Politik Dua Kaki Partai Demokrat? DPP Harus Yakinkan Pilih Prabowo-Sandi

JAKARTA – EKSPLORE (13/9/2018) – DPP Partai Demokrat dituding menerapkan politik dua kaki. Penyebabnya, petinggi partai telah memutuskan untuk memberikan dukungan kepada pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno pada 10 Agustus 2018. Namun, belakangan ini sejumlah pengurus di daerah, beramai-ramai menyatakan dukungannya kepada pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Dan, DPP tidak memberikan sanksi apapun ke daerah.
Soal itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Syarifuddin Hasan berkilah. Jumllah mereka di bawah20%, jadi mayoritas aspirasi tegas disalukan ke Prabowo-Sandi. Di antara yang ‘nyleweng’ itu urutannya Jawa Timur paling tinggi kemudian Papua, NTT, Bali, dan Sulawesi Utara. Itu pun hanya puluhan orang saja.
Menurut dia, opini daerah yang berbeda itu merupakan hasil jajak pendapat di seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke. Namun, kata mantan Menteri Koperasi dan UKM itu, menjadi tugas DPP Partai Demokrat untuk bisa meyakinkan kadernya agar mengikuti keputusan partainya.
“Jadi kami menyatakan solid bahwa kami mendukung Prabowo-Sandi dan kami yakinkan bahwa kami akan usahakan yang 20 % itu kurang lebih agar supaya mendukung Prabowo-sandi,’’ kata Syarif saat menjadi narasumber dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk ‘Isu Dua Kaki Demokrat Ganggu Parpol Koalisi?’ yang diadakan Koordinatoriat Wartawan DPR/MPR, di Gedung DPR/MPR di Senayan (13/9/2018).
Syarif mengungkapkan pula, semua opini partai di daerah semuanya menginginkan kader Demokrat yang menjadi calon presiden. Karena tak ada capres atau cawapres dari Partai Demokrat, maka pilihannya harus dijatuhkan kepada salah satu pasangan yang ada. “Masih ada waktu enam bulan untuk meyakinkan mereka,’’ kata Syarif yang juga anggota Komisi VI DPR ini.
Sebaliknya, menepis istilah politik dua kaki, Syarif menyebutkan kaki satu konsentrasi memenangkan Pilpres, dan satu kaki lainnya di Pilleg. “Mana yang lebih utama,” tutur Syarif, “dua-duanya yang utama, sama dengan langkah kaki kiri dan kaki kanan, mana yang lebih utama, nggak ada yang lebih utama, dua-duanya berfungsi, dua-duanya dibutuhkan.” Dia pun mengutip pernyataan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), “kalau satunya tidak berfungsi ya kaki yang lain tidak berfungsi dengan maksimal , jadi dua-duanya harus maksimal.”

Yakin Solid

Sementara itu, Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto menyatakan keyakinannya bahwa Partai Demokrat tetap solid mendukung Prabowo-Sandi. Hal itu tercermin dari pertemuan Prabowo dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Rabu malam (12/9/2018). ‘’Jadi kalau ada tudingan Demokrat setengah-setengah memenangkan Prabowo saya kira itu fitnah, gak mungkinlah, karena dokumen yang dibawa ke KPU itu saya juga melihat langsung Pak SBY yang paling utama menandatangani di ruangan beliau di Kuningan Jumat pagi (11/9/2018) sebelum berangkat ke KPU,” kata Yandri.
Pasangan Prabowo-Sandi didukung oleh empat partai, yaitu Partai Gerindra, PKS, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat. Dukungan Partai Demokrat ke Prabowo-Sandi memang dilakukan pada detik-detik terakhir menjelang batas akhir pengajuan capres-cawapres. Jika tak ikut mengajukan calon, partai itu tak boleh ikut pemilu 2023.
Yandri mengakui, dinamika perbedaan pendapat di internal juga terjadi di semua partai tidak khusus Demokrat. ‘’Bahwa Demokrat itu solid dan sangat sungguh-sungguh untuk memenangkan pasangan Prabowo-Sandi karena kami melihat bahwa kepentingan politik Demokrat ke depan itu bisa terakomodir kalau pasangan Prabowo-Sandi menang,’’ tuturnya.
Masih menanggapi tudingan itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait juga menghormati dinamika dan ketentuan di internal Demokrat. Menurut putra tokoh senior PDIP Sabam Sirait ini, perbedaan aspirasi sangat dimungkinkan terjadi. Namun, kata dia, setelah diputuskan di tingkat nasional, semua kader dan pengurus di daerah harus mengikuti keputusan tersebut.
Ara, sapaan Maruarar, menyontohkan peoses penetapan cawapres pendamping Jokowi. Awalnya sempat muncul nama Mahfud MD. Dan Ara pun sangat stuju dan mendukung Mahfud. “Terus terang saya mendukung bapak Mahfud MD, sebab menurut saya, kita memerlukan orang seperti beliau , nasionalis dan bisa diterima karena bapak Jokowi juga perlu dibantu dari kalangan aktivis, kelas menengah, perkotaan dan sebagainya,’’ kata Ara, calon anggota Legislatif untuk DPR RI daerah pemilihan Bogor-Sukabumi.
Tapi, setelah PDIP memutuskan mendukung cawapres bukan Mahfud, tapi Ma’ruf Amin, Ara pun menyatakan loyal kepada partai dan siap bekerja memenangkan Jokowi-Ma’ruf. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *