Jadikan Hoaks Musuh Bersama

JAKARTA – EKSPLORE (10/1/2019) – Hoaks dalam bahasa latinnya “Hacus” atau mengelabui dan berita bohong serta tak benar. Karenanya para pengamat politik dan masalah kebangsaan menyatakan agar hoaks dijadikan sebagai musuh bersama.

Hal itu merupakan salah satu kesimpulan diskusi yang digelar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan dan Indonesian Public Institute di Jakarta, (10/1/2019). Diskusi yang bertajuk “Indonesia Darurat Hoaks, Siapa Untung” ini menghadirkan pengamat politik Adi Prayitno dari Universitas Islam Negeri, Direktur Eksekutif IPI Karyono Wibowo, staf pengajar UIN Adi Prayitno, prngamay polutik dari FISIP UI Ade Reza Haryadi, peneliti IPI Jerry Massie, dan pakar komunikasi Novita Damayanti Jakarta. Acara ini dimoderatori Ida Ayu Prasasti.

Ade Reza menyatakan, hoaks harus menjadi musuh bersama. Media massa, kata dia, harus menjadi salah satu kekuatan dalam memberantas penyebaran hoaks.

“Karena hoaks di media sosial, termasuk twitter, instagram, dan di facebook ini dampak negatifnya luar biasa. Yang diuntungkan kelompok-kelompok industri,” katanya.

Sedangkan Karyono menyatakan, hoaks tidak hanya digunakan untuk kepentingan politik, tapi juga di bidang ekonomi dan bisnis. Jika hoaks ini tak segera ditangani maka mengancam persatuan dan keutuhan bangsa.

“Saya mendorong hoaks itu harus dinyatakan sebagai kejahatan luar biasa, extra ordinary crime. Selain itu perlu ada gerakan nasional yang bisa mencegah agar hoaks itu tidak menjadi budaya bangsa,” katanya.

Sementara itu, Jerry menilai penyebaran hoaks dapat menjurus pada upaya pembunuhan karakter seseorang. “Ini termasuk salah satu character assassination (pembunuhan karakter) terhadap seseorang,” kata Jerry Massie.

Menurut Jerry, ada empat tempat ini perlu pembinaan sebagai langkah preventif terhadap hoaks. Pertama, rumah (home), di sini fungsi orang-tua membentuk anaknya agar terhindar dari hoaks. Kedua, tempat ibadah baik masjid dan gereja. Fungsi para tokoh agama untuk memberikan arahan moral. Ketiga, lingkungan (environment) sangat menentukan lantaran pergaulan dengan orang yang suka hoaks otomatis penyakit ini akan menular. Keempat, sekolah dan universitas (School and University). Di tempat inilah fungsi guru dan dosen mengajar bahaya hoaks.

Dalam pilpres kali ini kata Jerry, hoaks sengaja dibuat atau diciptakan untuk merusak kredibiltas seseorang terutama capres dan cawapres. “Saya lihat ini sengaja dimainkan dengan cara menyerang bahkan mempengaruhi electoral agar tidak memilih capres itu,” kata dia.

Jerry menambahkan, kasus hoax mirip hate speech (ujaran kebencian). Yang terjadi di Indonesia bahkan sudah berada pada stadium 4 seperti penyakit kanker. “Saya prediksi lapor-melapor terkait berita hoaks akan terus merajalela. Dan ini sulit dihentikan. Jokowi terus diserang lewat isu PKI dan Cina. Sedangkan Prabowo isu HAM,” ujarnya.

Sementara itu, Adi Prayitno berpendapat,
serangan hoaks tidak berpengaruh terhadap popularitas dan elekbilitas pasangan capres-cawapres, termasuk Jokowi-Ma’ruf. Hal itu ditandai masih unggulnya elektabilitas  capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf dari pasangan Prabowo-Sandi, merujuk hasil survei lembaga survei Indikator Politik Indonesia. “Kalau (fitnah) itu berpengaruh tidak mungkin elektabilitas Jokowi melenggang naik di atas 50 persen,” ujar Adi Prayitno. (ba1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *