BJ Habibie: Menuai Penghormatan, Setelah Tak Jadi Presiden


Oleh Bani Saksono

Profesor Dr. Ing Bacharuddin Jusuf Habibie dipanggil Sang Khalik, setelah dirawat lebih dari sepekan di RSPAD Gatot Subroto. Dia mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 11 September 2019, pukul 18.03 WIB selepas azan maghrib. Jenazahnya dikebumikan di samping pusara istrinya Hasri Ainun Besari di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Banyak cerita dari berbagai sudut pandang diungkap dan diulas tentang sosok yang kini dijuluki Bapak Teknologi, juga Bapak Demokrasi Indonesia. Pak Habibie almarhum, bukan orang pintar, tapi sangat pintar, kata Presiden Indonesia Lawyer Club Karni Ilyas.

Pada 21 Mei 1998 disumpah menjadi presiden ketiga setelah HM Soeharto mengundurkan diri. Dan menjadi presiden hanya dalam tempo 1 tahun 5 bulan, karena pada 20 Oktober 1999 jabatannya digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid.

Cerita tentang kebesaran Habibie rupanya bertolak belakang dengan situasi saat dia menjadi presiden. Antiklimaks. Penuh hujatan dan caci-maki karena mewarisi label penguasa Orde Baru. Puncaknya, pada 14 Oktober 1999, 20 tahun silam,  tepatnya 14 Oktober 1999, dalam Sidang Istimewa MPR di Senayan. Saat memasuki gedung sabha paripurna, untuk menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Presiden, ketika itu masih sebagai mandataris MPR.

Dia tak diperlakukan secara protokoler negara. Semestinya, anggota MPR memberikan penghormatan kepada kepala negara dan kepala pemerintahan  dengan berdiri. Yang dialami justru teriakan tak senonoh huuuuuuuuu bertalu-talu. Teriakan itu baru berhenti setelah Habibie dipersilakan duduk oleh Ketua MPR ketika itu, Prof HM Amien Rais.

Puncaknya, laporan pertanggungjawabannya (LPJ)  ditolak MPR dalam sidangnya pada 20 Oktober 1999. Yang ikut menolak termasuk fraksi yang mencalonkan dirinya menjadi presiden periode 1999- 2004, Fraksi Partai Golkar. Padahal, sebelumnya Habibie adalah ketua Dewan Pembina Golkar.

Gara-garanya satu, merestui referendum rakyat Timor Timur yang berujung pada keputusan memisahkan diri dari Republik Indonesia dan merdeka. Timor Timur (Timtim) itu ibarat memelihara bara dalam sekam, sewaktu-waktu akan membara. Dan terbukti, berapapun anggaran dikucurkan untuk membangun Timtim, ujung-ujungnya tetap ingin merdeka. Sia-sialah para tentara pejuang seroja yang gugur merebut dan mempertahankan provinsi itu.

Jasa besar Habibie yang jauh lebih prinsip dalam mrmpertahankan kedaulatan negara seolah tanpa harga. Bagaimana kerja keras  tanpa dibantu wakil presiden, Habibie berhasil menjaga marwah reformasi tanpa harus negeri ini terpecah-belah. Tidak  seperti negara Uni Soviet yang evoria reformasinya berujung bubarnya negara itu berkeping-keping menjadi belasan negara.

Dia pula yang membuka keran demokrasi. Dtandai dengan terbentuknya banyak partai politik baru. Golkar pun juga diberi status partai politik. Masa pemerintahannya yang singkat, menjadi era kebebasan pers setelah dihapusnya surat izin usaha penerbitan (SIUP).

Di sektor ekonomi, pria kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1836 itu berhasil menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi. Dia berhasil memulihkan rupiah dari Rp 16.650 per dolar AS menjadi Rp7.000/dolar AS. Bahkan rupiah sempat berada di posisi Rp 6.500 sebelum akhirnya berada di angka Rp8.000 saat LPJ-nya ditolak MPR.

Padahal, Habibie termasuk warga negara terhormat di Jerman karena jasa-jasanya memajukan industri dirgantara di sana. Karya monumental di tanah air adalah pesawat baling-baling CN235-Tetuko. Patungan Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) dengan Casa, Spanyol. Tetap saja dinyinyiri dengan ejekan tetuko sebagai “sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku” (yang datang tidak beli, yang beli tidak datang-datang). Padahal pesanan pesawat jenis itu di luar negeri mengantre.

Berikutnya N-250 Gatotkaca. Murni buatan Indonesia. Namun belum sempat diproduksi massal karena pemerintahan Soeharto ketika itu masih kesulitan finansial. Kini karyanya yang terakhir juga menunggu uluran pemerintah, R80. Prototipnya dirancang PT Regio Aviasi Industry yang didirikan bersama putranya Ilham Habibie. Kini, Habibie mengantongi 46 paten teknologi dunia.

Ada satu pesan yang fenonenal dari Habibie. Yaitu yang disampaikan dalam dialog umum bertajuk ‘Indonesia Pasca-Reformasi dan Peran Lulusan Al-Azhar’ di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir, 6 Juli 2011. Ketika itu, Habibie mengatakan, “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu dan teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang. Tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat. Kalau saya disuruh memilih antara keduanya, maka saya akan memilih ilmu agama.”

Itu pula yang diungkapkan Wildan Nugroho dari Quranic Motivation saat mendengarkan ceramah ustad Bachtiar Nasir suai jetika. Agar menjadi cerdas, kuncinya di Alqur’an. Semua diungkap Wildan dalam tulisannya yang berjudul “Rahasia Kecerdasan BJ Habibie yang Tak Terungkap”.

Selamat jalan, Pak Habibie. Jasamu kini tak hanya kukenang, tapi juga kulanjutkan demi kejayaan Indonesia. Semoga husnul khotimah. (+)
Foto ist/repro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *