Kreativitas Decoupage Anak Jalanan dan Inovasi Pemasaran Melalui Media Online

oleh Yayu Sriwartini, Djudjur L. Radjagukguk, dan Masnah#

Problematika  pemerintah yang sampai saat ini belum terpecahkan adalah persoalan anak jalanan, meski sudah disediakan  tempat dimana anak-anak jalanan dapat berkreasi dan terus sekolah. Fenomena yang terbentang  mengenai  anak jalanan saat ini belum ditemukan solusi yang tepat.  Anak jalanan seringkali distigmakan sebagai anak-anak yang kumal, tidak beretika, tidak berpendidikan, nakal, dan memilki masa depan yang suram.  Tentunya yang paling tidak menyenangkan mereka acapkali menggunakan celana kumal yang ketat  dan robek, rambut dibiarkan acak-acakan atau bahkan gimbal. Hidung, telinga serta bibir terkadang ditindik, serta menggunakan aksesoris lain yang memperlihatkan sosok anak ‘benggal.’

Dalam perspektif sosiokultural  maupun dalam teori penamaan (labeling theory), melalui penampilan seperti itu sesungguhnya  mereka tengah mengkomunikasikan identitas dan jati diri mereka. Keberadaan rumah singgah sedikit banyak  membantu mengakomodasi hasrat mereka. Rumah singgah memang telah menjadi salah satu institusi sosial informal yang memiliki peran cukup penting dalam melakukan pembinaan terhadap anak-anak jalanan. Rumah singgah juga dapat mengubah pola perilaku, pola pikir serta pola  komunikasi mereka ke arah yang lebih baik. Tentu saja hal tersebut tidak untuk membebankan sepenuhnya kepada rumah singgah dan pengelolanya, tetapi ini dikarenakan rumah singgah memiliki potensi menjadi agen transformasi.

Bagi anak-anak jalanan, rumah singgah dianggap lebih hommie dan menyenangkan dibandingkan dengan tempat-tempat penampungan lainnya—seperti panti asuhan–yang kerap penuh dengan aturan ketat. Mengacu pada pendapat Erving Goffman, sebenarnya rumah singgah dapat juga dikatakan sebagai salah satu kategori total institution  yang dinilai mampu berperan sebagai agen sosialisasi yang secara efektif bisa mentransformasi keadaan mereka  menjadi lebih baik. Di Jakarta sebagai kota terbanyak anak jalanan, saat ini terdapat sekitar 27 Rumah Singgah yang tersebar di lima wilayah. Dua di antaranya adalah Rumah Singgah Taruna Pertiwi dan Bina Anak Pertiwi. Kedua rumah singgah itu berlokasi di sekitar daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pada waktu  kurun waktu kurang lebih lima minggu dosen dan mahasiswa dari Universitas  Nasional  Jakarta memberikan pelatihan dan pendampingan kepada anak jalanan mengenai teknik seni decoupage, yaitu  membuat potongan-potongan bahan biasanya kertas tissue yang ditempel pada objek dan kemudian dilapisi dengan pernis atau pelitur. Para dosen dan mahasiswa Universitas Nasional itu juga memberikan pelatihan tentang cara komunikasi efektif dalam memasarkan  melalui media online.

Tentu saja dalam pembuatan decoupage  tidak membutuhkan teknik secara khusus sehingga bagi anak jalanan yang  memiliki jiwa ingin berkembang  dan sukses tidak akan sulit.  Apalagi dalam kurun lima minggu mereka diberikan modal secara keseluruhan dalam membuat decoupage dan cara memasarkan secara efektif di jaman yang sekarang ini dengan bermedia sosial.  Pelatihan diberikan  dengan tujuan untuk mengasah kreativitas anak binaan di rumah singgah Bina Anak Pertiwi  dan Taruna Pertiwi  di Jakarta Selatan dengan harapan bisa menjadi peluang usaha yang menguntungkan.

Sebagai pengenalan, anak jalanan diberikanan penjelasan mengenai pengertian decoupage serta bahan-bahan yang diperlukan.  Media pertama yang dipilih untuk pembelajaran adalah talenan. Dalam keseharian, talenan berfungsi sebagai media untuk penyangga untuk mengiris atau memotong. Tetapi, dalam decoupage, talenan bisa menjadi media untuk dilukis atau dihias semenarik mungkin dengan menggunakan tissue khusus seni decoupage.  Tidak saja  talenan, tetapi juga botol atau benda yang terbuat dari kayu, pandan juga dapat diberikan seni menempel.

Kemauan keras memang sangat dibutuhkan bagi anak jalanan agar dapat menumbulkan kreativitas dan inovasi yang baru dalam kegiatan mereka.  Tentu saja  hal  ini membutuhkan  peran serta setiap masyarakat untuk mau berbagi  dan memberikan motivasi yang tidak hanya sekali dua kali,  tetapi berkali-kali untuk mengingatkan mereka bahwa mereka akan sangat berguna dan berarti bagi masyarakat dan negara.

Menurut Ali Amran  dan Ali Santoso, SH,  pengelola Rumah  Singga Taruna Pertiwi dan Bina Anak Pertiwi, kehadiran dosen dan mahasiswa Universitas Nasional  Jakarta dalam memberikan pelatihan pendampingan decoupage  bagi anak jalanan membawa suatu inovasi yang baru bagi mereka yang juga di tahun ini memiliki tujuan dan sasaran agar anak jalanan mampu  menggunakan media sosial sebagai tempat memasarkan kreativitas.

Sehingga besar harapan  pemerintah dan masyarakat  serta anak jalanan sendiri akan mau bekerja keras  untuk melakukan usaha yang  lebih baik. ( )

#ketiganya adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *