Swasta Boleh Ikut Jual Avtur, Pendapatan Pertamina Bakal Turun

JAKARTA – eksplore.co.id Presiden Joko Widodo mengisyaratkan bakal ada pemain  baru avtur di bandara untuk  menandingi Pertamina. Mereka meeupakan swasta nasional maupun  asing. Saat ini, Pertamina nendapat hak memasarkan avtur di seluruh bandara di Indonesia.

Alasan bakal masuknya pemain baru itu, menurut Jokowi,  agar harga kompetitif. Sebab, Presiden mendapat masukan bahwa avtur termasuk kompunen harga tiket yang belakangan melambung tinggi. Dan, harga avtur mencapai kisaran 24-40% hari harga tiket.

Menurut Presiden, , akan ada banyak kompetitor dari PT Pertamina (Persero) yang antre agar bisa menjual avtur di Bandara Soekarno-Hatta. “Banyak kalau yang mau antre. Saya pastikan walaupun saya belum tahu (perusahaannya), tapi saya pastikan antre,” kata Presiden Jokowi di Jakarta, Senin (11/2/2919)

Direktur Eksekutif Eksplorasi Institute Heriyono menyatakan, harga avtur yang diterapkan Pertamina sebetulnya ada dua opsi yang bisa dilakukan.

Pertama, selama harga avtur Pertamina bisa kompetitif, maka masuknya pemain baru baik swasta nasional maupun asing tidak diperlukan. “Kedua, adanya kompetitor belum tentu mereka bisa memberikan penawaran harga dan layanan yang lebih baik dari Pertamina,” kata Heriyono, di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Menurut dia, setiap pemain harus memenuhi ketentuan yang berlaku di IATA (International Air Transport Association) dan juga sistemnya harus bisa EDI (electronic data interchange). “Kenyataannya, para pesaing Pertamina selama ini tentu saja hanya ingin masuk ke bandara gemuk saja,” ujarnya.

Sebab, mereka tidak akan masuk ke daerah atau bandara kecil dan perintis selama tidak ada aturan yang mewajibkannya. Padahal,, kondisi tersebut jelas tidak akan mendukung pemerataan maupun pengembangan pariwisata nasional.

“Pemenuhan kebutuhan avtur di bandara-bandara kecil dan perintis selama ini dapat dilaksanakan oleh Pertamina dengan prinsip subsidi silang, sama seperti program BBM satu harga,” jelas dia.

Karena itu, kata Heriyono, sebenarnya bisnis avtur di bandara sudah diatur dengan dibagi antara lain supplystorage, dan into plane and marketing. Supply and storage adalah sinergi BUMN dengan membuat join venture (JV) antara Pertamina dan PT Angkasa Pura.

Sedangkan bisnis into plane services and marketing yang mencari pelanggan, memasarkan produk dan services serta melayani pengisian ke pesawat dengan aman, swasta bisa masuk.

“Shell pernah masuk ke bisnis ini dan akhirnya pull-out karena marketingnya kurang berhasil (misal kreditnya terbatas), sehingga pelanggannya tidak banyak.

Mengutip data dari Kementerian Perhubungan, Heriyono menjelaskan, kontribusi harga avtur terhadap harga tiket hanya 24 persen, bukan 40 persen seperti yang digembar-gemborkan selama ini.
“Perlu diketahui, komponen utama harga selain avtur justru pemeliharaan (19 %) dan biaya sewa pesawat (16 %) yang sudah tinggi,” ujar dia.

Heriyono mengungkapkan, sewa (leasing) pesawat modusnya membuat kontrak ke pabrikan seperti Boeing, Airbus, dan sebagainya dengan harga yang lebih mahal dari harga maskapai lain.

“Tapi kemudian ditutupi dengan spesifikasi khusus. Ingat kasus yang sedang berjalan soal Roll Royce, di mana Garuda Indonesia kemudian mencari leassor yang bersedia mendanai dengan harga tersebut untuk disewa,” katanya.

Heriyono menjelaskan, sewa pesawat  menjadi mahal dan negosiasi menurunkan harga ke leassor sangatsulit dilakukan karena leassor terima harga jadi. “Sewa bisa turun agak besar jika diperpanjang waktu sewanya.”

Dia menambahkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno sudah sangat paham bahwa bersaing dengan Singapura sulit, tapi dengan negara-negaa Asean lainnya bisa.

“Sebenarnya, harga avtur Pertamina hanya sedikit di atas Singapura, bahkan bisa lebih murah. Misalnya ketika MOPS naik Singapura langsung menaikkan harga sementara Pertamina hanya mengubah harga sebulan dua kali, per 15 hari,” ucap dia.

Yang terang, bakal masuknya pemain baru avtur di bandara bakal menggerus pendapatan Pertamina. Padahal, saat ini pendapatan perusahaan pelat merah itu terus turun. Tahun lalu, akhir 2018, Pertamina membukukan keuntungan yang menurun dibanding tahun sebelumnya hingga 70%an.  (ba2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat