Musim Kutu Loncat Parpol Mirip Transfer Pemain Bola

JAKARTA- EKSPLORE (19/7/2018) – Hari Rabu, 18 Juli 2018 pukul 24:00 adalah daat berakhirnya pendaftaran calon legislatif (caleg) di DPR (pusat), DPRD (provinsi), dan DPRD kota/kabupaten. Semua partai mengirimkan daftar nama calegnya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Yang menarik adalah betapa banyaknya caleg kader partai A berpindah ke partai B atau C, atau D. Yang terbanyak keluar dari sejumlah partai dan bergabung ke Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Sebut saja nama-nama: Sarifuddin Suding (dari Hanura ke PAN), Arif Suditomo (Hanura ke Nasdem), Lucky Hakim (PAN ke Nasdem), Siti Hediati/Titiek Soeharto (Golkar ke Partai Berkarya).

Lalu, Okky Asokawati (PPP ke Nasdem),  Priyo Budi Santosa (Golkar ke Berkarya), Venna Melinda (Demokrat ke Nasdem), Krisna Murti (PKB ke Nasdem), Achmad Dimyati Natakusumah (PPP ke PKS), Yusuf Supendi (PKS ke PDIP). Juga Chris John (Demokrat ke Nasdem).

Ketua Komidi II DPR dari Fraksi Partai Golkar Zainudin Amali mengakui, perpindahan kader partai satu ke partai lainnya menjrlang Pemilihan Umum (Pemillu) 2019 lebih semarak dibanding Pemilu sebelumnya, 2014.

Menurut Amali, maraknya perpindahan kader partai itu berbeda dengan maraknya perpindahan atau transfer pemain sepakbola di klub-klub di sejumlah negara di Eropa. Misalnya, Christian Ronaldo fari Barcelona ke Juventus. Itu dilakukan secara profesional.

“Tetapi karena ini area politik tentu ada variabel-variabel yang menyebabkan kenapa perpindahan itu terjadi,” kata Amali saat berbicara dalam Diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema ‘Bacaleg Lompat Partai, DPR Banjir PAW, Ganggu Kinerja?’ yang diadakan di Media Center, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Kamis (19/7/2018). Selain Amali, diskusi juga menghadirkan anggota Fraksi PDIP DPR Eva Kusuma Sundari.

Amali, ketua DPP Partai Golkar ini,  berpendapat, ada empat hal yang membuat kenapa kader satu partai bisa berpindah. Pertama, tidak begitu kuatnya ikatan ideologis antara kader atau caleg dengan partai awalnya. “Sebab kalau ikatan ideologisnya kuat seberapa pun kondisi partainya, ibarat kata besok partai itu akan akan rubuh atau mati dia  tetap akan bertahan karena satu keyakinan tentang ideologi yang diyakininya sama dengan partai yang ditempatinya,” kata dia.

Kedua, faktor konflik internal di  partai asal. Konflik itu bukan hanya keterbelahan pengurus dan lain sebagainya. Partai Golkar, kata dia, pernah mengalami hal itu di 2014 akhir sampai 2015 dan berakhir di pertengahan 2016.

Hal itu sangat terasa pada saat Pilkada 2015, banyak kader-kader potensial Partai Golkar yang akhirnya meninggalkan partai dan dia menjadi calon kepala daerah dari partai lain. Diyakini, adti yang bersangkutan otomatis ada kontrak dengan partai itu. Misalnya dia harus menjadi kader resmi partai itu.

Konflik di internal partai banyak modusnya. Tidak hanya perpecahan pengurus, tapi juga adanya konflik antara kader dengan pengurus,  maupun konflik antar kader partai. “Itu sering terjadi mrnjadi penyebab kenapa orang berpindah,” katanya.

Ketiga, kelangsungan dari partai itu. Dengan dengan ambang batas 4% orang tentu akan berpikir apakah akan berada di partai itu atau tidak.  Pada periode pemilu  sebelumnya, misal dia mencapai BPP tetapi tidak duduk di Senayan karena partainya tidak lolos threshold. Ini juga bisa menjadi pertimbangan dari yang berpindah. “Saya tidak bilang mau menggunakan istilah loncat ,  berpindahlah,” ujarnya.

Keempat, dengan sistem proporsional terbuka maka kompetisi itu sangat terbuka baik antara caleg -partai maupun di Internal. Kalau ada partai yang kira-kira bisa menyiapkan  atribut, bendera, kaos dan lain sebagainya, tntu juga menjadi pilihan orang. “Dan saya kira itu tidak salah kalau orang akhirnya akan memilih itu,  tetapi itu menjadi variabel terakhir,” tutur mantan sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR ini.

Bagi kader partai yang duduk di DPR dan  pindah ke partai lain,  dia harus mengundurkan diri sebagsi anggota fraksi partai itu.  Selanjutnya, partai akan mengadakan pergantian antarwaktu (PAW). Amali menjelaskan, pengaruh dari pindahnya anggota DPR ke partai lain sangat terasa terutama bagi fraksi yang anggotanya sedikit. Kinerja fraksi di komisi jelas terganggu karena proses PAW tidak bisa serta-merta atau cepat.
Bagaimana dengan kinerja DPR? “Itu akan sangat berpengaruh,  tetapi untuk DPR secara keseluruhan tidak begitu signifikan,” kata dia.

Sementara itu, Eva Kusuma Sundari mengungkapkan, yang paling banyak terjadi perpindahan kader partai itu adalah Golkar. Konflik internal partai memicu berdirinya partai baru. Pecahan Golkar itu bahkan mencapai tujuh partai baru. Yaitu, PKP/PKPI, Partai Gerindra, Partai Nasdem, Partai Hanura, Partai Demokrat, Partai Perindo, dan terakhir Partai Berkarya. Jadi Partai Golkar telah beranak-pinak.

Sedangkan, menurut Eva, PDIP pernah mengalami konflik internal, yaitu saat masih sebagai Partai Demokrasi Indonesia (PDI)  hingga berdirinya PDI Perjuangan. “Jadi sebetulnya PDIP Perjuangan ini dalam kepungan Golkar  yang telah beranak-pinang itu,” tuturnya.

Eva juga menyoroti fenomena pindah ke Partai Nasdem. Menurut dia, sebetulnya parlementary treshold  Nasdem rendah. “Jadi,  harusnya pindahnya ke PDI-P atau ke Golkar. Tetapi ini tidak,” kata anggota partai bertanda gambang si moncong putih itu.

Menurut Eva, alasan migrasi orang partai oleh karena alasan idiologi, sudah tidak relevan.  Yang relevan, kata dia, karena semata-mata kebutuhan  untuk bertahan di dalam politik.

Ditanya soal pengaruhnya terhadap kinerja DPR, Eva mengemukakan, fakta di DPR saat ini adalah rendahnya kehadiran anggota Dewan dalam rapat-rapat. Sudah kuorum saja sudah bagus.

“Itu kuorum di rapat-rapat sudah berat, jadi ditambah dengan migrasi yang luar biasa ini akan bertambah gak bagus, jadi bukan mengganggu tetapi nambah gak bagus kinerjanya,” tutur perempuan berkacamata minus ini.

Dari para pelaku kutu loncat, tetbanyak pindah ke Partai Nasdem. Isunya, partai itu membayar mereka miliaran rupiah agar pindah ke partainya. Lucky Hakim dikabarkan diiming-imingi duit Rp 2 miliar agar mau pindah dari PAN dan masuk Nasdem. Karenanya, Eva berharap pihak Nasdem menjelaskan mengapa banyak orang partai yang hijrah partai yang dipimpin Surya Paloh itu. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat