Oleh Elza Peldi Taher*

HARI ini, 4 Januari 2021, Denny JA, sahabat baik saya sejak 38 tahun lalu, berusia 58 tahun. Usia yang boleh dibilang tak lagi muda. Tentu saja saja saya kaget kalau Denny hari ini berusia 58 tahun. Betul kata orang, waktu berjalan bagaikan kilat.

Saya tak ingat persis kapan pertama kali ketemu Denny JA. Tapi tahunnya saya ingat betul, 1983. Waktu itu kami masih mahasiswa. Denny kuliah di Fakultas hukum UI dan saya di FISIP UI. Kami bertemu pertama kali di Proklamasi 51, rumah Pak Djohan Effendi, seorang pembaharu Islam yang cukup terkenal.

Pak Djohan menyediakan rumahnya tempat diskusi anak anak muda. Karena alamat rumahnya di jalan Proklamasi, maka kemudian dikenal sebagai Kelompok Studi Proklamasi.

Waktu itu, sedang hangat hangatnya buku Pergolakan Pemikiran Islam yang disunting oleh Djohan Effendi dan Ismed Natsir. Buku itu berisi catatan harian Ahmad Wahib, alumnus FMIPA Fisika UGM, sahabat Djohan Effendi. Wahib meninggal di usia muda dalam kecelakaan tahun 1974 di Jakarta.

Bertahun tahun setelah meninggal, Djohan Effendi dan Ismed Nadsir menyunting catatan harian Ahmad Wahib jadi buku dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam (PPI).

Buku itu kemudian menjadi sasaran kritik bahkan demonstrasi sebagian kelompok Islam. Mereka berangapan buku PPI berbahaya bagi umat Islam.

Muncul berbagai aksi dan demonstrasi. Pak Djohan kemudian mengundang anak anak muda untuk mendiskusikan buku kontrovesil itu di rumahnya.

Diskusi PPI itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kelompok Studi Proklamasi. Tujuan utama kami adalah memperdalam agama Islam yang terbuka dan modern.

Sejak itu hampir tiap hari minggu selama bertahun tahun kami berkumpul di rumah Pak Djohan yang mewakafkan waktu dan tenaganya menemani kami. Selain kami berdua juga berkumpul Budhy Munawar Rachman, Jon Minofri, Jojo Rahardjo, Ali Samudra Allah, Halimah, Muhammad Asrun dan kemudian menyusul Munawir, Nazrina Zuryani, dan Syaefudin Simon.

Pada mulanya yang datang amat banyak tapi kemudian mengkristal menjadi nama nama di atas saja.

Makin lama Kelompok Studi Proklamasi makin mengkristal dan berubah gerakannya. Diskusinya tak hanya soal Islam. Tapi juga soal pembangunan dan Kebangsaan.

Dari hanya sekedar diskusi internal di antara kami, kelompok ini kemudian aktif mengadakan diskusi di berbagai kampus. Hasil diskusi sering diliput media masa.

Denny kemudian dipilih menjadi ketua pertama dari Kelompok Studi Proklamasi (KSP). Ia terpilih kembali menjadi ketua dua tahun berikutnya.

Sayangnya KSP kemudin bubar. Karena perbedaan pendapat di antara kami. Saat pemilihan ketiga saya dan Budhy Minawar-Rachman ingin Denny lengser. Tapi Denny dan kawan yang lain ingin bertahan. Kami kemudian memilih bubar dan membangun kelompok diskusi masing masing.

Setelah KSP bubar, saya bersama Halimah, Nazrina dan Budhy mendirikan lembaga studi baru: Lembaga Kajian masyaraat Indoensia. Sedangkan Denny JA bersama Jon Minofri dan Jojo Raharjo mendirikan lembaga. lain.

Kembali ke pertemuan awal dengan Denny. Kali pertama bertemu saya sudah punya rasa kagum pada Denny. Ia bicara runtut, kalimat teratur, mudah dicerna, dan suaranya bariton. Enak didengar. Tapi yang paling penting, bacaan dan referensi Denny luas sekali.

Jika bicara suatu topik, Denny mengutip berbagai buku dengan canggih untuk mempertahankan argumentasinya. Padahal waktu itu kami masih mahasiswa tingat dua atau tiga.

Sejak pertemuan pertama itu, kami kemudian akrab. Tiap minggu bertemu seharian di rumah Pak Djohan, dan setelah pertemuan biasanya kami pergi ke tempat lain untuk menghabiskan waktu.

Salah satu keisengan kami seusai diskusi minggu di rumah Pak Djohan adalah mendatangi tempat tukang ramal atau yang kini dikenal sebagai paranormal. Kami sering pergi ke beberapa tempat untuk menanyakan nasib dan masa depan kami. Sebagian kami kesana cuma iseng saja, tak serius. Kami juga tak percaya apa yang dikatakan peramal. Salah satu paranormal yang rutin kami kunjungi waktu itu adaah Mama Lauren.

Mama Lauren meramal, bahwa salah satu dari kami, yaitu Denny akan menjadi orang penting. Ketika usia Denny memasuki kepala empat, kata Mama Lauren.

Mendengar ramalan itu kami cuma mesem mesem. Tapi Denny amat senang. Berulang kali ia menyebut ramalan itu di kemudian hari . Ramalan itu agaknya menjadi semangat Denny untuk mencapai cita citanya.

Puluhan tahun kemudian apa yang dikatakan Mama Lauren bahwa Denny akan menjadi orang penting ternyata benar. Tahun 2004, Denny membuat ikhtiar baru mendirikan lembaga Survei bersama kawan kawannya yaitu Lembaga Survei Indonesia (LSI). Ini lembaga survey pertama di Indonesia. Lembaga ini kemudian menjulang namanya.

Karena konflik internal Denny keluar dari LSI. Ia mendirikan Lingkaran Survei Indonesia. LSI Denny JA ini kemudian merajai survey survey dan konsultan politik di tanah air hingga kini

Berkat Lingkaran Survei Indonesia yang kini dikenal dengan LSI Denny JA, Denny berubah menjadi jutawan dalam waktu tak lama. Ia mendapat banyak kontrak dari cliennya baik untuk menjadi bupati, gubernur maupun presiden. Cliennya antri ketika terbukti ia sukses menjadikan mereka sebagai kepala daerah.

Denny kemudian menjadi ikon lembaga survey dan Konsultan politik. Ia ikut terlibat dalam empat kali pemenangan presiden sejak 2004. Sebuah rekor yang luar biasa.

Dengan uang yang dimiliknya Denny kemudian mendirikan berbagai usaha bisnis tambang, batu bara, resto bunga rampai, Cafe Pisa, beberapa apartemen. Salah satunya adalah futsalcamp, Ciputat di mana saya diberikan amanah oleh Denny untuk mengelolanya sampai kini. Kini Denny membangun banyak budget hotel yang ramah kantong konsumen di berbagai kota. Denny tahu, budget hotel pasarnya luas dan terus berkembang.

Financial Freedom

Dalam berbagai percakapan, Denny sering mengatakan bahwa cita cita menjadi kaya sudah lama terpendam di benaknya. Denny beranggapan: untuk menjadi orang berguna dan menebar kebaikan tak ada pilihan lain, kita harus menjadi kaya. Jika kita kaya dan berbuat baik, dampaknya akan tera dibanding miskin.

Pendapat Denny ini agak mengherankan. Karena Denny beguru pada seorang tokoh yang amat dikenal sederhana, Djohan Effendi. Ia juga mengagumi tokoh Gus Dur, Gandhi, Cak Nur, dan tokoh sejarah yang hidup asketis atau sufistis seperti Jalalufin Rumi.

Denny terus terang, meski menggagumi tokoh tokoh asketis tersebut, mengaku tak punya keberanian dan kenekatan seperti Djohan Effendi, Mahatma Gandhi, dan Rumi.

Melalui perenungan bertahun-tahun, demikian pengakuan Denny, akhirnya ia memutuskan untuk menempuh jalan yang sebaliknya: Menjadi kaya tapi berguna untuk manusia.

Melalui berbagai bacaaan yang memberinya inspirasi, Denny mulai terpesona dengan konsep Financial Freedom, bebas secara finansial.

Hidup akan jauh lebih bebas jika pertama-tama kita sudah bebas secara finansial, serba cukup bahkan berlebih secara materi. Kita tak perlu lagi bekerja mencari nafkah, karena kita sudah memiliki mesin uang untuk membiayai kehidupan kita sehari- hari. Waktu yang ada dapat dialokasikan mengerjakan hal yang sangat kita sukai dan berguna bagi orang banyak.

Dalam berbagai kesempatan Denny mengatakan ingin menjadi seperti “sufi modern.” Yaitu tokoh yang mendapatkan pencerahan spiritual tapi juga kaya raya. Sehingga ia juga dapat memberikan charity untuk menolong orang lain.

Dalam pandangan Denny , intelektual dan pencari kebenaran tak lagi harus hidup sederhana. Bahkan jika bisa, intelektual justru harus kaya raya sejauh kekayaannya dibangun dengan cara yang benar.

Jika intelektual kaya raya, ia dapat membuat perpustakaan, membangun universitas, memberikan beasiswa kepada banyak orang, memberangkatkan rombongan untuk naik haji, membangun rumah ibadah, menyumbangkan dana untuk riset, dan membuat keluarganya berkecukupan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Setelah menjadi kaya, sukses dengan LSI Denny JA, putra asli Palembang ini konsisten meneruskan cita cita hidupnya: berderma untuk orang lain. Ia menjadi filantropis.

Sikapnya pada kawan kawan tidak berubah. Ia tetap hangat dan jauh dari sikap sombong. Dengan kekayaannya Denny kemudian menjelma menjadi seorang filantropis. Ia amat dermawan, terutama jika itu menyangkut kawan kawan lama. Amat banyak kawan yang dibantunya. Ia mudah memberikan dana untuk perkembangan ilmu pengetahuan; membantu seorang penulis mencetak bukunya, jika ia beranggapan buku itu bagus.

Saya menjadi saksi betapa mudahnya dan betapa banyak Denny mewakafkan sebagian kekayaannya untuk membantu kawan atau mendukung kegiatan keilmuan.

Satu hal yang tidak saya lupakan ialah percakapan sekitar Februari 2019 usai kami lari pagi di Ancol. Waktu itu selama beberapa bulan, saya, Agus Edi Santoso (Agus Lennon), Isti Nugroho, Jonminofri, Iwan, Jojo Rahardjo, mengadakan kegiatan rutin: jalan pagi dan senam di Ancol. Senam itu diinisiasi oleh Denny demi sahabat kami aktivis Agus Edi Satoso yang sedang menderita sakit jantung. Dokter menyarankan Agus jalan pagi di pinggir laut untuk meringankan sakit jantungnya.

Suatu pagi, Agus tak kelihatan. Baru pertama kali ia absen. Denny bertanya mengapa Agus tak datang dan bagaimana perkembangan operasi jantungnya.

Saya kemudian menyampaikan kepada Denny bahwa Agus sudah periksa kesehatannya di rumah sakit. Dokter menyatakan Agus perlu operasi jantung. Tapi karena pakai BPJS, baru akan operasi jantung sekitar 8 bulan lagi. Itu sudah keputusan rumah sakit berdasarkan saran dokternya.

Sementara itu kondisi Agus makin memburuk. Wajahnya pucat dan dadanya sering sesak. Denny kaget. Dia bertanya jika operasi tanpa BPJS berapa biayanya? Saya sebut jumlah yang cukup lumayan. Dengan entengnya Denny berkata “ Elza, katakan pada Agus secepatnya, jika perlu besok ia operasi. Tak usah menunggu BPJS. Semua dana operasi dari saya, sesuai yang Elza sebutkan tadi.” Saya dan kawan kawan tercengang karena ia mengucapkan itu begitu mudahnya padahal dananya amat besar.

Saya kemudian menyampaikan pesan Denny pada Agus. Ia menyambutnya dengan sangat gembira.

Paginya jam 05.00, Agus sudah memberi tahu saya, ia dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk memberi tahu dokter bahwa ia siap dioperasi dengan biaya sendiri. Tapi tak lama kemudian Agus kembali menelpon tanpa semangat. Ia bicara dengan nada sedih bahwa operasi tak bisa dilakukan dalam keadaan kesehatan Agus sekarang. Jantungnya tak memenuhi syarat untuk operasi. Tak lama kemudian, meski tak terbuka, Agus agaknya sudah diberitahu dokter bahwa jantungnya sudah terlambat untuk operasi. Ia diminta legowo menerima kondisi terburuk, hidup rileks saja. Januari 2020 Agus Edi Santoso berpulang.

Seorang Demokrat

Sebagai teman, Denny amat bersahabat dan hangat. Jika bicara Denny bisa diajak bercanda tapi juga bisa serius. Kapan pun kita bertemu selain percakapan rileks dan ringan, ia pasti menyelipkan sesuatu yang serius yang sedang menjadi obsesinya.

Jika Denny sedang terobsesi pada sebuah buku atau gagasan, ia akan amat bersemengat menceritakan itu pada semua orang. Cara bicaranya yang menarik, pilihan katanya yang runtut membuat dialog dengan Denny selalu berisi dan mencerdaskan.

Banyak yang mengatakan Denny itu cuma seorang pebisnis yang mencari uang. Ia tak punya idelogi sebagai alat perjuangan. Apapun akan dikerjakannya jika itu menghasilkan uang. Saya kira itu penilaian yang keliru.

Hal itu muncul karena orang melihat kiprah Denny sebagai konsultan politik yang sering mendukung calon yang dianggap tak patut didukung oleh seorang Denny yang berlatar belakang aktivis. Sebagai konsultan politik Denny akan mendukung seorang calon, siapan dia, jika sang calon punya kans untuk menang dan mereka bersepakat.

Deny menyatakan tak mungkin mendukung calon yang baik tapi tak punya kans untuk menang. Apa lagi dalam politik, pilihannya bukanlah memilih calon yang baik di antara yang baik. Tapi “memilih calon yang buruk di antara yang terburuk”.

Untuk menilai seorang Denny, lihatlah dari tulisan-tulisannya, baik dalam bentuk buku maupun artikel yang jumlahnya banyak sekali. Hampir tiap hari Denny menulis artikel, terutama di sosmed.

Tak banyak penulis yang seproduktif Denny. Dari tulisannya itu kita kemudian bisa menilai siapa Denny JA, apa ideologinya.

Bagi saya Denny itu seorang inteletektual sekaligus seorang demokrat. Ia mendukung tinggi demokrasi sebagai jalan bagi sebuah bangsa untuk maju dan berkembang. Semua tulisannya memperlihatkan sikapnya membela demokrasi. Ia terbuka untuk dikiritik, sekalipun kritik itu menghina dia. Dihina dengan bahasa apapun, ia tak terpancing untuk membalasnya. Ia juga tak terpancing untuk marah. Ia jalan sendiri dengan keyakinannya, dengan pendapatnya dan siap menempuh resiko apapun dengan orang yang berbeda.

Denny adalah orang yang dalam istilah Minang menjalan prinsip hidup “ dangakan kecek uang, iyokan kecek awak”. Dengarkan kata orang, tapi lakukan apa yang ingin kita lakukan sesuai keyakinan kita. Ia bagaikan batu karang jika sudah berpendapat terhadap sesuatu, sekalipun digempur dari segala penjuru.

Sebagai temannya, saya beberapa kali berhadapan dengan Denny dalam masalah seperti ini. Yang amat terasa ialah sikapnya waktu Pilkada Jakarta. Denny memilih tak mendukung Ahok, tapi sebaliknya. Sementara kawan kawan mayoritas memilih Ahok. Masalahnya di banyak WAG Group, Denny tanpa kompromi terus menggempur dengan tulisan tulisan yang isinya tak mendukung Ahok. Malah mendiskreditkan mantan bupati Belitung Timur itu.

Salah satu yang paling tragis adalah WAG Ciputat School, sebuah WAG yang didirikan oleh sebagian besar angkatan 80-an dan menjadi rumah diskusi yang hangat. Mayoritas memilih Ahok tapi Denny terus share tulisan yang tak mendukung Ahok. Kepada Denny berkali kali saya ingatkan agar stop, tak usah kirim tulisannya kr WAG tersebut demi keutuhan bersama. Tapi Denny jalan terus, tak peduli. Berulang kali saya ingatkan, ia kukuh dengan sikapnya. Denny berkata “ biar saja Elza, ini pembelajaran demokrasi yang sesungguhnya. Nanti juga habis pilkada kita bersatu lagi”.

Akhirnya apa yang saya katakan menjadi kenyataan. Ciputat School ditinggalkan teman yang tak sepaham dengan Denny. Hubungan kami dengan teman teman itu yang berjalan baik puluhan tahun memburuk, bahkan sampai kini. Kepada Denny saya sering bergurau — sampai akhir zaman hubungan kita dengan teman teman itu tak akan membaik. Denny cuma tersenyum, tanpa ekspresi.

Tapi itulah Denny JA. Ia bagaikan batu karang dengan argumennya, didukung bacaannya yang amat luas, siap dibully dan dihina dengan kata kata kasar sekalipun. Tapi ia tetap hangat pada semua orang, termasuk kepada pembencinya sekalipun.
Saya amat senang Denny kini kembali ke habitatnya sebagai seorang penulis yang produktif. Profesi yang telah menghantarkan namanya menjadi pesohor di negeri ini. Itulah rumah yang sesungguhnya seorang Denny JA. Rumah idamannya sejak saat masih jadi mahasiswa.
Sekali lagi, Met Milad ya Denny.

*alumnus UI, penulis buku “Manusia Gerobak”

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini