Kontribusi Koperasi Terhadap PDB Diyakini Terus Naik

Kontribusi Koperasi Terhadap PDB Diyakini Terus Naik

 JAKARTA – EKSPLORE (7/11/2018) – Kementerian Koperasi dan UKM optimistis kontribusi koperasi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus meningkat. Pada 2014 masih 1,71%. Dua tahun berikutnya, 2016, sudah tumbuh menjadi 3,99%. Tahun lalu, 2017, naik kagi menjadi 4,48%.
“Untuk tahun ini (2018), saya prediksikan kontribusi dapat menyentuh 5%,” tutur Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi, saat berbicara dalam  diskusi panel bertajuk “Proyeksi Perekonomian 2019: Tantangan dan Peluang Bagi Koperasi dan UKM” di Gedung Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Zabadi menuturkan, kenaikan kontribusi koperasi terhadap PDB ini menunjukkan hasil dari reformasi koperasi yang dicanangkan Kementerian Koperasi dan UKM dalam empat tahun terakhir.  Reformasi, kata Zabadi, memungkinkan koperasi yang ada di Indonesia memiliki kualitas baik untuk membantu meningkatkan PDB.

Melalui reformasi, kata Zabadi menjelaskan, banyak koperasi yang tidak aktif dan berjalan melenceng dari aturan yang dipangkas. Dampaknya, jumlah koperasi di Indonesia menurun. “Tapi, dapat dipastikan, mereka yang tersisa memiliki kualitas tinggi. Sudah 40 ribu koperasi dibubarkan selama empat tahun belakangan ini,” katanya.

Menurut mantan Dirut Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM) ini, ke depannya, Kementerian KUKM juga mendorong tumbuhnya koperasi produksi, konsumen, dan jasa untuk meningkatkan kontribusi koperasi dalam PDB.  Dengan demikian, kata Zabadi, pengembangan koperasi tidak  hanya didominasi oleh koperasi simpan pinjam (KSP) saja.

Zabadi mengungkapkan, pemerintah juga optimistis kontribusi UKM terus meningkat melalui program wirausaha baru. Pada 2014 jumlah wirausaha di Indonesia baru sebanyak 1,65%. Dua tahun kemudian jumlah wirausaha bertambah menjadi 3,1%. Para wirausaha baru itu banyak yang berbasis teknologi digital.

“Artinya, ini sudah melampauai kriteria negara yang memiliki daya saing global, yaitu dua persen. Kami hitung-hitung, tahun ini bisa meningkat menjadi lima persen,” tutur Zabadi. Menurut dia, Kementerian KUKM fokus membuat gerakan mahasiswa pengusaha yang dibangun bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Gerakan ini mendorong mahasiswa dan alumni muda untuk menjadi pencipta kerjaan, bukan sekadar karyawan perusahaan.

Selain Zabadi, diskusi panel juga menghadirkan Corporate Secretary and Chief Economist BNI Ryan Kiryanto, dan Business Development & Sales Officer dari UMKM Du’anyam, Juan Firmansyah. Du’Anyam adalah usaha kecil yang memproduksi anyaman dalam bentuk tas, sepatu, maupun dekorasi interior rumah, dari Flores. D’anyam terpilih sebagai merchandise resmi Asian Games dan VVIP merchandise Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali.

Berbicara pada kesempatan kedua, Ryan mengatakan, satu hal yang harus diperhatikan dalam perkembangan UMKM adalah kredit perbankan. Mengutip data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan sektor UMKM mengalami perlambatan. Pada Agustus, tercatat kredit tumbuh 8,11% (yoy), atau melambat dibanding periode sebelumnya yang mencapai 9,99%.

Namun, Ryan berpendapat, perlambatan pertumbuhan kredit hanya bersifat sementara. Dia memprediksi, memasuki kuartal pertama 2019, kredit UMKM akan naik lagi seiring dengan pertumbuhan kredit korporasi besar. “Kalau segmen korporasi tumbuh, UMKM ikut tumbuh. Ini implementasi dari value chain,” katanya.

Ryan menambahkan, selain pertumbuhan kredit yang melambat, rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM juga di atas industri. Tapi, rasio NPL kredit UMKM memang sudah membaik menjadi 4,08% pada Agustus dibandingkan 4,31% pada Juli. Hal ini dikarenakan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) dengan tingkat kredit macet/non performance loan (NPL) membaik.

Yang  terang, Ryan optimistis, pertumbuhan di kalangan UMKM meningkat sesuai dengan trendnya. Juga karena pada 2019 merupakan tahun politik. Belanja perlengkapan kampanye meningkat. Kendati demikian, ekonom senior ini tak khawatir pertumbuhan ekonomi bakal terganggu oleh aktivitas politik terkait pilpres dan pilleg.

Sementara itu, Juan Firmansyah menyebutkan, tantangan terbesar UMKM saat ini bukanlah modal atau kredit. Biaya pengiriman atau logistik yang terbilang tinggi menjadi pekerjaan besar pagi pelaku UMKM. “Sebagai negara kepulauan, biaya pengiriman dari satu tempat ke tempat lain yang berbeda pulau membutuhkan biaya tinggi,” ucapnya.

Namun, Juan optimistis trend pasar kerajinan akan terus. Du’anyam tengah menyiapkan produk premium untuk Jakarta Fashion Week. “Kami menyesuaikan produk dengan desain yang berdasarkan demografi,” kata dia. Tahun depan, kata Juan, Du’anyam akan meluncurkan website e-commerce B2B Retail.  (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *