Kemenkop dan Kopindo Kerja Sama Re-Branding Koperasi

JAKARTA – eksplore.co.id – Kementerian Koperasi dan UKM bekerjasama dengan Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo)  mengadakan re-branding perkoperasian di sekolah-sekolah dan kampus. Targetnya agar masalah koperasi dapat dimasukkan dapat pelajaran di sekolah-sekolah.

Sedangkan di kampus-kampus perguruan tinggi, bagaimana koperasi diminati kalangan mahasiswa. Hal itu diungkapkan Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Talkah Badrus dan Ketua Umum Kopindo Pendi Yusuf dalam pertemuan dengan Forum Wartawan Koperasi (Forwakop), di Jakarta, Jum’at (12/4/2019).

Talkah berharap, perkoperasian dan kewirausahaan bisa menjadi mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah, mulai tingkat SD hingga SLTA, termasuk pondok pesantren. “Kita sudah melakukan MoU dengan Kemendiknas dan Kementerian Agama terkait pengembangan perkoperasian pada lembaga pendidikan formal termasuk di pondok pesantren,” kata Talkah dalam acara yang dipandu Kabag Humas dan Advokasi Kemenkop dan UKM Darmono.

Keinginan itu tidaklah mulus tercapai.  Sebab, diakui Talkah, sulit masalah koperasi dan kewirausahaan menjadi mata pelajaran sendiri ke sekolah. Yang bisa ditempuh adalah memasukkan materi perkoperasian ke dalam mata pelajaran terkait, yaitu dimasukkan ke pelajaran IPS dan Ekonomi.   “Kita sudah melakukan perkuatan kualitas tenaga pengajar di tingkat SD hingga SLTA mengenai pelajaran perkoperasian dan kewirausahaan,” tutur Talkah.

Talkah menambahkan, pihaknya juga terus melakukan pengembangan modul-modul pengajaran perkoperasian dan kewirausahaan. “Saya berharap ada satu laboratorium di sekolah dimana koperasi sekolah sebagai laboratorium pembelajaran perkoperasian dan kewirausahaan bagi para siswa di sekolah”, ujar Talkah.

Bagi  Kementerian Koperasi dan UKM, kata Talkah, koperasi sekolah itu merupakan embrio pembelajaran koperasi dan wirausaha sejak usia dini. Sedangkan untuk perguruan tinggi, sudah ada pembinaan terhadap koperasi mahasiswa (Kopma). “Saat ini, Kopma sudah menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Kita juga sudah banyak melakukan kegiatan pelatihan perkoperasian dan kewirausahaan bagi para mahasiswa di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Kopindo Pendi Yusuf mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Kemenkop dan UKM dalam menggulirkan program Re-Branding Koperasi, khususnya di kalangan generasi muda. “Sosialisasi tentang koperasi juga kami lakukan di media sosial agar bisa sampai ke publik secara luas,” tutur Pendi.

Kopindo adalah bentuk koperasi sekunder yang menaungi sekitar 132 koperasi, bsik koperasi mahasiswa (kopma), koperasi pemuda, dan koperasi pondok pesantren (kopontren). Namun terbanyak adalah kopma. “Kopindo yang didirikan pada 1981 di Kota Batu, Malang, terus bergerak untuk melakukan re-branding dengan berbagai program sosialisasi tentang masalah perkoperasian di kalangan generasi muda,” kata dia.

Pendi menjelaskan, Kopindo melakukan langkah strategis di lapangan dengan masuk ke komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. “Kita akan masuk menyesuaikan diri dalam kegiatan usaha yang dilakukan komunitas tersebut. Kita juga masuk ke kalangan generasi muda lainnya sesuai dengan bakat yang dimiliki mereka,” kata dia.

Apa respons kalangan milenual tentang koperasi? Pendi mengungkapkan, mereka  baru sadar akan bentuk koperasi yang sesungguhnya,” tandas Pendi.

Selain itu, lanjut Pendi, Kopindo juga melakukan kegiatan peningkatan kapasitas dan kapabilitas pelaku koperasi di kalangan generasi muda, siswa dan mahasiswa. “Semakin banyak komunitas menggeluti koperasi, maka akan semakin banyak pengetahuan perkoperasian terdeliveri di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Dari kiprah selama 38 tahun, Kopindo sudah melahirkan banyak kader berkualitas yang tersebar di sektor wirausaha, profesional koperasi, hingga pelayanan publik. “Kita akan terus melakukan pengkaderan koperasi. Target ke depan, Kopindo akan membuat peta agar lebih banyak lagi edukasi perkoperasian dan kewirausahaan di kalangan generasi muda, terutama yang sudah berbasis digital,” kata Pendi mengakhiri penjelasannya. (ba3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat