SUKOHARJO (Eksplore.co.id) – Berawal dari semangat untuk menolong dan peduli terhadap sesama. Kalimat itu pas disematkan pada sosok Anna Mawar Setyawati, terapis Bekam Keluarga Omah Kayu Thibbun Nabawi yang beralamatkan di  Dukuh Ganggang, Desa  Tawang, Kecamatan  Weru, Sukoharjo. Persisnya ada di sebelah utara Masjid Al Huda, Desa Ganggang, masuk lewat Gapura Ganggang.

Ia yakin setiap menanam kebaikan pasti Allah membalas kebaikan yang lebih besar. Balasan Allah itu bisa berupa kesehatan, keberkahan dalam segala hal, keberkahan nikmat imam,  keselamatan, dan banyak hal. Bagi Anna, rezeki Allah bisa datang dari arah yang tiada disangka-sangka. Sebaik- baik manusia adalah yang  banyak memberi manfaat pada sesama. Itulah kata-kata mutiara yang selalu tertanam di kepalanya.

Berawal dari semangat untuk menolong dan kepedulian terhadap sesama itulah alumnus Pondok Assalam Solo itu memutuskan untuk menjadi terapis bekam keluarga. Profesi itu sudah dijalaninya sejak beberapa tahun lalu. Rasa empati kepedulian kemanusiaan diakuinya sudah tertanam sejak kecil.

“Ini keputusan yang harus saya jalani  untuk tetap bisa menolong dan berbagi kepedulian pada sesama mas,” kata Anna Mawar Setyawati, putri dari pasangan Moestaqim Toto Raharjo-Wafini Ammah. Sang ayah adalah mantan Lurah Tawang pada tahun 1973.

Menurut Anna, bekam adalah bagian dari Thibbun Nabawi yang dianjurkan Nabi Muhammad shalallahu alayhi wassalam. Bekam itu menyangkut peredaran darah, sumber kesehatan dan persoalan penyakit.

Ia mengaku, sebagai seorang terapis dituntut harus punya kompetensi. Karena, para  terapis bekam tidak  lepas dari pertanggungjawaban profesional di dunia dan tanggung jawabnya di akhirat.

“Alhamdulillah saya alumni diklat PBI ( Perkumpulan Bekam Indonesia) banyak ikut pelatihan bekam dan kerja praktek di Bekasi dan Jakarta. Sekarang saya balik deso untuk menemani ibunda di rumah sekaligus membuka praktek bekam keluarga di Omah Kayu dan sebagai bakti sosial untuk pelayanan  kesehatan bekam sesuai visi dari Dinas Kesehatan,” terangnya.

Anna mengaku pernah menangani sekitar 100 pasien dalam satu waktu. Mereka datang tidak hanya dari Weru dan desa-desa sekitarnya. Banyak pula yang berasal dari kota lain. “Alhamdulillah rata- rata para pasien enteng badannya mas, sehat. Atas ijin Allah para pasien pada sehat. Para pasien yang datang punya beragam profesi. Dari keluarga guru, dokter, pejabat, dan sebagainya,” kata perempuan berhijab ini.

Dia bersyukur, sekarang sudah  u banyak dokter yang menerapkan bekam. Contohnya Doktet Wadda’ dari Lamongan dan Dokter Galih dari Sukoharjo.

Kegiatan Sosial
Bekam Keluarga oOmah Kayu sudah 5 kali ikut kegiatan bakti sosial yang diadakan Yayasan  IRMAS Sukoharjo. Jika tidak ada aral melintang, dalam waktu dekat ada  kegiatan pengabdian masyarakat.

Kegiatan yang diberi nama  ” Baksos Thibbun Nabawi” itu diselenggarakan Bekam Keluarga Omah Kayu bekerja sama dengan Tim Medis IRMAS Sukoharjo dan Takmir Masjid Alhuda Ganggang.

Kegiatan sosial itu akan berlangsung pada 22 Maret 2020 bertempat di Omah Kayu. “Kegiatan sosial ini  didukung PBI dan KTPI, Semoga mendapat dukungan dari berbagai pihak demi keberkahan kegiatan sosial ini,” katanya.

PBI, Perkumpulan Bekam Indonesia adalah lembaga resmi yang menjadi  Mitra Depertemen Kesehatan. Dulu namanya ABI- Asosiasi Bekam Indonesia. Ketua PBI Sukoharjo adalah Ust Rizky.

PBI mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dam HAM yaitu AHU-0001855.AH.01.07.2015. PBI merupakan wadah para praktisi dan terapis pengobatan bekam dari berbagai pelosok Indonesia. Mereka mandiri dan berperan aktif untuk menyehatkan bangsa. Ini sejalan dengan Visi Kementerian Kesehatan.

Anjuran Untuk Bekam
Anna yang juga pegiat aktivis kemanusian dan sosial itu mengatakan, sebagian masyarakat sudah mengenal bekam tradisional. Dari sejarah, bekam sudah ada sejak ribuan tahun dari zaman ke zaman. Namun bekam dipandang dari  perspektif Thibbun Nabawi belum banyak dikenal masyarakat.

Ada perbedaan mendasar. Bekam tradisional mengutamakan pengobatan fisik. Tapi bekam bagian dari Thibbun Nabawi punya tujuan penggobatan totalitas.
Baik jasmani maupun rohani, baik akal pikiran dan emosii, maupun hati. “Sebelum bekam diawali dulu dengan wudhu dan doa untuk mengharap kesembuhan datangnya dari  Allah. Itu salah satu yang kita lakukam terhadap pasien,” ungkapnya.

Masih dari penjelasan Ana, bekam adalah metoda pengobatan dengan cara mengeluarkan toxin/racun/darah kotor dengan alat bekam yang steril.

Karena pada tubuh manusia ada sisa metabolisme yang harus dibuang. Untuk mengeluarkan darah kotor di ginjal, caranya melalui bekam. “Jika toxin tidak dibuang akan menjadi sumber berbagai penyakit. Itulah kenapa diceritakan Rasulullah saat Isro’ Mi’roj. mendapt perintah agar ummatnya berbekam sebulan sekali,” tuturnya.

Ana mengakui pertama kali mengenal terapi bekam langsung adalah Dr Wadda, asli Lamongan dan alumni UNS. “Saya ikut pelatihan pas acara Dauroh Bekam di Hotel Baron Solo,” kata sarjana ilmu syariah ini.

Dokter Wadda sendiri sudah menulis lima judul buku tentang bekam. Sumbet tulisan tentang bekam berasal dari para ilmuwan muslim seperti   Aiman bin ‘Abdul Fattah engan buku berjudul “Keajaiban Thibbun Nabawi, Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi”.

Di buku itu tertulis berkat  bekam dan atas ijin kesembuhan dari Allah,. Dari hasil penelitian yang dilakukan  sungguh mencengangkan. Bekam mencerminkan banyak kondisi kesembuhan yang luar biasa.

Semua itu merupakan bukti keagungan ilmu Nabi dan mukjizat besar yang dibawa  “guru pertama”, Rosulullah Muhammad Shallaahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya, bekam disampaikan kepada kita oleh ilmuwan besar Arab bernama Muhammad Amin Syaikhu.

Penelitian terkait bekam dilakukan terhadap 300 kasus. Apa hasil penelitiannya? Pertama, kasus tekanan darah tinggi (hipertensi), tekanan darah turun hingga mencapai batas normal.

Kedua, dalam kasus tekanan darah rendah (hipotensi), tekanan darah naik hingga mencapai batas normal. Ketiga, garis irama fetak jantung pada EKG menunjukkan perbaikan besar dan kembali kepada konsisi normal dalam irama yang teratur.

Keempat, penurunan kecepatan aliran darah hingga batas normal. Kelima, jumlah sel darah merah (eritrosit) menjadi normal. Keenam, dalam kasus polisitemia (kelainan dimana kadar Hb darah diatas normal, misal 17,5 g/100 ml) Kadar Hb (Hemoglobin), turun sampai pada batas normal (12-14 g/100 ml).

Ketujuh,  dalam kasus penurunan kadar hemoglobin (Anemia), kadar Hemoglobin naik sampai normal yang ditandai dengan aktivitas tubuh dan perkembangan kemampuannya dalam memproduksi sel darah merah secara normal. Selanjutnya meningkatkan aktivitas dan efektivitas transfer oksigen melaluinya.

Kedelapan, jumlah sel darah putih (lekosit) meningkat dalam 60% kasus dan masih dalam batas normal. Kesembilan, jumlah sel darah putih pada penyakit paru-paru meningkat 71,4% pada beberapa kasus. Ini menunjukkan kesembuhan yang cepat bagi para pengidap rheumatism dan infeksi kronis setelah adanya pembekaman. (ban)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini