BRISBANE (Eksplore.ço.id) – “SHARP Edges,” sebuah tembang dari group band Inggris Linkin Park, terdengar memenuhi ruangan seluas 4m x 4m, sebagai background menemaninya melukis. Kali ini pilihan melukisnya adalah di balik kartu pos, dan merespon gambar kalender tahun 2020.

“Saya sedang menyiapkan pameran tunggal di Inggris bulan ini,” kata Yuliana Kusumastuti, mantan wartawan Bernas Yogyakarta yang menetap di Australia sejak 21 tahun lalu. Yuliana, atau akrab disapa Nana mencoba menggambarkan suasana batinnya ketika menyiapkan sejumlah lukisannya.

Perempuan ini menyelesaikan pendidikan S2 jurusan seni rupa, tahun 2006 di Charles Darwin University, Darwin, kota di bagian utara Australia.

“Untuk pameran tunggal di Galeri TOD Itu berawal dari ide untuk eksplorasi memori di tahun 2020,” lanjut wanita kelahiran Semarang 53 tahun lalu, akhir November 2020 kepada Eksplore.

Tahun 2020, menurutnya, adalah tahun paling ekstrem, yaitu merupakan masa paling sulit dilalui semua orang, dan kesedihan dari dampak covid-19 yang sampai sekarang masih belum usai. Nana pun mengungkapkan perasaan tercerabut dari keluarga, tidak bisa kembali keIndonesia, merasa khawatir dengan dirinya sendiri maupun orang-orang yang dicintainya. Namun pada saat yang sama merasa menjadi lebih ‘dekat’ dengan mereka secara emosi. Dia pun ingin mempertanyakan kembali identitasnya sebagai wanita di masyarakat.

Refleksikan Perjalanan Hidup

Ungkapan emosi jiwa itu Nana tuangkan dalam bentuk gambar kalender tahun 2020 yang bertema Australia, seperti landscape, flora dan fauna, tempat tempat ikon, dengan pilihan warna yang cerah, teknik layering dan bentuk-bentuk unik abstrak. Lukisan jiwanya juga dituangkan dalam bentuk postcard bertema Indonesia and Australia, dua tempat yang menjadi ‘rumah’ di hatinya, ‘’Displacement and Memory”.

Lukis postcard itu dipamerkan Di TOD Gallery di Kent, Inggris. Dibuka 21 November dan berakhir 27 November 2020. Pada pameran, postcards dipasang berjajar, sehingga penonton bisa melihat dari dua sisi, begitu juga dengan kalender, bulan dan tanggal di sebalik gambar menjadi penanda tahun 2020.

“Siapa yang bisa melupakan tahun 2020?, orang kehilangan pekerjaan, depresi, takut terkena covid yang mematikan, rindu dengan keluarga, dan bahkan rindu menghirup udara segar. Sangat menyakitkan,” tutur wanita yang akan mengikuti sejumlah proyek seni rupa di tahun depan.

Pameran ini juga merupakan kelanjutan tema dari pameran sebelumnya di Australia yang mengekspresikan jati diri lewat memori masa kecil, perjalanan hidup sebagai wanita dan ibu dari dua anaknya, Embun (21 tahun) dan Gunung (26 tahun). Kedua anaknya itu selalu menjadi inspirasinya saat harus hidup sebagai minoritas di negara lain.

Nana memang aktif menggelar pameran bersama di beberapa kota di Australia. Dia pernah menjadi finalis untuk sebuah kompetisi lukisan.

Dalam suasana pandemi covid-19 yang dipadu dengan pengalaman hidupnya, Yuliana memilih warna warna cerah. Mengapa? Itu artinya kita tidak bisa dipenjarakan oleh masa lalu, sekalipun itu menyakitkan. Permainan warna dan garis dalam lukisan menunjukkan keterbukaan terhadap segala tafsiran. Dia biarkan orang lain bebas menafsirkan simbol-simbol bawah sadarnya yang tersirat dalam lukisan. Hati kadang punya alasan sendiri yang tak ingin diketahui oleh akal pikiran.

Menambah warna di atas warna, seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, banyak pertentangan nilai yang ada dalam masyarakat atau individu secara pribadi. Bila keduanya bisa dijembatani dengan ekspresi seni, maka yang ada adalah harmoni. Itulah filosofi lukisannya.

“Melukis buat aku, selain memasuki dunia yang hanya aku bisa mengerti, juga belajar terus tentang kehidupan. Garis-garis tipis dan tebal, seperti ke mana tujuan kita melangkah, dan hidup adalah pilihan,“ ungkap Yuliana yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di PAUD.

Ada mentor yang selalu mendukung, menyemangati dan memberi masukan untuk setiap karyanya. I Made Wianta dan keluarganya. Lewat mbak Intan, istri Wianta, Nana acap mengirim gambar lewat WA. “Dan kami berkomunikasi. Namun belum sempat mengucapkan terimakasih secara langsung, beliau sudah berpulang. Aku sangat kehilangan,’’ tuturnya.

Akhirnya, Nana mengakhiri perbincangannya dengan beberapa potong kata,
“…We all fall down…
We live somehow…
We learnt what doesn’t kill us ..
Makes us stronger…”

(bani saksono)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini