‘Tengkorak (Skull)’, Inilah Film Fiksi Ilmiah yang Mendunia

YOGYAKARTA  EKSPLORE (28/8/2018) – Bicara soal karya anak bangsa yang mendunia, film ini salah satunya. Judulnya ‘Tengkorak/Skull’. Film drama thriller ini bukan sekadar film horor seperti ‘Danur’, ‘Pengabdi Setan’, ‘Jailangkung’, atau ‘The Doll’, ‘Kuntilanak’, dan ‘Pocong’.

‘’Ini film drama thriller bergenre fiksi ilmiah,’’ tutur Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) Wikan Sakarinto. Dia menjelaskan film itu menceritakan tentang penemuan tengkorak raksasa di Yogyakarta. Dan, kata dia, seisi dunia pun gempar.

Mendunia? Ya, karena film itu diikutkan dalam festival film di luar negeri. Setelah berhasil dengan spesial gala di Festival Film Asia JAFF 2017, film Tengkorak ini  akan mewakili Indonesia di Cinequest Film and VR Festival 2018 di Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

‘’Film Tengkorak dinyatakan layak oleh juri Cinequest untuk berkompetisi memperebutkan Best Sci-Fi, Fantasy, dan Horror Feature Award pada Cinequest 2018,’’ kata Wikan. Dia menambahkan, menurut hasil polling yang dirilis oleh USA Today, Cinequest adalah festival film terbaik di Amerika Serikat.

Menurut Dekan SV UGM ini, pihak Cinequest mengirimkan invitasi agar film Tengkorak (Skull) menyelenggarakan ‘World Premier’ pada pemutaran film di Cinequest 2018, California. Di sana juga akn diputar 40-50 judul film dari berbagai negara yang dinyatakan layak oleh Cinequest. ‘’Yang baru, tercatat sebagai official selection pada Fistival Film Internasional Balinale 2018,’’ kata Wikan, di Yogyakarta (28/8/2018).

Apa hubungannya film ‘Tengkorak’ dengan SV UGM? Wikan menjelaskan, film tersebut dikerjakan oleh para dosen dan mahasiswa Program Studi D9iploma Komputer dan Sistem Informasi SV UGM. Sutradaranya Yusron Fuadi.

Sutradara Film Tengkorak’ Yusron Fuadi (kiri) dan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) Wikan Sakarinto (kanan) (foto: humas ugm).

Yusron menambahkan, film Tengkorak berdurasi 130 menit. Proses produksinya membutuhkan waktu lebih dari empat bulan, tepatnya 127 hari untuk shooting. Lokasi shooting di empat kabupaten dan kota di DIY, juga di Singapura, gunung Bromo dan banyak tempat lainnya.

“Ini merupakan film dengan ide cerita unik dengan alur menarik dan  sebuah fantasi yang terbungkus dengan balutan humor dan kearifan lokal khas Yogyakarta,’’ kata Yusron. Film ini, kata Yusron lagi,  membawa misi untuk mengangkat hal-hal yang baru ke dalam dunia perfilman Indonesia. Sebab, film fiksi ilmiah seperti ‘Tengkorak’ ini memang sangat jarang dilirik oleh produsen-produsen film Indonesia.

Film ‘Tengkorak’ bercerita tentang misteri penemuan fosil tengkorak berumur 170 ribu tahun di Pulau Jawa. Penemuan ini menimbulkan kebingungan dan perdebatan di antara para ilmuwan dan pemuka agama. Di situ muncullah  seorang gadis yang bertekad untuk mengungkap misteri di balik itu.

Besarnya biaya produksi tak menyurutkan tekad mereka untuk menggarap film tersebut. ‘’Gaji sebagai pengajar pun kami relakan untuk modal film ini,” ungkapnya.

Ketua Keluarga Alumni Sekolah Vokasi UGM (Kavogama) Mas Yanto Herlianto mengajak rekan-rekan alumni yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia untuk berbondong-bondong menyaksikan pemutaran perdana film ‘Tengkorak’ di bioskop pada 18 Oktober 2018.

‘’Oleh pihak Studio XXI dan CGV, film Tengkorak dinyatakan layak diputar,’’ kata Mas Yanto. Ini film kebanggaan almamater, karena, kata dia memberi semangat, para alumnus wajib menonton. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *