Smart Car UGM Juara Dunia ini Bisa Gantikan Esemka

Smart Car UGM Juara Dunia ini Bisa Gantikan Esemka

JAKARTA – EKSPLORE (21/7/2018) – Tentu banyak kendala jika Presiden Joko Widodo urung memproklamasikan mobil Esemka menjadi mobil nasional (mobnas). Tiga orang mahasiswa dari UGM telah merancang mobil pintar (smart car) berbahan  bakar plastik dan rendah emisi.

Keberadaannya bahkan sudah diakui dunia karena mobil tersebut berhasil menjadi juara dunia lomba inovasi teknologi dunia “Shell Ideas360”, awal Juli (6/7/2018) di London. Tim UGM itu berhasil  memenangkan dua kategori lomba sekaligus dalam kompetisi bergengsi yang diselenggarakan perusahaan multinasional Shell. Yaitu,  juara Judges Choise dan Audience VoiceVoice  dengan mengusung gagasan mengembangkan mobil pintar yang dapat mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar dan rendah emisi.

Ketiga mahasiswa itu adalah; Herman Amrullah (Teknik Kimia), Sholahuddin Alayyubi (Teknik Kima), dan Thya Laurencia Benedita Araujo (Teknik Kimia). Mereka dibimbing oleh dosennya yaitu Hanifrahmansyah MEng dan Yano Surya Pradana MEng.

Tim Smart Car UGM itu berhasil mengalahkan empat finalis lainnya, yaitu tim tangguh dari American University of Sharjah (UAE), University of Texas at Austin (USA), University of Bordeaux (Perancis) dan University of Melbourne (Australia). Sebelumnya, para finalis itu telah menyisihkan 3.336 mahasiswa dari 140 negara. Dan, tim UGM adalah satu-satunya wakil dari Asia.

“Kalau dilihat dari latar belakang pendidikan kami masih di bawah mereka dan mereka memang lawan yang berat. Karenanya tidak menyangka bisa menang,” kata Herman.

  • “Deg-degan banget. Ternyata kita bisa mengalahkan mereka. Nggak nyangka saja Indonesia bisa menang. Kita saingannya sama University Texas dari Amerika, yang rangking universitasnya tinggi banget,” ungkap Thya menambahkan.

    Inilah Smart Car UGM yang menjadi juara dunia di Shell Ideas360 di London (foto bbc)

Mereka membuat konsep mobil pintar berbahan bakar limbah plastik. Ide awalnya dari kenyataan bahwa Indonesia merupakan produsen sampah plastik terbanyak kedua di dunia setelah Cina.

Meskipun begitu, pengolahan sampah sebagai sumber energi bukanlah hal baru. Terobosan mereka menjadi berbeda, karena tidak lagi membutuhkan energi tambahan untuk mengolah limbah. “Upaya untuk mengonversi limbah kan sudah banyak. Tapi mayoritas menggunakan LPG untuk membakarnya. Nah, kami punya ide dengan mengonversi sampah plastik itu memakai gas buangan knalpot, jadi gratis,” tutur Herman menambahkan.

Dari uji coba yang mereka lakukan, gas buang knalpot mobil yang suhunya bisa melewati 400 derajat Celcius, cukup untuk membakar plastik. Keunggulan lainnya, teknologi yang mereka tawarkan juga memiliki alat penyerap karbon dioksida dari knalpot sehingga polusi pun dapat ditekan. Jika dikonversi, 2kilogram plastik bisa menjadi 2,2 liter BBM. Tentu bukan sembarang plastik yang dipakai, tapi plastik bening dan jenis botol.

Chris Brauer, direktur inovasi dari University of London yang menjadi salah satu juri lomba, menyatakan, kemenangan tim dari Indonesia karena idenya sangat dekat dan relevan. Inovasi ini sangat kuat, karena bisa digunakan langsung oleh orang-orang terdekat mereka.

“Jika diwujudkan, teknologi ini bisa mengubah perilaku kita dan menjaga pemeliharaan lingkungan. Selain itu, dengan teknologinya mereka langsung bisa mencari konsumen, sementara peserta yang lain lebih fokus untuk ke bisnis,” ujar Brauer seperti dikutip BBC.

Herman mengungkapkan, teknologi yang diciptakannya bersama rekan-rekannya ini sangat bisa diaplikasikan di Indonesia.
Terutama di Jakarta, karena sangat banyak mobil. “Dan teknologi yang dibuat memang dikhususkan untuk mobil bermesin agak longgar, misalnya jenis multi-purpose vehicle (MPV) atau  sport utility vehicle (SUV), di Jakarta cukup banyak,” kata Herman.

Mesin agak longgar diperlukan untuk memberikan tempat bagi pengolahan limbah plastik. Mereka berharap energi berbahan bakar limbah plastik ini menjadi salah satu energi yang digunakan di masa depan. “Atau setidaknya dari ide ini, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat soal sampah plastik,” ujarnya.

Sebelum pulang ke Tanah Air, ketiga menikmati pengalaman dan hadiah. Di  antaranya jalan-jalan ke salah satu dari berbagai pilihan destinasi petualangan bersama tim dari National Geographic.

“Jadi, untuk teman-teman jangan takut bermimpi, karena mimpi bisa membuat kita pergi jauh dan mencapai yang lebih tinggi,”  kata Sholahudin menimpali. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat