Cinta Tanah Air Didu Berbuah 14 Kali Berhenti Jabatan

JAKARTA – EKSPLORE (28/12/2018) – Inilah nasib Muhammad Said Didu tak lama setelah membuat ulasan atau analisis terhadap divestasi saham PT Freeport Indonesia lewar akun twitternya yang juga dimuat secara utuh dan berseri di Eksplore.co.id. Pada Jumat (28/12/2018), Didu dipecat dari jabatannya sebagai komisaris di PT Bukit Asam (persero), anak perusahaan pelat merah PT Inalum dalam sebuah rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Hotel Birobudur, Jakarta. Dia diberi tahu ihwal pencopotan dirinya hanya beberapa menit sebelum rapat.

“Hari Ini saya merasa terhormat karena
satu, untuk memberhentikan saya sebagai Komisaris PTBA dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di hotel bintang lima,” tutur mantan staf ahli Menteri ESDM ini.

Ihwal pencopotan tersebut, Didu mengaku diberitahu dirinya dianggap tidak sejalan dengan pemegang saham, yaitu Menteri BUMN. “Kedua, alasan pemberhentian saya bahwa saya tidak lagi sejalan dengan pemegang saham Dwi Warna dalam kurung Menteri Negara BUMN,” ujar Didu, ketua umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2008-2013.

Dia pun mempertanyakan apakah memang saat ini di BUMN indikatornya bukan lagi  kinerja tapi yang penting sejalan dengan menteri. Kendati demikian, dia tak gusar dengan peristiwa itu. “Bagi saya ini biasa saja, saya sudah 14 kali diberhentikan atau mundur atau berhenti dalam jabatan. Sebab kemerdekaan dan integritas jauh lebih berharga dari sekadar jabatan. Yang penting jangan dipecat sebagai fans city,” ujar Didu, mantan Sekretaris Menteri BUMN ini.

Satu ketika, pada 2015, Didu pernah memegang empat jabatan sekaligus. Apa saja, ini dia; Komisaris PT Bukit Asam, Staf khusus Menteri SEDM, Ketua Tim Penelaahan Smelter Nasional, dan Komisaris PTPN VI (persero). Baginya, menikmati jabatan itu adalah racun yang sangat berbahaya.

Itu sebabnya, sebagai ungkapan rasa cintanya pada Tanah Air, pria kelahiran Pinrang,  2 Mei 1962 ini selalu bersikap kritis, tak sekadar sejalan dengan atasannya. Itu adalah sikap bagaimana menjaga negerinya agar tetap utuh, makmur, juga berdaulat.  Pernyataan terakhir sebelum dicopot dari jabatannya adalah mengkritisi rencana Inalum yang akan mencari utangan untuk membangun smelter buat Freeport.

Baca: Gonjang-ganjing Divestasi Sagam Freeport, Ini Dia Pendapat Said Didu -1 http://www.eksplore.co.id/2018/12/27/gonjang-ganjing-divestasi-saham-freeport-ini-dia-pendapat-said-didu-1/

Saat ini Inalum sudah memiliki utang sebesar 4 miliar dolar AS. Harusnya smelter itu sudah dibangun Freeport jauh hari sebelum Inalum masuk atas perintah UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan, Mineral, dan Batubara. Selain smelter, utangan itu juga untuk membangun instalasi penambangan bawah tanah. “Dengan kondisi seperti ini, pada 2019 Inalum berpotensi mengalami kesulitan keuangan,”  tutur Ketua Himpunan Alumni (HA) IPB periode 2008-2013 ini.

Karier Cepat

Mantan pegawai negeri sipil (PNS) yang mulai berkarier di BPPT itu tegas menyatakan dirinya bersikap kritis, karena tak ingin dicap sebagai penjilat. Dia termasuk pribadi yang berprestasi, baik secara akademik maupun kariernya.

Didu adalah lulusan S1 Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan teknik industri tahun 1985. Jenjang S2 dan S3 dirampungkan di kampus yang sama. Bahkan, gelar doktornya diraih dengan predikat summa cum laude.  Sedangkan kariernya dimulai sejak usia 26 tahun dengan jabatan pemimpin proyek. Menjadi pejabat eselon III di usia 31 tahun dan terus melejit. Jabatan eselon II diraih pada umur 41 tahun. Sedangkan jabatan eselon I direngkuh dari dalam tempo dua tahun kemudian.

Ada cerita heroik saat dia pertama kali  gagal masuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Seperti dikutip
alumniipb.org, Said Didu menulis surat ke Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) merangkap Kepala BPPT Prof Ing BJ Habibie. Tak dinyana, dia dipanggil Habibie. Diutarakanlah sikapnya bahwa BPPT tak boleh menolak lulusan IPB. Mengapa? Karena, kata dia, BPPT juga akan mempelajari bioteknologi. Alhasil, diterimalah dia menjadi insinyur BPPT. (ba2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *