Bekraf Kembangkan Ekonomi Kreatif Digital Yogyakarta

Bekraf Kembangkan Ekonomi Kreatif Digital Yogyakarta

YOGYAKARTA – EKSPLORE (4/11/2018) —
Sebagai bagian dari komitmen untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital,  Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk kali keenam  kembali menggelar Bekraf Developer Day  di Hotel Sheraton, Yogyakarta pada Sabtu (3/11/2018). Sebanyak 1.200 peserta antusias menghadiri talkshow dan sharing session dengan para pakar dan pelaku industri kreatif digital.

Bekraf Developer Day (BDD) diadakan untuk menjembatani para developer dengan platform teknologi mutakhir yang ingin mengembangkan produk digital khususnya di bidang subsektor aplikasi, game, web, serta internet of things (IoT). Hal ini sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya banyak startup yang berkualitas di Jogja dan sekitarnya (Joglosemar).

“Yogyakarta adalah tempat yang ideal untuk mendirikan startup. Hal ini terlihat dari banyaknya talenta di bidang kreatif digital serta tersedianya ekosistem pendukung yang memadai bagi tumbuhnya startup digital seperti pusat kreatif, coworking space serta inkubator dan akselerator,” tutur   Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari, saat membuka acara itu.

Bekraf, kata Hari, terus berupaya mempertemukan para developer startup dengan platform teknologi digital seperti Dicoding, Google, Samsung, IBM, Microsoft, Alcatel, LINE, Lintasarta, Tokopedia dan Go-Jek. “Salah satu hasil BDD ini adalah lahirnya para talenta berbakat dari Local Challenge,” kata Hari.

Hari menjelaskan, kesuksesan para pemenang Local Challenge yang diadakan Dicoding pada tahun 2018 telah melahirkan talenta-talenta baru developer dibidang aplikasi mobile/PC dan games. Dari Local Challenge tersebut, Aming Anjas Asmara Pamungkas menciptakan antivirus lokal menggunakan visual basic dan menjadi pemenang “Made in Papua”. Kemudian Zulqifli Hedrianto Tahir mengembangkan Foodme sebuah aplikasi pesan antar makanan yang memudahkan pemilik Gerai memasarkan makanan sebagai pemenang “Made in Celebes”. Habib Abdullah Wahyudi yang menciptakan game PC offline ber-genre FPS Survival Horror Zombie yaitu Our Last Stand: The Arena menjadi pemenang “Made in Kalimantan”. Semangat dari timur Indonesia tentunya harus diikuti oleh para developer di barat Indonesia.

Komunitas developer dan pelaku bisnis digital Jogja seperti GameLan, Creacle Studio, Qajoo Studio, Hicca Studio, Kulina dan Niji telah lebih dulu berkontribusi positif bagi masyarakat lokal. Selain itu tersedianya fasilitas seperti Jogja Digital Valley (JDV) dan Digital Innovation Lounge (DILo) Jogja juga membuat munculnya bibit-bibit baru para developer di bidang aplikasi dan game. Ekosistem ekonomi digital seperti inilah yang perlu didukung secara konsisten dan berkesinambungan.

Yogyakarta merupakan kota keenam penyelenggaraan BDD 2018 dengan menghadirkan sejumlah pelaku, praktisi dan expert industri kreatif digital Tanah Air, di antaranya Senior Software Engineer – Go-Jek Indonesia (Go-Pay Division) Deny Prasetyo; Android Developer at LOKÉT – GO-JEK Group Danviero Yuzwan; CEO – Educa Studio Najib Abdillah; CEO Wisageni Studio Rudy Sumarso;  Educa Studio & GameLab Indonesia, Andi Taru; Cloud and Enterprise Business Group Lead – Microsoft, Yos Vincenzo;  CEO – Arsanesia, Intel Game Innovator, AGI, Ihwan Adam Ardisasmita.

Ada juga CEO, Game Designer at Creacle Studio Gathot Fajar; Managing Director – Radya Labs Teknologi Puja Pramudya;  Programmer – Universitas Negeri Yogyakarta Soesapto Joeni Hantoro;  Co-Founder CTO at Qiscus Evan Purnama; dan COO – Skyshi Digital Indonesia aRizqinova Putra Muliawan.

Sama seperti BDD sebelumnya, yaitu BDD Batam, Jayapura, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan, BDD Yogyakarta 2018 juga menggandeng Dicoding Indonesia untuk menyelenggarakan event ini bersama Asosiasi Game Indonesia, Dicoding Elite, Google Developer Expert, Intel Innovator, Komunitas ID-Android, Samsung Developer Warrior, dan perusahaan-perusahaan teknologi lainnya di Indonesia.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggungjawab di bidang ekonomi kreatif. Saat ini, Kepala Bekraf dijabat oleh Triawan Munaf.Bekraf mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi & video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisidan radio.

Ekonomi kreatif memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional karena mampu menyumbang Pendapatan Dometik Bruto (PDB) hingga Rp922,5 triliun pada 2016. Angka ini diprediksi terus naik setiap tahunnya sekitar 10% sehingga pada 2017 diprediksi mencapai lebih dari Rp1.000 triliun. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *