Wangi Semerbak Mahluk Tuhan di Tenda Pengungsian

Wangi Semerbak Mahluk Tuhan di Tenda Pengungsian

Oleh : Martinus Rivano#

Malam itu anak kami yang baru berusia 14 bulan terus menangis, karena sudah hampir 2 hari belum makan atau minum susu sama sekali.

Hanya asi dari ibunya dan itu pun sudah tak keluar lagi karena ibunya juga sudah hampir 2 hari tak makan apapun.

Kondisi anak kami benar benar sudah lemah. Badannya panas, pun istri kami yang ikut menangis melihat kondisi anak semata wayang kami yang terus-menerus menangis tanpa suara. Kami tak bisa berbuat apa-apa karena kondisi dan logistik yang susah didapatkan.

Waktu itu sekitar pukul 21.30, ada 4 orang berseragam putih-putih lewat didi dep tenda kami.  Mungkin karena mendengar tangisan anak kami mereka menghampiri kami.

Mereka bertanya tentang kondisi kami sambil mengamati keadaan sekitar kami, terutama kalung salib yang tergantung di leher anak kami.

Ketika salah seorang dari mereka mengambil hp dan menyenteri keadaan sekeliling kami, jantung ini seakan berhenti berdenyut. Inilah laskar FPI yang selalu kami musuhi. Apa yang akan mereka lakukan pada kami !!??

Seribu pikiran ketakutan melayang-layang di benak kami. Ketakutan kami semakin menjadi-jadi ketika 2 orang dari mereka pamit mau ke kamp mereka sebentar.

Hanya tinggal 2 orang yang masih berjaga jaga di sekitar kami. Tak lama kemudian datanglah 2 orang yang tadi bersama teman-temannya sekitar 13 orang sambil memanggul barang.

Mereka menghampiri kami lalu menyerahkan bahan makanan yang lumayan banyak termasuk susu buat anak kami dan beberapa roti dan air mineral. Dan membagikan kepada tetangga yang dekat dengan kami.

Dada kami sesak tak bisa berkata apa-apa. Salah satu dari mereka mengambil gelas dan menuangkan sedikit susu dan memberikannya kepada istri kami untuk segera meminumkannya kepada anak kami.

Dalam remang kulihat air mata jatuh dari mata salah satu orang tersebut ketika melihat anak kami yang seperti kesurupan meminum susu tadi.

Kami bertanya apa sebabnya ia menangis melihat anak kami minum susu.

Apa jawabannya !!?? Ia berkata, “Alangkah dzalimnya saya ketika melihat sesama mahluk Tuhan menderita, tetapi kami tak kuasa berbuat apa apa.”

Perhatian saya tertuju pada kata kata “mahluk Tuhan”. Kenapa bukan sebutan yang sering digunakan pada mereka yang mengaku paling toleran ??

Pelajaran berharga bagaimana kami jadi tau mana hitam mana putih. Mana yang benar-benar tulus menolong sesama meskipun beda keyakinan.

Puji Tuhan !!!
Saya menyesal dulu saya gencar meminta untuk membubarkan ormas tersebut.

Buat saudaraku yang ingin agar ormas tersebut dibubarkan. Satu pertanyaanku mampukah kalian meninggalkan anak, istri, keluarga, dan semua kesenangan kalian hanya untuk menolong orang-orang yang tidak bisa membalas kebaikan kalian ini !!??

Puji Tuhan !!

——-
#Martinus Rivano, salah seorang pengungsi korban gempa dan tsunami di Palu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat