Dibantu Kemenkop, Agriterra Siap Ajari Bangun Pabrik Beras Milik Koperasi

JAKARTA – EKSPLORE (28/11/2018) – Kementerian Koperasi dan UKM siap membantu  Agriterra (badan pertanian dari Belanda) yang akan mengajari kalangan koperasi berbasis pertanian untuk membangun pabrik  beras. Hal itu tertuang dalam naskah kerjasama (MoU) yang ditandatangani Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi ,(Kemenkop) dan UKM Victoria BR Simanungkalit dan Managing Director Agriterra Mr. Kees Blokland, pada Selasa (27/11/2018) di Jakarta.

MoU itu bertajuk Pengembangan Industri Pertanian Berbasis Korporasi Petani Yang Dikelola Koperasi. “Dari MoU ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk petani hingga memiliki nilai keekonomian. Dalam hal ini para petani di Indonesia harus mulai berani masuk ke sektor industri,” kata  Victoria.

Dia menambahkan sebetulnya kerjasama ini sudah berlangsung cukup lama. Pada September 2017, Kemenkop dan UKM mulai memperkenalkan Agriterra ke Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah dan Puskud Jateng yang berkeinginan untuk merevitalisasi KUD-KUD pangan. Ketika itu, yang ditawarkan adalah  membangun korporasi petani model koperasi dalam pendirian pabrik beras 100% milik petani.

“Agriterra dan KUD Pringgodani juga mulai menawarkan rencana usaha tersebut kepada para petani. Sementara Agriterra dan Kemenkop dan UKM mencarikan lembaga keuangan yang bersedia mendanai pendirian pabrik beras dan mekanisme pertanian tersebut, khususnya memberi pinjaman kontribusi ekuitas petani dan mengingat bahwa pabrik ini baru akan dibangun,” papar Victoria.

Pada tahap awal Agriterra menggandeng tiga koperasi, yaitu KUD Pringgodani (Demak), KSU Citra Kinaraya (Demak), dan KUD Bayan (Purworejo). Agriterra mengajari ketiga koperasi  itu untuk menyusun rencana usaha dan proposal pinjaman investasi pabrik beras.  Total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp40 miliar untuk sawah seluas 800-2000 hektare. “Target pendirian lima pabrik pengolahan yang 100% milik petani,” tutur Victoria.

Jika proyek ini berhasil, akan menjadi percontohan bagi kalangan koperasi bagamana bisa maju dan bisa memiliki pabrik. Cara ini, katanya, dapat meningkatkan bargaining position koperasi.

Oleh karena itu, Victoria mengajak dan mengharapkan semua pihak untuk bersinergi membangun korporasi petani berbasis koperasi. “Dengan begitu, kita bisa mengembangkan banyak potensi pertanian yang ada di daerah masing-masing hingga tercipta korporasi petani yang kuat dan mandiri. Kami tidak bisa melakukan itu sendirian, melainkan mengajak sinergi semua pihak termasuk pemda,” kata Victoria lagi.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Managing Director Agriterra Kees Blokland mengatakan, dengan membangun korporasi petani di desa-desa, akan menjamin ketersediaan pangan dan ketersediaan lapangan kerja. “Ini bisa terjadi apabila para petani sadar bahwa hanya para petani yang bisa mewujudkan itu,” kata Kees.

Orang Belanda ini menekankan, pemerintah bisa membantu rencana tersebut dengan cara tidak mempersulit pendirian pabrik. “Walau saat ini di seluruh negara di dunia jumlah petani terus berkurang, namun dengan program korporasi petani maka produksi pangan tetap stabil dan terjaga,” tegas Kees.

Model penggalangan modal internal (petani) melalui koperasi seperti ini, kata Kees, sudah dilakukan Agriterra di beberapa negara. Contohnya di Ethiopia (Afrika). “Di Ethiopia sudah berhasil hingga mampu membukukan modal korporasi petani sebesar 500 juta Euro.

Dengan bangga Kees mengungkapkan, Agriterra juga sudah meneliti bahwa negara-negara yang maju koperasinya, maju pula kondisi sosial masyarakatnya. Intinya, koperasi mampu berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. (b1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *