Awas, Jelang Lebaran, Banyak Rentenir Berkedok Koperasi

 
JAKARTA – eksplore.co.id – Menjelang Lebaran Idul Fitri, masyarakat membutuhkan banyak dana untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk membayar zakat, memberi takjil, bersedekah, membeli baju baru, membeli kue Lebaran, dan biaya mudik.

Kementerian Koperasi dan UKM mengimbau masyarakat tidak tergiur iming-iming mendapat pinjaman dari pihak ketiga, termasuk yang berkedok koperasi. Sebab, sejatinya mereka adalah rentenir. Merrka juga mencatut nama koperasi yang sudah ada. Peringatan itu diungkapkan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno, Jum’at (24/5/2019) di Jakarta.

Ini contoh rentenir berkedok koperasi. Menyebarkan SMS berupa penawaran pinjaman kepada masyarakat awam.
+6285249699534: KSP Sejahtera Bersama menawarkan pinjaman online Bunga 4% min 5jt/500jt. U/info hub Marketing Chat wa 082151123788.

Suparno mengingatkan agar masyarakat hati – hati menerima tawaran jasa layanan keuangan. Jangan asal butuh karena menjelang Lebaran, lalu mengabaikan prinsip kehati-hatian. “Masyarakat harus melihat aspek legalitas dari lembaga keuangan tersebut selain juga harus memperhatikan aspek logis dari produk pinjaman yang ditawarkan,” kata Suparno.

Dia mengakui akhir-akhir ini marak koperasi yang menjalankan usahanya layaknya rentenir dengan memberikan bunga yang tinggi. Meski mengatasnamakan sebagai koperasi, kata Suparno, kegiatan para pengelola koperasi tersebut telah melenceng dari kaedah berkoperasi. “Praktik seperti ini marak menjelang lebaran mengingat kebutuhan masyarakat yang tinggi, terutama di pelosok daerah dimana masyarakat tidak banyak mendapat informasi yang tepat terhadap akses keuangan,” tegasnya.  

Suparno mengungkapkan ciri rentenir berkedok koperasi adalah  memberlakukan potongan administrasi yang merugikan dan suku bunga rendah yang palsu. Biasanya koperasi tersebut menawarkan kemudahan persyaratan, misal, hanya butuh KTP saja dan melayani masyarakat umum yang bukan anggota koperasi tersebut. 

Karena itu Suparno minta masyarakat  teliti membaca dan memahami mekanisme pinjaman yang  ditawarkan.  Jangan sampai belum mendapat manfaatnya sudah ditagih kembali. Pada akhirnya yang paling sering terjadi adalah kesulitan membayar pada rentenir yang pertama, masuk jebakan rentenir yang lain. “Kalau sydah demikian, bukannya mengatasi kesulitaan keuangan, justru masyarakat  terjebak pada lingkaran rentenir,” lanjutnya.  

Menurut Deputi Pengawasan Kemenkop ini, koperasi yang benar adalah yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus gerakan ekonomi rakyat yaitu berdasar atas kekeluargaan. Ia juga meminta masyarakat tidak mudah tergiur dengan penawaran bunga pinjaman, harus memperhatikan berapa bunga yang diterapkan oleh koperasi sehingga tidak kesulitan saat pengembalian.  

Pada kesempatan itu, dia menyarankan, masyarakat meminjam pada koperasi dimana mereka menjadi anggotanya.  Dengan begitu sebagai anggota sekaligus sekaligus pemilik, masyarakat berhak mengetahui penentuan bunga pinjaman yang diputuskan dalam RAT. Hal itu tentu sesuai dengan bisnis yang dijalankan koperasi. Intinya, bunga yang diterapkan rasional, menguntungkan kedua belah pihak, dan tidak saling membebani. (ba1)

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *