Keuangan Pertamina Mengkhawatirkan

JAKARTA – EKSPLORE (4/10/2018)   Kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) saat ini dinilai mengkhawatirkan. Hal itu dilihat dari perolehan laba bersih pada semester I-2018 yang tak sampai Rp 5 triliun. Padahal,  target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar Rp 32 triliun.

Direktur Eksekutif Eksplorasi Institute Heriyono Nayottama berpendapat, Pertamina telah mengalami tekanan keuangan karena dipaksa terus-menerus menanggung beban subsidi BBM, khususnya premium. Ada perbedaan harga antara BBM global dan domestik yang ditanggung pemerintah dalam bentuk beban subsidi, kemudian dibebankan kepada Pertamina.

Menurut dia, kerugian yang ditanggung Pertamina cukup mengkhawatirkan. Kenaikan harga BBM domestik akan diperlukan jika harga minyak global terus menanjak, jika ingin menyelamatkan keuangan Pertamina. “Pertamina dalam kondisi SOS (Save Our Souls) alias perlu pertolongan segera. Karena saat ini produksi Pertamina juga ikut terus turun karena kurangnya pasokan crude (minyak mentah),” kata Heriyono, di Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Dia menambahkan, dilarangnya Pertamina mengimpor crude (minyak mentah) juga bisa mengakibatkan pasar mengalami kekosongan. “Kesempatan ini lalu diambil alih swasta, karena swasta boleh impor. Kasihan Pertamina. Kinerja Pertamina akan jeblok karena penjualan anjlok,” tuturnya.

Heriyono mengungkapkan, ironisnya pihak swasta tidak diwajibkan untuk bermain di sektor BBM subsidi. Terkait BBM nonsubsidi, seperti solar (high speed diesel/HSD) industri, bahkan pihak swasta tidak dibatasi untuk mengimpor. “Selama mereka (swasta) punya bukti beli FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang bersumber dari minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), maka swasta boleh impor. Bukti beli FAME bisa dibuat, terutama bagi perusahaan yang satu grup,” ujar dia.

Sebelumnya, Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan rendahnya laba bersih Pertamina pada semester I/2018, yaitu tidak sampai Rp5 triliun, jauh dari target 2018 sebesar Rp 32 triliun.

“[Rendahnya laba Pertamina] jauh dari prognosa. Karena harga minyak mentah naik. Kompensasi ke hilirnya enggak cukup,” ungkap Harry saat berada di gedung DPR, awal September (6/9/2018).

Menurut dia, ada rencana target laba Pertamina pada tahun ini akan direvisi. Namun, angka revisi itu belum ditentukan pada posisi berapa.  Pertimbangan merevisi target keuntungan Pertamina tersebut, salah satu satunya akibat dampak Permen ESDM Nomor 40 Tahun 2018.

Surat itu menginstruksikan kenaikan subsidi solar dari Rp500 per liter menjadi maksimal Rp2.000 per liter. Aturan itu diundangkan sejak 21 Agustus 2018. “Itu yang mau kita hitung,” tuturnya.

Atasi Kerugian
Untuk meminimalisasi kerugian, Heriyono menyorongkan  sejumlah usulan. Pertamina harus melakukan inovasi. Misalnya, mengembangkan petrochemical dan petromedical. Dia mencontohkan, jika harga pasar per satu kemasan/tabung (tube) merek Vaseline saja Rp 70 ribu, harga pokok produksi (HPP)-nya hanya Rp 8.000.

“Belum lagi produk Love Lubricant. Coba saja dibuat produk pelumasan untuk kaum perempuan yang memiliki kulit kering, berapa untungnya per tube?” ucap dia.

Untuk melaksanakan inovasi itu, kata Heri,, dibutuhkan jajaran direksi Pertamina yang kreatif dan inovatif, serta berani bertindak out the box agar Pertamina bisa keluar dari krisis keuangan. (b2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *