Bahasa Arab yang Mencerdaskan

Oleh Fachry Ali*

SEMALAM, Media Zainul Bahri dan Rifqi Muhammad mengunjungi saya. Kami bercakap hingga larut malam.

Rifqi adalah doktor dalam ilmu hadits di UIN Jakarta dan Ketua Prodi Jurusan itu. Ia berjanji mengirim disertasinya untuk saya. Media Zainul Bahri baru saja membacakan pidato anugerah profesor di UIN. Kini, ia akan melanjutkan program post-profesornya dg melakukan studi ‘Lima Puluh Tahun Perkembangan Pemikiran Islam Indonesia’. Untuk tujuan terakhir inilah Media Zainul Bahri mendatangi saya. Dibantu dua asistennya, Media merekam percakapan semalam.

Di hadapan mereka, saya cuma bernyanyi. Saya berpesan jangan remehkan nyanyian. Sebab dalam ilmu sosial nyanyian adalah ‘dokumen sosial’.

Media dan Rifqi mampu berbahasa Arab dengan bagus. Maka, saya ingat apa yang pernah saya utarakan dekade lalu: ‘Orang bukan Arab mampu berbahasa Arab pasti atau senantiasa cerdas.’

Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, adalah contoh menarik. Juga Martin van Bruinessen. Ini diikuti generasi lebih muda seperti Komarudin Hidayat, Azyumardi Azra, Bahtiar Effendy, Abdul Aziz, Nadirsyah Hosen (kini mengajar di Fak Hukum Monash University, Melbourne, Australia), Burhanudin Muhtadi, Saiful Mujani, Din Syamsudin, Syafiq Hasyim, Najib Burhani, Amin Nurdin, Tafta Zani, Oman Fathurrahman, Moch Nur Ichwan, Aguk Irawan, Ulil Absar Abdalla, Ahmad Sahal, Saleh Abdullah, Nanang Tahqiq, Asep Usman Ismail, Idris Thaha, Emha Ainun Nadjib, Pipip A Rifa’i Hasan, Sukron Kamil, Roy Murtadho, Ahmadie Thaha (penerjemah ‘Muqaddimah’ karya Ibn Khaldun), Mun’im Sirry (sekarang mengajar di sebuah perguruan tinggi Amerika Serikat), Arskal Salim, Mulyadhi Kartanegara, Fu’ad Jabali, Muhamad Ali (sekarang mengajar di salah satu perguruan tinggi Amerika Serikat), Guntur Romli, Masdar Mas’udi, penyair Jombang Binhad Nurrohmat, Jamal D Rahman, Lies Marcoes, Siti Ruhaini Dzuhayatin, Faizah Ali serta Mukti Ali Qusyairi (alumnus Ponpes Liboyo dan Al Azhar, Kairo, kini di Komisi Fatwa MUI Pusat dan PWNU DKI) , Musda Mulia, Sukidi (baru menyelesaikan studi di Harvard University), Kiai Baha, Zacky Umam, Islah Gusmian, Muhamnad Wahyuni Nafis, Nong Daroi Mahmada, Ace Hasan Syadzily, Asep Salahudin, Moeflich Hasbullah dan —seraya minta maaf kpd yg tak sempat saya sebutkan— ribuan lainnya.

Kecerdasan mereka terlihat pada buah pikir dan karya-karya tulis yg telah diterbitkan di dalam maupun luar negeri. Tampak sekali ada kesejajaran antara kemampuan bahasa Arab dengan produktivitas dan kualitas berpikir mereka.

Mengapa mereka cerdas? Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling sukar dipelajari. Mempelajari bahasa Arab mengubah struktur saraf di otak pusat yang menyebabkan orang makin pinter.

Sebetulnya, tidak hanya mempelajari bahasa Arab yang membuat struktur saraf otak pusat berubah sehingga menjadikan orang makin pinter. Tapi juga mempelajari bahasa lain, terutama yang struktur kalimat, fonem, dan grammernya memancing perubahan struktur logika bahasa asli. Seperti bahasa Jerman, Cina, dan Jepang. Orang yang mempelajari ketiga bahasa ini pun akan makin cerdas.

Bahasa Arab memiliki karakter seperti itu. Kelebihan lainnya, bahasa Arab sangat kaya dengan makna dan tata bahasa. Itulah sebabnya bagi orang yang menguasai bahasa Arab mendalam, tafsir Qur’an dan hadist sangat jauh berkembang. Sehingga menemukan fleksibilitas yang sangat kontekstual dengan zamannya — di luar perkiraan orang-orang yang menafsirkannya secara tekstual; yang hanya merujuk pada satu tafsir dan mazhab tertentu. Itulah kelebihan bahasa Arab.

Mungkinkah, karena hal tersebut, Alqur’an diciptakan dalam bahasa Arab? Tanyakan pada Kyai Muti Ali Qusyairi yang pernah membuat kitab tentang keluarga berencana dalam bahasa Arab di Mesir. Mukti juga pernah membuat cerpen dan syair/puisi dalam bahasa Arab waktu kuliah di Al-Azhar. Cerpen dan puisinya pun dimuat koran setempat di Negeri Piramida tersebut. Di Indonesia, terbukti Mukti Ali Qusyairi mampu membuat buku Mazhab Cinta dalam bahasa Indonesia yang isinya sangat bagus.

Dari perspektif itulah, kenapa saya sejak dekade lalu menyatakan bahwa orang yang bisa berbahasa Arab dengan baik, pastilah orang cerdas. Sebab bahasa Arab itu sangat sulit. Buktinya, sejak kecil saya berusaha belajar bahasa Arab, tapi hingga tua seperti sekarang ini, saya tetap tidak mampu berbahasa Arab.

*peneliti dan kolumnis

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini