuh K (Concept Artist, Streamline Studio), Ian Purnomo (Public Relations and Developer Relations at Sony Interactive Entertainment Singapore), Langer Lee (Strategy Director of Global Business Division XFLAG),  Justin Ng (Managing Director, Gattai Games) dan Wan Hazmer (Founder Metronomix, Game Designer for Final Fantasy).

Acara itu, kata Hari, merupakan intervensi pemerintah untuk mengakselerasi pengembangan industri game di Tanah Air. Selain untuk meningkatkan kualitas game lokal dan berjejaring untuk menuju pasar global, kata Hari, BGP juga diharapkan bisa meningkatkan animo masyarakat luas terhadap game asli buatan anak negeri di tengah gempuran game asing yang menguasai pasar Indonesia.

Begraf berharap, BGP dapat memberikan kesempatan kepada developer lokal untuk go international dengan kualitas game berkelas. Forum itu diharapkan dapat terbangun networking maupun transaksi antar investor atau perusahan besar di industri game ini. BGP 2018 diikuti para developer game lokal Indonesia dalam berbagai device (Mobile, VR, Board Game, PC, Console), publisher game lokal, investor industri game, media, akademisi, mahasiswa dan peminat industri game yang merupakan cikal bakal penerus developer game Indonesia.

Pada kesempatan itu Hari dinobatkan sebagai Game Industry Icon of the Year. Para penilainya antara lain Audi Eka Prasetyo (IDEA Network), Wan Hazmer (Metronomik), Founder (Jepang), Ian Gregory (Witching Hour Studio), Co-Founder (Singapura), Ian Purnomo (Sony interactive ent.), Justin Ng (Gattai Games, Managing Director – Singapura), Risky Maulana (Tech in Asia, Senior Writer – Indonesia), dan Fakry Naras W. (Kotak Game, Editor in Chief,  Indonesia).

“Dukungan beliau mulai dari memberikan kesempatan kepada developer game lokal untuk unjuk gigi pada konferensi game internasional hingga menggelar Bekraf Game Prime 2018 ini sendiri sudah terbukti berbuah manis kepada perkembangan industri game Indonesia,” ujar Audi Eka Prasetyo.

Selain Hari, penghargaan juga diberikan kepada tujuh pelaku game nasional. Most Innovative Gameplay diberikan kepada King’s Play – Mintsphere, Most Promising Game diberikan kepada Forged of Blood – Critical Forge, Best Publisher untuk Toge Productions. Best Tabletop Games buat Candrageni yang diproduksi oleh Penerbit Kompas. Candrageni merupakan permainan yang mengambil setting dinamika politik di masa kerajaan Mataram ini, menyisihkan sejumlah board game lainnya seperti Art of Batik, Kakak Teladan, Aquatico dan Balap Kuliner.

Sedangkan Game of the Year dinobatkan kepada Ultra Space Battle Brawl – Mojiken Studio/Toge Productions. Lalu, Best Booth diberikan kepada Own Games, serta Citizen Choice diberikan kepada RedRain Game Studio. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat