Dekopin Dorong Koperasi Jadi Bisnis Moderen


PURWOKERTO – Eksplore.co.id – Saat ini sudah banyak koperasi yang mampu menjelma menjadi unit usaha bisnis moderen. Hal itu ditandai dengan diterapkannya digitalisasi, terutama dalam hal pelayanan terhadap anggota.  Karena itu, Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) mendorong ada banyak lagi koperasi yang mampu menyesuaikan di dengan era industry 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi.

“Ada Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) yang sudah masuk ke jajaran 300 koperasi besar dunia di peringkat 94. Begitu juga dengan Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG),” kata Nurdin. Hal itu diungkapkan Nurdin dalam peringatan tingkat nasional Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke 74 di Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat (12/7/2019).

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, Nurdin mengajak koperasi segera menerapkan digitalisasi ekonomi dan sudah melangkah ke pola sharing economy. “Itu untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, momentum perubahan sangat terasa dan cepat. Dunia sekarang tanpa batas lagi. Koperasi harus siap menghadapinya,” ujar Nurdin.

Acara itu juga dihadiri Kenko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Gubernur Jateng Gsn6har Pranowo, juga Bupati Banyumas Achmad Husein, dan kalangan gerakan koperasi.

Transformasi Ekonomi

Sementara itu, Darmin menyatakan, Pemerintah mendorong seluruh kebijakan terkait ekonomi kerakyatan bisa diimplementasikan dengan pembentukan kluster ekonomi, terutama koperasi. Seperti, kebijakan redistribusi aset, Perhutanan Sosial, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Dengan membentuk kluster ekonomi atau koperasi, maka transformasi ekonomi akan lebih mudah untuk dilaksanakan,” kata Darmin.

Dia mengatakan, alokasi KUR dengan bunga murah 7% akan mudah tersalurkan untuk membantu pembiayaan KUMKM. “Dengan membentuk koperasi, kita juga akan lebih mudah mengorganisasikannya. Begitu juga dengan perbaikan di sisi budidaya lewat teknologi,” ujar Darmin.

Menurut Darmin, penerima KUR memang individu-individu. Namun, koperasi bisa memberikan daftar nama siapa-siapa UKM yang menjadi anggota koperasi yang layak mendapatkan KUR. “Saya mencontohkan, dengan transformasi ekonomi, petani tetap melakukan kegiatan menanam. Tapi, dengan perkuatan modal, petani menanam tanaman yang lebih menguntungkan,” ucap Darmin.

Dengan berkoperasi, kata Darmin, kebijakan redistribusi lahan bisa dilakukan secara maksimal. Dalam kebijakan Perhutanan Sosial, pemerintah membuka akses untuk mengusahakan lahan sosial. “Hanya saja, itu bukan untuk menebang, tapi untuk menanam dan beternak di atas lahan tersebut,” tutur Darmin.

Mantan gubernur Bank Indonesia ini juga menyatakan, pemerintah menerapkan kebijakan peremajaan kelapa sawit rakyat, karet rakyat, kelapa rakyat, hingga coklat rakyat. “Saat ini, ada sekitar 3,7 juta hektar lahan karet. Itu terlalu besar untuk satu jenis tanaman saja, alias pemborosan lahan. Ke depan, kita lakukan peremajaan dimana separuh dari lahan itu tetap untuk karet, separuhnya lagi bisa ditanami tanaman lain seperti kopi atau coklat”, papar Darmin lagi.

Di tempat yang sama, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengungkapkan, saat ini merupakan momentum yang tepat bagi koperasi untuk memasuki era digital. “Suka tidak suka, koperasi harus sudah masuk ke era digital. Di Jateng, ada beberapa koperasi bagus yang sudah 100% menetapkan sistem digital dalam sistem kerja dan melayani para anggotanya,” kata Ganjar.

Dia mencontohkan, BMT Sejahtera (Pekalongan), Koperasi Khairul Umah (Rembang), Koperasi Karika (Wonosobo), dan Koperasi Srikandi (Purworejo). “Itu membuktikan bahwa dengan kekuatan penuh dari anggota, koperasi akan mampu mengembangkan kinerjanya, termasuk di era ekonomi digital,” kata Ganjar.

Karena itu dia berharap koperasi mampu mengangkat kinerja pelaku usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia. Sudah banyak produk UKM berkualitas di Jateng yang layak untuk dikembangkan pemasarannya hingga ke pasar global.

Terkait kualitas koperasi di Jateng, Ganjar menegaskan, pihaknya tidak main-main dalam membenahi kinerja perkoperasian di wilayahnya. Saat ini, jumlah koperasi di Jateng sebanyak 22.422 unit. Sebanyak 3.817 unit di antaranya terdeteksi tidak aktif dan sudah tidak mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Koperasi yang sudah dibubarkan tercatat sebanyak 4.012 unit. “Kalau koperasi seperti itu tidak dibubarkan dan dibiarkan tetap hidup maka dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi koperasi yang lainnya,” tukas Ganjar.
(ag2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *