Kekuatan Ekonomi dan SDM, Bisa Jadikan Muhammadiyah Penentu Negeri

PEKALONGAN – Eksplore.co.id – Saat ini diperkirakan ada sekitar Rp 16 triliun dana milik amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang parkir di perbankan. Hal ini menunjukkan kenyataan bahwa hampir 100% pengelola AUM  itu masih bank minded. Cari aman. Padahal jika kekuaran  finansial itu dimanfaatkan untuk membesarkan BTM yang ada, diyakini  akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar bagi Muhammadiyah.

Namun, nyaris tak ada dana AUM itu yang disimpan di baitut tamwil Muhammadiyah (BTM). Hal itu diungkapkan Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi Anwar Abbas pada pembukaan Muhammadiyah Microfinance Summit 2019 di Pendopo Kabupaten Pekalongan, di Kajen, Kamis (19/9/2019).

Padahal, kata Anwar, keberadaan lembaga keuangan mikro/LKM (microfinance) tersebut tepat untuk menolong anggota yang kesulitan mengakses perbankan karena tak punya kolateral atau jaminan dan persyaratan administrasi lainnya. Karena itu, adanya LKM atau dalam bentuk  koperasi simpan pinjam pebiayaan sariah (KSPPS tentunya memberi peluang organisasi dan anggota untuk mengembangkan usahanya. Dia berharap para pengelola AUM mau menyimpan uangnya di BTM.

“Jika 25% saja ditempatkan di BTM, berarti ada dana Rp 4triliun yang bisa dikelola BTM,” tuturnya. Diyakini BTM tak sulit menyalurkan dana besar itu. Sebab, masih banyak AUM baik perguruan tinggi maupun rumah sakit yang kesulitan mendapat dana di bank-bank syariah karena ada batas maksimal pemberian kredit. Itu aturan yang dibuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Oleh karena itu kehadiran dari BTM sbagai solusi dari persoalan tang dihadapi oleh amal usaha saat ini tentu jelas sangat diharapkan dan dinantikan,” kata buya  Anwar Abbas ini. Apalagi, hal itu untuk mendorong dan menyukseskan pilar ketiga Muhammadiyah, yaitu ekonomi dan bisnis sesuai amanat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar.

Jadi Penentu Negeri

Jika hal itu terjadi di organisasi, yaitu adanya kekuatan modal, SDM, manajemen, dan IT yang dimiliki, Anwar optimistis, Muhammadiyah akan menjadi menjadi penentu di negeri ini. Dan kalau sudah menjadi penentu di negeri ini, para pihak tidak usah takut terhadap hal demikian, karena Muhammadiyah tidak zalim dan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya bagi dirinya.

“Tetapi dia (Muhammadiyah) akan menjadi organisasi yang akan menebar kedamaian dan kemaslahatan yang sebesar-besarnya bagi umat dan seluruh rakyat,” ujar Anwar.
Sikap optimistis terhadap Muhammadiyah juga diungkapkan Bupati Pekalongan Adip Kholbihi.

Saat membuka MMFS 2019, Asip menilai Muhammadiyah sudah teruju dslam mengelola keuangannya. Terbukti ada ribuan perguruan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi ada di organisasi berlambang matahari bersinar berhiaskan kalimat tauhid ini.

Sementara itu, Ketua Induk BTM Achmad Suud mengatakan, pihaknya optimistis BTM akan menjadi lembaga keuangan Muhammadiyah yang besar. Dia melihat animo pengurus Muhammadiyah di daerah-daerah termasuk di luar Jawa untuk membentuk BTM sangat besar. Saat ini baru terdapat setidaknya empat Pusat BTM tingkat provinsi, yaitu Jateng, Jatim, Banten, dan Lampung.

“Kami optimistis, kami akan keliling Indonesia untuk membantu mendirikan BTM di tiap kota atau kabupaten,” ujar Suud saat menyampaikan kegiatan MMFS 2019. Menurutnya, Induk BTM sedang punya kerja besar mewujudkan berdirinya Satu PDM Satu BTM.

Sebelumnya, Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 004/2017 yang ‘memerintahkan’ MEK di tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) untuk merealisasikan pembentukan BTM. (ba1)

FotoKetua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menerima cinderamata dari Bupati Pekalongan Asip Khilbihi (foto bani s)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *