Debit Waduk Gajahmungkur Menurun, Ratusan Hektar Lahan Gagal Tanam

SUKOHARJO – Eksplore.co.id – Krisis air di Kabupaten Sukoharjo, Jateng termasuk di Kecamatan Weru, Sukoharjo, mengakibarkan ratusan hektare (ha) areal pertanian kekeringan. Diprediksi, jika hingga Oktober belum juga turun hujan, sekitar 800 ha lahan sawah dan ladang tumpangsari atau polowijo terancam gagal panen.

Pasalnya debit air  dari waduk Gajah Mungkur  saat ini turun drastis. Demikian diungkapkan Sukino, ketua P3A (Perkumpulan  Petani Pemakai Air ) Kecamatan Weru, Sukoharjo, Jateng kepada Eksplore, Sabtu (21/9/2019).

‘”Saya sebenarnya sudah mengingat kepada seluruh para petani, berkali- kali beberapa bulan lalu kami minta agar sementara menanam selain padi, ini dikarenakan diprediksi stok air berkurang dan kemarau yang panjang,” terangnya.

Sukino mengungkapkan, pihak Dinas Pertanian Sukoharjo juga selalu mengingatkan agar petani mengantisipasi musim kemarau dengan menanam selain padi, seperti semangka, ketela, jagung, kedelai, dan tanaman palawija.

P3A maupun Dinas Pertanian setempat selalu menjelaskan bahwa di musim kemarau saat persediaan air minim, tanaman yang cocok adalah jenis semangka, melon, dan polowijo. Sebab, tanaman tersebut  tidak membutuhkan banyak air dibanding padi. 

Sukino mengaku sudah bolak-balik ke  Balai Besar Air di waduk Wonogiri untuk memantau perkembangan kecukupan air untuk lahan pertanian di Kecamatan Weru.

Sekadar diketahui,  untuk wilayah pertanian Kecamatan Weru mendapat jatah dari Balai Besar Air dengan kecepatan kapasitas air 3 meter per detik tiap minggunya.

Dia berharap petani di Weru dan sekitarnya tidak mengalami gagal panen. “Terkait kondisi ini semua pihak tidak perlu menyalahkan siapa- siapa., ini kondisi alam yang kita tidak mampu mengatasi. Kita. Hanya berusaha saja mas dan berdoa kepada Allah SWT agar diturunkan air hujan,” ujarnya.

Dari pantauan di Kecamatan Weru, banyak lahan pertanian masih kosong tidak ditanami para petani. Seperti  lahan pertanian Kelurahan Grogol,  sekitar 80 persen lahan pertaniannya dibiarkan kosong.

Hal ini diakui Heri Putut Sugiarto, Kades Grogol. Kondisi itu dikarenakan suplai air ke lahan pertanian berkurang drastis. “Ini kondisi alam mas, jadi kami tidak menyalahkan siapa- siapa,” kata Heri.

Hal serupa juga terjadi di Desa Tegalsari dengan lahan pertanian seluas 33 ha. Sebanyak 60% di antaranya gagal tanam karena kekurangan air.  Hal itu diungkapkan Nugroho, Kades Tegalsari Nugroho.

Gagal tanam dialami pula di puluhan hektar lahan pertanian di sejumlah desa lainnya. Seperti; Desa Karangtengah, Karangmojo, Weru, Karanganyar, Karangwuni, Alamombo, Jatingarang, Watubonang, dan Tawang. 

Saat dikonfirmasi soal kekeringan di banyak desa tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo Netty Harjianti tak bisa dihubungi karena sedang keluar kota. Nomor telepon Netty yang coba dihubungi menjawab, “tut tut tut.” (ab1)

Foto: Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jateng terpantau mulai menipis di bulan September 2019. Padahal waduk itu sebagai penyangga air untuk pertanian di sejumlah daerah Wonogiri, Sukoharjo dan daerah lainnya.(taufiq zuliawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *