Kemenkop dan PIBI Ikopin Adakan Pelatihan Digitalisasi Usaha Kopwan

BEKASI (Eksplore.co.id) – Agar usahanya tetap eksis dan berkembang maju, suka atau tidak suka, para pelaku koperasi dan UKM harus mengikuti arus perubahan. Kalau tidak, mereka akan tertinggal, tergerus oleh perubahan zaman dan mati.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan pada acara Pelatihan Digital Entrepreneur Bidang Pengembangan Jaringan Usaha Tahun 2019 di Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (9/10/2019). “Di era Revolusi Industri 4.0 semua dituntut untuk melek dan mengerti teknologi informasi dan teknologi digital, digitalisasi segala sektor memberikan manfaat besar kepada seluruh pelaku usaha. Teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk mencari ide-ide bisnis, memulai usaha dan mengembangkan usaha dan memperluas jangkauan dan jaringan pemasaran,” papar Prof Rully.

Berbicara di hadapan ratusan anggota Koperasi Wanita Sejahtera (Kopwantera) Bekasi, Prof Rully menjelaskan, digitalisasi koperasi akan mendapatkan manfaat seperti efisiensi, kemudahan akses dan layanan, hingga kemudahan pengawasan. “Diperlukan inovasi yang terus-menerus dan cara berfikir yang kreatif untuk dapat memenangkan persaingan usaha dalam era digital sekarang ini,” tandas Rully yang didampingi Direktur PIBI Ikopin Indra Fahmi.

Dia berharap, perkembangan era ekonomi digital harus dapat dimanfaatkan untuk memperkuat akses pemasaran, termasuk untuk membangun jaringan kolaborasi dan kerjasama dengan pelaku usaha lain dalam menjual produk-produk agar semakin berkembang dan luas jangkauan pasarnya. “Selanjutnya, mengenai desain produk, ini tidak kalah penting dalam strategi pemasaran yang kita pahami yakni 4P, yaitu product, price, place, dan promotion,” ujarnya.

Menurut survei APJI tahun 2018, pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta jiwa atau 64,8% dari seluruh jumlah penduduk. McKinsey memperkirakan, pasar e-Commerce pada tahun 2022 nanti akan mencapai Rp 800-950 triliun di Indonesia. Sehingga, akan menjadi pasar yang sangat potensial ke depannya.

Di tempat yang sama, Asisten Deputi Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM Nasrun menyebutkan, pelatihan itu merupakan kerjasama Kementerian Koperasi dan UKM dengan Pusat Inkubator Bisnis & Kewirsusahaan (PIBI) Ikopin. “PIBI Ikopin yang menyiapkan fasilitator dan pembicara yang kompetensinya tidak diragukan dan menyesuaikan dengan kebutuhan Kopwan,” kata Nasrun.

Selama empat hari ibu-ibu anggota Kopwantera akan mendapat sejumlah materi pelatihan. Di antaranya, penumbuhan minat wirausaha, jaringan usaha terkait peningkatan nilai produk, teknis mendesain kemasan, membangun jaringan marketing berbasis digital, branding dan media untuk usaha kecil.

“Materi lainnya adalah pentingnya networking dalam pengembangan bisnis, website publishing & search engine marketing, jaringan usaha terkait produk, hingga social media marketing,” jelas Nasrun.

Agar pelatihan ini berjalan efektif, kata Nasrun, diadakan pula uji coba digitalisasi pre test dan post test. Peserta juga mendapat materi digitalisasi pendaftaran pelatihan kewirausahaan program Birama (Bidik Wirausaha Mandiri), digitalisasi pelatihan jarak jauh, hingga digitalisasi penilaian fasilitator atau penyelenggara.

“Untuk meningkatkan kualitas hasil pelatihan kewirausahaan, saat ini kami telah membentuk tim evaluasi , kurikulum, Silabi, dan modul pelatihan untuk periode 2020-2024, yang mengikuti standar 1.0,” tukas Nasrun.

Sementara itu, Ketua Kopwantera Yatti Arief mengatakan, pihaknya tak hanya membutuhkan pembiayaan atau perkuatan permodalan saja. “Tapi kami juga membutuhkan pendidikan dan pelatihan seperti ini. Bahkan, diklat merupakan program rutin yang dilakukan Kopwantera. Sekarang kita mendapat bantuan program pelatihan dari Kemenkop dan UKM berupa pelatihan perkoperasian dan vokational,” kata Yatti.

Saat ini, jumlah anggota Kopwantera sebanyak 736 orang. Kopwantera memiliki fungsi dan peran dalam hal kemasan, perijinan usaha, hingga pemasaran. Jadi, para anggota bisa lebih fokus dalam hal produksi. “Dari jumlah tersebut, 160 orang di antaranya berasal dari kelompok yang masing-masing kelompok sebanyak 10 orang,” tuturnya.

Yatti menjelaskan, di Kopwantera ada program pemberdayaan kelompok usaha wanita bernama Kelompok Kasih Ibu. “Mereka yang didominasi usaha mikro dan kecil mendapat pembiayaan, pendampingan usaha, dan pengembangan usaha, dari koperasi,” pungkas Yatti. (bs1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *