Jakarta, (Eksplore.co.id) – Banyaknya kasus – kasus radikalisme dan terorisme yang terjadi di Tanah Air–menjadikan keprihatinan dari berbagai banyak kalangan. Apalagi dalam kasus – kasus tersebut melibatkan para anak – anak muda sebagai tersangka dan pelaku. Untuk menanggulangi dan sekaligus sebagai upaya preventif agar generasi muda tidak terlibat dalam radikalisme dan terorisme, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS), Kamis (27/05/2021) kemarin menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) secara virtual dengan tema : Membentengi Milenial dari Paham Radikalisme dan Terorisme.

Acara tersebut dihadiri oleh Rektor Dr. Ayub Muktiono S.iP CIQaR, Dekan FIA (plt) drs I Wayan Sugiana MM, Ketua LPKK Dr. Susetya Herawati ST, M.Si, aktivis Mahasiswa Unkris, aktivis SMAN 5 Bekasi, MA al-Ihsan Pondok Gede, SMA Yadika 4, SMK Hutama, SMA Hutama, SMK Yadika 6 dan SMA As-Syafiiyah 02 Jatiwaringin dengan menghadirkan narasumber internal Wakil Dekan 3, Saefudin Zuhri, S.Sos., M.I.P. Satgas Pencegahan Terorisme BNPT 2014-2020 Ikhwan Syarief, S.Pd.I., M.Si., Pegiat Deradikalisasi NII Crisis Center , Sukanto, S.IP., dan Kasubnit/ Unit 6 Polres Bekasi Kota Edi Suprianto dengan moderator Siti Asyiah Indriyani.

Rektor UNKRIS, Ayub Muktiono dalam sambutannya di FGD tersebut, mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh mahasiswa FIA. Ia mengatakan, didalam situasi pandemi seperti ini masih saja ada para mahasiswa yang mau aktif memikirkan hal -hal mana yang boleh dan mana yang tidak, khususnya dalam meradiasikan gerakan anti terorisme dan radikalisme.

“Pemahaman ini penting bagi mahasiswa, kita tahu persis meskipun paham terorisme dan radikalisme di Indonesia ini para kelompoknya satu dan yang lain tidak saling cocok, tapi ada satu persamaan yaitu dalam perjuangan mengganti ideologi Pancasila dengan Ideologi lain,”kata Rektor.

Senada dengan Rektor, Saefudin Zuhri, Wakil Dekan 3 FIA yang juga Penulis Buku Deradikalisasi Terorisme, menyatakan, bahwa terorisme pada dasarnya bisa melekat pada ideologi mana saja, pengikut agama apa saja, dan siapa saja. Terorisme bisa melekat di kelompok radikalis, juga bisa melekat di kelompok ekstremis, juga di kelompok sparatis.

“Pada gerakan terorisme agama faktor penyebaran pahamnya mudah, karena ada persoalan psikologis, lalu ada politik, ada ekonomi bahkan sosial yang dibalut dengan doktrin agama. Langkah pencegahan bisa dilakukan dengan mendorong anak muda ini untuk menambah pengetahuan dan literasi, berpikir dan bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, menumbuhkan rasa empati terhadap sosial, dan memahami eksistensi diri,” ujar Zuhri yang juga selaku Direktur Eksekutif MADANI Connection.

Sedangkan Sukanto, S.IP, pegiat Deradikalisasi NII Crisis Center menyampaikan, pengalaman yang pernah dialaminya saat mengikuti kelompok yang mengajarkan paham radikalisme. Ia pernah masuk NII, mencita-citakan Negara Islam. Beruntung ia hanya pada tahap radikalis. Sebelum terjerumus ke arah aksi terorisme ia sadar kalau paham ini tidak benar. Setelah itu saya keluar dan mengajak orang-orang agar tidak terjerumus. Pola – Pola perekrutan melalui sekolah dan kampus, dilakukan dengan cara mendekati anak-anak baru, diajak kajian-kajian yang dekat dengan permasalahan seputar anak muda, setelah terjadi interaksi yang nyaman calon korban yaitu anak anak sekolah atau mahasiswa tersebut diajak bicara dengan lebih mendalam tentang paham radikalisme dan terorisme tadi, dan umumnya penanaman paham ini masuk dari para alumni, atau dari luar, yang kemudian meluas masuk ke OSIS, ROHIS, BEM, Aktivis Masjid, dsb.

Sementara, Ikhwan Syarief, Satgas Pencegahan Terorisme BNPT 2014-2020, mengkafikasikan perilaku terorisme 47,3% itu anak anak muda dengan rentang usia 21-30 tahun, dengan tingkat pendidikan sekolah Menengah atas sebesar 63,6 %, dengan data tersebut mencerminkan usia anak – anak yang masih mencari jati diri, butuh pengakuan dan perhatian.
Proses radikalisasi, kata Ikhwan, melalui 5 proses tahapan, yaitu pendekatan, perekrutan, pembaiatan, pembinaan yang berujung pada Amaliyah Jihad. “Amaliyah jihad ini dapat berupa penggalangan dana, perekrutan anggota baru, pelatihan, perampokan, pembunuhan serta dapat berupa bom bunuh diri,”terangnya.

Sosialisasi tentang deradikalisasi dan anti – terorisme harus masif untuk disosialisasikan kepada kalangan anak – anak muda. Generasi muda harus menjaga negaranya dari ancaman, tantangan , hambatan dan ganggungan khususnya yang akan merongrong Pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara. Untuk itu UNKRIS memiliki kepentingan dalam kajian – kajian akademik dan Ketua LPKK Dr. Susetya Herawati LPKK, menegaskan, akan memfasilitasi kegiatan lanjutan dari FGD ini sampai pada tahap penelitian dan sosialisasi lebih luas.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini