Hidupkan Lagi Asosiasi Pelatih Sepakbola yang Mati Suri

JAKARTA – eksplore.co.id – Andil para pelatih dalam mewujudkan pertandingan sepakbola yang fairplay sangat besar, di samping pelaku lainnya baik pemain, wasit, asisten wasit, hakim garis, komite disiplin, maupun pemilik klub. “Dan pelatih itu ibarat produser dan sutradara yang memegang perananan di panggung sepakbola,” tutur pendiri Asosiasi Pelatih Sepakbola Indonesia (APSI) Taufik J Effendi.

Sayang, saat ini kepengurusan APSI dalam keadaan vakum atau mayi suri. Itu sebabnya, Taufik dan para pendiri APSI lainnya ingin mengumpulkan para pelatih muda utamanya dalam sebuah silaturahim APSI. Pertemuan itu, kata Taufik, dimaksudkan untuk  mengaktifkan kembali APSI.

“Ya betul dan pelatih-pelatih muda harus memiliki etika dan ini perlu dijadikan dasar untuk mempersiapkan sepakbola Indonesia yang berkualitas,” kata Taufik yang juga CEO Persija Barat, kepada eksplore, Senin (12/3/2019). 

Menurut Taufik,  80% fungsi prlatih sangat strategis, termasuk mampu menangkal permainan kotor dan dinampilkan permainan sepakbola yang cantik di lapangan. “Karena itu kelahiran kembali APSI menjadi penting di saat PSSI sedang dirundung kasus pengaturan skor pertandingan,” kata Taufik yang juga pelatih  EDF La-Liga Soccer Academy Jakarta.

Rencananya, silaturahim para pelatih itu diadakan pada Ahad, 24 Maret 2019, pukul 15.00 – 18.00 di  Soccerpark Kedaung Indah, di Neglasari, Kota Tangerang.  Sedangkan acaranya adalah pertemuan para pelatih dengan para pendiri APSI dan bermain game bola, Game MIC7side antar pelatih.

Untuk konfirmasi kehadiran, agar menghubungi Vicky (081277068732). Selain Taufik,  para pendiri APSI yang bakal hadir di antaranya Bob Hippy. APSI diresmikan pada 22 Desember 2002 oleh Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia  (PSSI) Agum Gumelar pada 22 Desember 2002. 

Sebelumnya diadakan Seminar  “Persamaan Persepsi Menghadapi Kompetisi LBM 2003” di Sawangan, Depok pada 20-22 Desember 2002. Selain deklarasi, seminar itu menghasilkan Kode Etik Pelatih Indonesia. Di antara pasal Kode Etik Pelatih, yang paling menggigit adalah “menjadikan jabatan pelatih sebagai profesi terhormat dengan penampilan intelek dalam hal berpakaian, bertutur kata di dalam maupun luar lapangan. (ba1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat