UMKM Didorong Manfaatkan Fintech

NUSA DUA – EKSPLORE (15/10/2018) – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM menyatakan siap untuk mengedukasi para pelaku UMKM di Tanah Air untuk memanfaatkan teknologi finansial (fin-tech). Masalah itu dipresentasikan dalam pertemuan tahunan IMF-WB yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, akhir pekan kalu (14/10/2018).

‚ÄúTantangan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah meningkatkan literasi masyarakat terhadap produk keuangan digital,” kata Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati. Dia menambahkan, teknologi finansial atau fintech berpeluang menjadi platform untuk meningkatkan akses pendanaan bagi segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta keuangan syariah.

Fintech kata dia, juga fleksibel dalam layanan dan produk yang lebih mudah menjangkau konsumen dibandingkan dengan layanan jasa keuangan konvensional.

“Tingkat penetrasi fintech yang tinggi akan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, terutama segmen yang tidak memiliki akses terhadap keuangan, seperti UMKM,” katanya. Hal itu diungkapkan Yuana dalam seminar internasional yang bertajuk “Fintech Talk. Seminar diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Hotel Ayana, Bali. Acara itu merupakan salah satu rangkaian acara dalam pertemuan IMF-WB.

Pada kesempatan itu hadir Ketua OJK Wimboh Santoso, Professor Columbia University Joseph Stiglitz, Professor Stanford University John B. Taylor, Chancellor of the Exchequer UK Philip A. Hammond, Tsing Hua National Institute of Financial Research Ma Jun.

Memurut Yuana, segmen UMKM di Indonesia berperan besar dalam perekonomian karena menyerap 60% dari lapangan pekerjaan dan berkontribusi hingga 40% dari PDB. “Maka keberadaan dan penggunaan fintech saat ini akan sesuai dengan tuntutan masyarakat Indonesia dengan posisi geografis yang berbentuk kepulauan dan tersebar luas,” katanya.

Yusna optimustis, karena fintech bisa bergerak di berbagai lini jasa keuangan, bukan hanya P2P lending. Ada sektor lainnya, seperti pembayaran, asuransi, tabungan, pengelolaan investasi, hingga pengumpulan dana.

Bank Indonesia mendefinisikan Financial technology/FinTech sebagai hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melalui transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran dalam hitungan detik saja.

Yuana melihat saat ini banyak orang membeli produk keuangan secara digital tapi tidak memahami cara menggunakannya. Oleh karena itu, literasi mengenai produk-produk jasa keuangan harus terus ditingkatkan.

“Kami secara khusus memberikan apresiasi kepada OJK atas terselenggaranya seminar fintech ini dan berharap dapat mengedukasi masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis teknologi,” katanya. (b3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *