(catatan Yuliana Kusumastuti, Brisbane)*

PAGI itu, anak perempuanku, Embun pamit pulang ke Melbourne. Aku tidak bisa mengantarkan ke bandara karena harus bekerja, dan menerima sms beberapa jam kemudian kalau dia sudah sampai selamat dari penerbangan Brisbane ke Melbourne. Melepaskan rindu dua minggu dengan anak yang tinggal di lain kota karena harus belajar, rasanya tidak cukup, aku akan memberinya kejutan akan terbang ke Melbourne dua minggu lagi di hari ultahnya, tanggal 23 Maret 2020. Biasanya kami bergantian saling menjenguk tiga bulan sekali.

Tetapi rencana tinggal rencana, karena seminggu kemudian, wabah virus Corona merajalela ke benua Australia juga. Informasi tentang virus ini sebenarnya sudah kita ketahui sejak akhir Januari 2020. Karena, ada laporan penumpang kapal pesiar Diamond Princess terdeteksi positif kena virus yang asalnya dari kota Wuhan, di Cina, harus berhenti di Jepang untuk mengkarantina para penumpang, termasuk penumpang asal Australia.

Sejak pertengahan Maret hingga saat ini sudah dikonfirmasi lebih dari 6.000 yang ditest, meninggal 97 orang, selebihnya dalam tahapan recovery.
Di negara yang semuanya nyaris berjalan teratur, tiba tiba kehidupan sehari-harinya berubah drastis. Semua orang nervous menunggu apa yang harus dikerjakan, duduk di depan televisi menanti keterangan resmi dari pemerintah, pagi dan sore.

Semua Menjadi Tidak Jelas

Istilah social/physical distancing kemudian menjadi trend. Tetapi apa daya, manusia dengan egonya lupa dengan imbauan itu. Yang terjadi adalah kekacauan. Di supermarket misalnya, tiba-tiba puluhan orang menyerbu untuk berebut tissue toilet. Entah apa yang ada di kepala mereka, berebut tissue dan menimbunnya. Yang lebih sadis, menjual kembali dengan harga mahal. Di ebay misalnya, tissue yang seharusnya hanya $5 dollars segepok, menjadi $30 dollars. Belum lagi kepanikan untuk sanitasi dan basic needs lainnya seperti pasta dan lain-lain.

Kekacauan yang mereka pikir seperti tidak ada hari lain. Meskipun sudah diberi tahu berulangkali tidak perlu menimbun tissue, tidak perlu panik dan memborong semua keperluan rumah tangga yang tidak perlu, karena selalu ada stock, hanya perlu dibatasi jumlahnya agar adil untuk semua.

Jadi di mana pun berada, keserakahan dan egois itu ada pada individu yang tidak mengerti toleransi. Hal seperti itu kemudian membuat toko memberi kebijakan baru, memasang pengumuman hanya bisa berbelanja keperluan penting dengan jumlah terbatas, seperti pasta, buah dan sayur beku, juga sanitasi.

Di pusat kota, pertokoan mulai ditutup, café-café hanya boleh menyediakan kopi pesenan dan langsung harus dibawa pergi. Begitu juga kantor-kantor yang mulai meminta pegawainya untuk bekerja dari rumah. Hanya fasilitas penting yang masih berfungsi seperti kantor pos, kantor pengadilan, rumah sakit, sekolah sekolah yang masih harus memfungsikan guru untuk mulai mengajar jarak jauh, juga fasilitas day care untuk anak-anak dari keluarga yang orang tuanya harus berangkat ke tempat pekerjaan.

Urusan Publik

Hampir di semua fasilitas publik, diberi batasan jumlah orang yang ada di dalamnya, diberi tanda masuk dan keluar, juga tanda dimana orang harus antri. Juga disediakan sanitasi untuk pengunjung ketika masuk dan keluar dari toko. Semua trolley belanja dibersihkan setelah dipakai. Biiasanya petugas di counter pembayaran akan memasukkan barang belanjaan kita di tas. Sekarang kita sendiri yang harus melakukannya.

Di beberapa toko ada pembatas kaca untuk menjaga kesehatan petugas, disarankan untuk tidak melakukan pembayaran tunai untuk mengurangi kontak dengan petugas. Bahkan di supermarket, seperti Coles atau Woolworth, untuk manula diberi fasilitas belanja jam 7-8 pagi, sehingga tidak harus cepat-cepat dan berdesakan. Beberapa petugas disiapkan di depan toko untuk memeriksa kartu identitas. Kemudahan ini sangat membantu mereka, karena kebanyakan dari orang lanjut usia di sini tetap mandiri, nyopir sendiri, dan belanja keperluan rumah tangga sendiri, meskipun mobilitas tubuh mereka tidak secepat yang masih muda usia.

Urusan Domestik

Bekerja dengan anak-anak di bawah 5 tahun, tentu todak hanya membutuhkan kekuatan fisik karena anak- anak itu dalam masa pertumbuhan. Tapi juga kekuatan mental karena anak-anak butuh pendampingan dalam belajar dan perlindungan agar mereka merasa nyaman selama tidak bersama keluarga, pagi sampai sore.

Ketika Covid-19 menimpa Australia, anak-anak ini menjadi kebingungan, karena orang tua tiba-tiba bekerja di rumah. Tetapi anak- anak tetap berangkat ke ‘kindy’ (itu istilah mereka untuk fasilitas yang buka dari jam 7 pagi hingga 6 petang). Ketika mereka ke ‘kindy’ tidak banyak teman datang, karena sebagian orang tua murid memilih untuk menjaga anak di rumah agar bisa lebih terisolasi dan tidak terkena penyebaran virus.

“Ke mana teman temanku?” begitu pertanyaan anak-anak yang masih berumur sekitar 2 tahunan. Tetapi untuk anak-anak usia pra TK, jawaban mereka beraneka ragam. “Bapak ibuku bekerja di rumah, sampai virus menghilang mereka baru bisa kembali ke kantor, aku ke sini, biar orang tuaku bisa bekerja, dan aku bisa bermain,” kata salah satu anak pra TK.

Untuk orang tua, seperti yang mereka tuturkan ketika pagi hari mengantar anak ke kindy, sebagian merasa berat bekerja di rumah. Karena, tidak bisa optimal menjaga anak dan berkonsentrasi di depan computer. Tidak seperti di Indonesia yang sebagian besar mempunyai asisten rumah tangga, di Australia semua urusan rumah tangga diurusi oleh suami istri sendiri.

“Aku harus membawa anak ke sini karena berat untuk bekerja di rumah dengan dua anak lain usia sekolah dasar yang berada di rumah dan aku harus mendampingi mereka belajar online dan harus menyelesaikan tugas kerja ku setiap harinya.”

Masalah domestik ini menjadi masalah yang membuat keluarga stress. Yang biasanya bisa dibantu oleh kakek dan nenek untuk mengantar atau menjemput cucu, sekarang tidak diperbolehkan lagi, karena orang lanjut usia yang sangat rentan terkena Covid 19. Para kakek-nenek tinggal di rumah untuk mengisolasi diri dan tidak ada kontak dengan anak kecil.

Urusan Finansial

Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba, sangat mempengaruhi kestabilan finansial keluarga. Pemerintah Australia segera melakukan tindakan untuk mensupport penduduk yang kehilangan pekerjaan. Bisnis yang merugi di atas 30 % mendapat bantuan dari pemerintah untuk tetap menggaji pegawai, hingga bulan September.

Keluarga yang harus membayar biaya untuk penitipan anak di Kindy mendapat bantuan bebas biaya. Institusi keuangan, seperti bank, asuransi kesehatan dan juga untuk para penyewa rumah mendapat keringanan. Begitu juga biaya tagihan listrik, air dan telepon juga dipermudah.

Tindakan pemerintah untuk membantu semua lini agar kehidupan terus berjalan, tetap saja membuat banyak orang frustasi, karena belum tentu juga nantinya ketika pandemi ini berakhir tempat kerja mereka akan buka lagi, karena bangkrut. Semua tidak pasti, dan diperkirakan banyaknya orang mendaftar kerja juga akan menjadi masalah besar di akhir tahun ini, karena kompetisi di semua industri akan berlipat lipat jumlahnya dibanding dengan lowongan kerja pada saat keadaan normal. Bahkan untuk lebih mempermudah urusan dengan keuangan, bagi yang ingin menjual rumah. Penjualan rumah tetap berlangsung secara online, bank juga memberi keringanan dengan bunga yang rendah, juga untuk membekukan cicilan selama 6 bulan ke depan.

Urusan Kesehatan

Diperkirakan semakin banyak orang yang mengalami depresi di masa pandemi ini. Karena, mereka harus terisolasi di dalam rumah, bagi yang tidak biasa tinggal di rumah karena selalu aktif di luar rumah dan ditambah masalah kehilangan pekerjaan, juga berpikir tentang masa depan yang tidak jelas.

Kunjungan ke dokter juga dibatasi. Hanya melalui telpon, kecuali untuk pemeriksaan yang penting. Kesehatan fisik dan psikis menjadi salah satu alasan utama bagi orang orang dan keluarga untuk tetap berpikir positif di masa seperti ini, sehingga banyak disediakan hotline untuk konseling.

Urusan Keluarga

Untuk keluarga yang tinggal serumah, mungkin tidak banyak kendala, kecuali keterbatasan untuk tidak bertemu kakek nenek yang paling rentan dengan wabah ini. Tetapi untuk keluarga yang anggota keluarga tidak tinggal serumah akan sulit. Anak perempuanku menelpon tiap hari karena berbeda kota, menanyakan keadaanku karena dianggap aku lebih rentan dengan penyakit dibanding dengan anak muda. Anak laki-lakiku tinggal di Brisbane juga tetapi juga tidak bisa berkunjung, kecuali naik mobil, karena kendaraan umum juga tidak direkomendasikan di saat ini, untuk mencegah penularan virus.

Pentingnya kontak dengan keluarga dan saudara menjadi perhatian jasa telpon provider dengan memberi kemudahan dan extra bonus waktu bicara tanpa tambah biaya. Bagi manula yang tinggal di rumah jompo juga sangat dibatasi kunjungan untuk mereka. Banyak gambar dan video yang memperlihatkan pertemuan anggota keluarga dengan para kakek-nenek hanya lewat jendela kaca sambil melambaikan tangan.

Urusan Gaya Hidup

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang selalu menjaga penampilan diri, dengan rajin ke salon dan melakukan perawatan kosmetik lainnya yang hanya bisa dilakukan di klinik kosmetik. Juga bagaimana dengan mereka yang doyan belanja untuk kepentingan lifestyle? “Aduh salon tutup, bagaimana dengan urusan rambut, perawatan muka, botox dan manicure pedicure.” Percakapan yang menjadi hiburan untuk mentertawakan diri sendiri bagaimana orang-orang sangat tergantung dengan fasilitas seperti itu. Salon-salon sebelum diharuskan tutup, hanya dibatasi untuk setiap pelanggan berada di salon selama 30 menit saja. Trntu saja hal ini membuat chaos juga.

Virus Segera Berlalu

Sejak bulan April hingga bulan Mei, sudah banyak kemajuan dari pencegahan menularnya virus corona ini. Dimulai dari boleh keluar rumah untuk olahraga sendirian, untuk belanja kebutuhan penting sehari-hari atau keperluan mendesak. Dari hanya dua orang, menjadi lima orang boleh berkunjung, sepuluh orang boleh berkumpul di tempat umum atau tempat usaha, dan akan dilanjutkan dengan perpustakaan, playground, dan café dan salon dibuka, juga perjalanan dengan jarak dekat akan menjadi lebih panjang sampai ke perbatasan propinsi. Semua kebijakan ini dilakukan secara bertahap dan di evaluasi lagi, hingga akhirnya kehidupan akan menjadi normal lagi, kalau bisa dibilang normal lagi.

Ketika tulisan ini dibuat, di negara bagian Queensland sudah memperbolehkan perjalanan dengan mobil hingga 150km dalam satu hari, café-café bisa menerima booking untuk sepuluh orang saja, pesta pernikahan bisa dihadiri 10 orang. Yang suka camping juga akan menjadi berita gembira karena akan segera diperbolehkan. Banyak orang bereaksi positif dengan tetap mempertimbangkan kesehatan diri, membawa sanitasi, dan tetap menjaga jarak.

Ada yang menjadi pelajaran dari adanya corona ini, tutur beberapa narasumber. Pentingnya keluarga, pentingnya menjaga kesehatan diri, pentingnya menjaga sustainability lingkungan dengan mengkonsumsi yang perlu saja, juga tidak boros dengan uang, lebih mengapreasi dan cinta lingkungan.

Satu hal yang saya lihat menjadi kebiasaan baru sejak adanya virus, lebih banyak orang keluar di pagi atau sore untuk berjalan kaki menghirup udara segar dan juga pesepeda ada di mana-mana, berkeliling ke hutan-hutan lindung dan menikmati keindahan alam. Orang-orang lebih banyak memanfaatkan keadaan ini dengan melakukan hal yang positif bersama keluarga, yang mungkin tidak mereka lakukan sebelum ini.

Banyak perilaku kita yang berubah karena adanya pandemi ini, dan berubah menjadi lebih baik.

(yuliana kusumastuti, mantan wartawan koran di Yogya, kini tinggal di Brisbane, Australia)

 

Advertisement

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini