Di Era Disrupsi 4.0, Kurikulum Ilmu Komunikasi Harus Direkonstruksi

JAKARTA – EKSPLORE (1/12/2018) – Perubahan teknologi utamanya teknologi digital yang menandai era Disrupsi 4.0 alangkah pesatnya, termasuk di dunia pertelevisian. Para pengelola bisnis di dunia pertelevisian  mau tak mau harus menyesuaikan diri jika tak ingin kehilangan audiensnya, baik pemirsa maupun para pemain lainnya, seperti produksi iklan hingga produksi program.

Tak ingin kehilangan momen untuk menyesuaikan diri dalam kajian keilmuan dan perubahan kurikulum, Program Studi Ilmu Komunikasi (Prodikom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional (FISIP UPN) Veteran Jakarta mengadakan Seminar Nasional dan Call of Papers bertajuk “Menjawab Tantangan Program Televisi di Era Disrupsi 4.0”, Kamis (29/11/2018).

Tiga narasumber utama dihadirkan, yaitu Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yuliandre Darwis, Sekjen Asosiasi Televisi Nasional Indonesia (ATVNI) Mochamad  Riyanto, dan Producer VOA yang juga penulis buku “Menjadi Sutradara Televisi” Naratama Rukmananda.

Seminar Nasional Komunikasi Era Disrupsi (KOMERDS) 2018 ini juga menampilkan 35 pemakalah dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek. Sejumlah dosen dan mahasiswa program studi komunikasi dari 26 perguruan tinggi memadati  Auditorium Bhineka Tunggal Ika, Kampus UPN Veteran Jakarta, di Pondok  Labu, Jakarta Selatan. Seminar ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Halim Mahfud mewakili Rektor Erna Hernawati.

“Warga perguruan tinggi secara intens mengikuti perkembangan isu tersebut, yaitu pesatnya digitalisasi teknologi pertelevisian memasuki era disrupsi 4.0,” tutur Dekan FISIP UPN Veteran Jakarta Anter Venus.

Menurut Venus, memang perlu rekonstruksi terhadap kurikulum ilmu komunikasi dan  model pembelajaran yang sesuai untuk generasi era digital atau milenial. Hal itu terkait dengan pengetahuan dan penyediaan sumber daya manusia di industri pertelevisian ke depan. “Tanpa penyesuaian, perguruan tinggi akan ketinggalan zaman,” kata Venus lagi.

Sementara itu, Yuliandre mengungkapkan, tugas KPI dalam mengawasi program-program yang disajikan oleh stasiun televisi nasional maupun daerah makin berat. Itu sebabnya, KPI pun menggandeng kalangan perguruan tinggi untuk ikut mengawasi perilaku televisi yang hadir mengisi segmen kebutuhan informasi digital masyarakat. Khusus dengan FISIP UPN Veteran Jakarta dan perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia,  KPI menggarap survei indeks program televisi nasional.

Di sela seminar, diadakan penandatanganan naskah kerjasama antara Dekan FISIP UPN Veteran Jakarta Anter Venus dengan Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (Aspikom) lrwa Zarkasi serta antara Dekan FISIP UPN Veteran Jakarta dengan Direktur LSP Inscinema Agustinus Setyawan. Penyelenggaraan seminar ini merupakan  kerjasama dengan KPI, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himaikom) Fisip UPN Veteran Jakarta, dan Five TV yang dipunyai Fisip UPN Veteran Jakarta. (damayanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *