Suhadi, Owner dan Peracik Jamu dari Desa Kenep


SUKOHARJO – Eksplore.co.id – Indonesia dikenal dengan jamu tradisional yang sangat mendunia. Banyak macam dan jenis jamu sebagai bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia.

Sebut saja Haji Suhadi, satu dari ribuan produsen jamu. Tinggal di Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Awalnya sebagai perajin rumahan (home  industry). Kini sudah punya aneka pabrik. Pabrik jamu herbal, pabrik kosmetik, oabrik plastik, dan pabrik alat kesehatan rumah tangga. Dia adalah si empu UD Rachma Sari Jamu Herbal.

“Awalnya ya hanya sekitar 10 orang. Sekarang total hampir 100 termasuk pabrik plastik,” kata owner UD Rachma Sari Jamu Herbal Haji Suhadi, saat berbincang-bincang dengan para wartawan, pertengahan Juli 2019.

Urus Akherat, Duniapun Dapat

Ditanya soal bagaimana mengatur pabriknya yang begitu banyak,  Suhadi mengatakan, sekarang hampir tak pernah mengurus usahanya. Semua sudah dikelola oleh manajemen sendiri. “Sudah berjalan sendiri. Mau ditinggal satu bulanpun semua  insyaa’Allah sudah bisa jalan,” tuturnya.

Sebaliknya, dia kini lebih banyak memanfaat waktunya untuk beribadah dan mengadakan kegiatan keagamaan. Suhadi pun memegang satu kata bijak, “Kalau kita menanam padi, maka akan tumbuh rumput. Tapi kalau kita menanam rumput maka tidak akan tumbuh padi. Artinya, kalau akherat menjadi tujuan utamanya, maka dunia akan mengikutinya,” terangnya.

Itu sebabnya tak merasa rugi dia memberangkatkan karyawan dan warga sekitar pergi umroh. Tidak hanya itu.  Belum lama ini Suhadi juga mendirikan gedung  PAUD, sebagai bukti kepedulian sosial dan pendidikan.

“Alhamdulillah mulai kemarin tanggal 13 Juli 2019, PAUD serta TK Rachma Sari sudah mulai kegiatan belajar-mengajar. Ternyata sedekah bisa di mana-mana,” terangnya.

Haji Sujadi mengungkapkan, pabrik jamu herbal sudah berdiri sejak 2003 silam. Sebelumnya masih dikerjakan di rumah sebagai home industri. Kebetulan tahun 2013 Suhadi ditunjuk mewakili kabupaten Sukoharjo ikut lomba tingkat nasional dengan tema “Toga dan pemanfaatannya” . Dan Alhamdulillah sebagai juara I,” imbuhnya.

Tentu prestasi itu bukan miliknya sendiri, tapi berkat kerjasama para karyawan. Dia bersyukur, pabrik herbal jamu Rachma Sari sudah mendapat berbagai kunjungan, bahkan dari luar negeri. Seperti, Jepang, Kanada, Hongkong, dan Malaysia. Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) juga pernah berkunjung ke Kenep.

“Kunjungan juga datang dari Badan POM RI Jakarta bahwa di tempat kami ditunjuk sebagai percontohan di UKOT2  yang lain,” kata Suhadi. Dirinya pun juga pernah  menjadi pembicara Seminar Kesehatan yang diadakan Kementerian Kesehatan di Semarang.

Kunjungan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tersebut ke Kenep pada 1 April 2018 itu tidak sia-sia. Kepala BPOM Penny Kusumastuti pun menyerahkan Sertifikat Cara Pengolahan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) kepada UD Rachma Sari.

“Keberadaan Sertifikat CPOTB memudahkan produsen obat tradisional untuk membuka usaha karena sudah sah. Begitu juga bagi kami lebih mudah melakukan pengawasan. Nanti akan ketahuan kalau ada penyelewengan baik dari produsen maupun produknya,” tuturnya.

Ketika itu, Penny menjelaskan, BPOM RI terus melakukan pendampingan dan membina produsen obat tradisional. Mereka harus terus dibina agar tetap menghasilkan produk berkualitas. Tidak sekadar memenuhi pasar lokal dan nasional saja, tapi pabrik jamu lokal juga bisa masuk pasar dunia internasional.

Disinggung soal pemasarannya, Suhadi bika kartu. Perusahaannya bekerjasama pihak distributor khusus. Itu sebabnya pemasaran jamu produk Rachma sudah merambah di tingkat nasional.  Dari Sukohajo merambah ke Solo, Semaramg, Jakarta, Surabaya, Medan , Balikpapan, Bali dan sejumlah kota- kota besar lainnya. Bahkan sudah firkspor pula ke Singapore, Malaysia, India, dan Jerman.

Ihwal kiprah Suhadi juga diakui Kades Kenep Mudiarso. Dia mengaku bangga dengan prestasi Suhadi berikut kontribusi buat kampungnya. Secara tidak langsung pasti mengangkat citra Desa Kenep dan berdampak positif mendongkrak sektor usaha lainnya.

“Alhamdulilah peran serta Pak Suhadi sangat besar di daerah ini, apalagi Pemerintah Kelurahan Kenep sudah mencanangkan  Desa Wisata Kreatif, termasuk pembuatan jamu yang dikenal luas,” ujar Mudiarso menutup penjelasannya. (ba2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat