Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) akan membawa data 411 kasus pengaduan dari Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ke Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

JAKARTA (Eksplore.co.id) – Tidak heran banyak pekerja migran Indonesia dilecehkan ketika bekerja di luar negeri. Karena, perjanjian kerja ini tidak hanya kurang maksimal dibuat oleh perusahaan penyalur di dalam negeri, tapi hubungan pemerintah kedua negara belum membahas secara mendalam.

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) akan membawa data 411 kasus pengaduan dari Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ke Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Langkah ini dinilai sebagai bukti pihaknya serius melindungi ABK asal Indonesia. “Kita tidak ingin BP2MI hanya menjadi lembaga penampung pengaduan kemudian mengambil tindakan mengendapkan dengan sengaja kasus-kasus yang diadukan para ABK,” kata Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani melalui diskusi daring pada Kamis (14/5/2020).

Dengan demikian, BP2MI mempertanyakan kenapa kasus-kasus yang diadukan tidak pernah sampai pada tahap berkas perkara dinyatakan lengkap oleh jaksa penuntut umum (JPU) atau P21.

Kendala, penanganan ini disebabkan sebagian besar ABK bekerja di kapal ikan asing secara individual, sehingga sulit dipantau BP2MI. Selain itu tata kelola ABK.

“Pokok permasalahan sulitnya penyelesaian penanganan kasus ABK Perikanan bermuara ketidakjelasan tata kelola penempatan dan pelindungan,” jelasnya. (mam)

 

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini