Harga BBM Tak Naik, Pertamina Berpotensi Rugi Rp23,47T

JAKARTA – EKSPLORE (11/10/2018) – Pemerintah ibarat main petak umpet terhadap harga BBM akibat anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS maupun naiknya harga minyak dunia. Keputusannya, harga BBM dinaikkan atau tetap. Apa untuk ruginya di tahun politik ini?

Risiko secara ekonomi akan ditanggung Pertamina. Secara politik, menaikkan harga BBM tidak populer karena mempengaruhi elektabilitas Presiden Jokowi yang menjadi petahana dalam pemilihan Presiden & Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Yang terang, Pertamina diprediksi mengalami kerugian hingga Rp 23,47 triliun.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman mengatakan, potensi kerugian itu salah satunya di antaranya karena kebijakan Pemerintahan Joko Widodo membatalkan kenaikan harga BBM subsidi jenis premium pada Rabu (10/10/2018). premium termasuk BBM yang masih disubsidi.

Yusri berpendapat, harga keekonomian premium pada Oktober 2018 adalah Rp 9.991,70 per liter. Sedangkan, harga jual premium yang diberlakukan pada angka Rp 6.550 per liter. “Secara matematis, untuk premium kerugian yang dialami Pertamina per liternya adalah Rp 9.991,70 dikurangi Rp 6.550 menjadi Rp 3.441,70,” kata Yusri di Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Menurut dia, untuk BBM jenis pertalite, semestinya harga keekonomian saat ini berada di kisaran Rp 10.100 per liter. “Dengan harga jual saat ini, rugi yang dialami Pertamina untuk pertalite per liter sekitar Rp 2.300, dihitung dari Rp 10.100 dikurangi harga jual saat ini Rp 7.800,” ujar dia.

Lalu, lanjut Yusri, solar masih menerima subsidi Rp 2.000 per liter. Dari situ, Pertamina menderita kerugian sebesar Rp 2.840 per liter. “Hitungannya, harga keekonomian solar semestinya Rp 9.990 per liter dikurangi Rp 2.000 lalu dikurangi lagi harga jual saat ini Rp 5.150,” tutur pengamat masalah energi ini.

Jadi, kata Yusri, berdasarkan asumsi, tiap bulan Pertamina menyediakan premium sebanyak satu juta kiloliter (kl), pertalite 400 ribu kl, dan solar 1,3 juta kl di seluruh Indonesia. Dengan demikian, untuk tiga bulan ke depan akan diperoleh potensi kerugian Pertamina Rp 23,471 triliun.

Rinciannya, untuk premium (selama tiga bulan) dikalikan satu juta kl dikalikan lagi Rp 3.441,70 per liter menjadi Rp 10,325 triliun.
Kerugian pertalite mencapai Rp 2,07 triliun, dengan asumsi perhitungan konsumsi tiga bulan dikalikan 300 ribu kl dikalikan lagi Rp 2.300 per liter.

Sedangkan, untuk solar rugi Rp 11,076 triliun dengan asumsi kuota tiga bulan dikalikan 1,3 juta kl dikalikan Rp 2.840 per liter. “Potensi kerugian tersebut akibat kebijakan pemerintah yang diduga menyimpang dari Peraturan Presiden No 191/2014 dan Peraturan Presiden No 43/2018,” tegas dia.

Mengapa demikian? Ini penjelasan Yusri. Sebenarnya, di dalam regulasi itu sudah diatur juga siapa yang berhak menentukan harga BBM tertentu bersubsidi dan penugasan, apakah menteri ESDM atau Meneg BUMN. “Apakah kebijakan ini bisa dikatakan wajar terkait dengan agenda Pilpres 2019? Kita semua harus mengawal jangan sampai Pertamina menjadi karam,” katanya. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat