Corona dan Cuaca Makin Mengancam Manusia

Oleh Dr. Ir. Indra Iskandar*

PANDEMI corona dan perubahan cuaca merugikan ekonomi dunia yang sangat besar. Keduanya, kata Menkeu Sri Mulyani,  adalah bencana alam yang mengerikan. Keduanya  menampar manusia serakah dan tak peduli lingkungan hidup.

Dampaknya,  semua manusia menjadi korban dari dua bencana alam itu.

Seperti dikatakan ibu  Sri Mulyani, dalam pidatonya di acara ESG (Environment Social and Corporate Governance) Capital Market Summit (virtual, 27/7/021),  perubahan iklim merupakan bencana global dan dampaknya sangat mengerikan. Bahkan lebih mengerikan  dari pandemi global corona.

Corona menginfeksi manusia dalam kondisi tertentu. Sedangkan bencana alam akan “menginfeksi” seluruh manusia tanpa kecuali. Munculnya badai, banjir, dan longsor misalnya, adalah akibat dari perubahan iklim tadi.

Betul, sejak Covid-19 menjadi wabah global atau pandemi  di awal tahun 2020,  hingga hari ini,  paruh Agustus 2021, sudah 4,25 juta orang tewas. Sedangkan  manusia yang terinfeksi virus corona sudah mencapai 200 juta di seluruh dunia. Luar biasa.

Akan tetapi, setiap pandemi, pasti berakhir. Usaha manusia untuk menghentikan pandemi dan siklus alam menjadikan pandemi mereda sampai kemudian hilang. Dunia sudah beberapa kali dilanda pandemi. Korban tewas ratusan juta manusia. Tapi kemudian pandemi itu berakhir.

Ini berbeda dengan krisis lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim. Krisis lingkungan ini, tidak saja membunuh manusia, tapi merusak ekonomi dunia dan berlangsung terus menerus. Jika pandemi, berdasarkan pengalaman akan hilang sendiri,  tapi krisis lingkungan yang menyebabkan perubahan cuaca, makin lama makin mengerikan.

Dalam dua bulan terakhir, misalnya, bencana alam akibat perubahan  cuaca terjadi di mana-mana. Juni 2021 gelombang panas menerjang British Columbia, Kanada. Suhu udara mencapai 49,6 derajat Selsius. Dampaknya, 719 orang tewas.

Di Amerika, gelombang panas menyapu  delapan negara bagian di kawasan barat seperti Arizona, California, Nevada, dan Utah. Dua ratus orang tewas. Jutaan hektar hutan musnah terbakar. Padahal hutan di kawasan tersebut adalah peredam kenaikan suhu udara, produsen oksigen, dan tempat satwa dan biota yang  khas.  Kerugian mencapai milyaran dolar AS.

Di bulan Juli, memasuki musim panas, Eropa dilanda banjir dahsyat. Jumlah korban tewas di Jerman dan Belgia, mencapai 200 orang. Ribuan orang lainnya luka-luka. Ribuan fasilitas umum seperti jalan raya, jembatan, jaringan listrik, dan gas hancur. Kerugian mencapai milyaran euro.

Di Asia, banjir dan longsor melanda Tiongkok dan Jepang bulan Juli lalu. Di provinsi Henan, 58 orang tewas dan 800 ribu  orang mengungsi. Sedangkan di India, terjadi banjir dan longsor. Di Goa dan Mumbai, tercatat 129 orang tewas; 150 ribu mengungsi.

Di Indonesia, awal Juli 2021 banjir dan longsor menerpa tiga kabupaten — Jeneponto, Bantaeng, Sinjai. Ribuan rumah dan fasilitas umum hancur dan hanyut. Empat orang tewas dan ribuan orang mengungsi. Banjir juga menerjang Pantura Jawa, Aceh, dan dan Sumatera. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan ratusan fasilitas umum hancur.

Bencana banjir dan longsor tersebut di atas, penyebabnya adalah perubahan cuaca karena kenaikan suhu yang ekstrim. Kenaikan suhu disebabkan makin pekatnya konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfir. Dari mana gas karbon yang memenuhi atmosfir itu? Jelas, dari kendaraan bermotor, pabrik, kapal laut dan pesawat  terbang serta pemakaian bahan bakar fosil yang lain di rumah tangga.

Semua manusia tahu — tingginya kadar gas karbon di atmosfir — akan menyebabkan munculnya global warming tadi. Tapi mereka tak mampu mencegahnya. Karena sumber gas tersebut adalah  bagian penting dari kehidupan ekonomi dunia.

Itulah sebabnya  Donald Trump — presiden Amerika (2017-2021), keluar dari Paris Agreement – kesepakan internasional untuk mengurangi emisi karbon  dalam rangka  mencegah  kenaikan suhu bumi (global warming).

Menurut Trump, kesepakatan untuk mengurang emisi gas karbon tersebut akan menghancurkan ekonomi Amerika. Untungnya, Trump kalah dalam Pemilihan Presiden Amerika tahun 2021. Trump pun mendapat kecaman dunia.

Koran Washington Post menyatakan, Donald Trump adalah presiden terbodoh dan terburuk di dunia. Akibat ketidakpeduliannya terhadap fenomena perubahan cuaca dan global warning.

Gantinya Presiden Joe Biden, adalah pemimpin yang sangat peduli dengan kerusakan lingkungan dan perubahan cuaca. AS pun kembali masuk Paris Agreement. Bahkan mendukung  penuh penyelamatan  bumi dari ancaman global warming.

Lalu, apa kaitannya antara tragedi corona dan perubahan cuaca? Keserakahan manusia dan ambisinya untuk menguasai alam, tanpa memperhatikan firman Tuhan.

Dalam surat Al Baqoroh 11, Allah menegur para perusak  bumi. “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.”

Teguran Allah itu dijawab, “kami tidak merusak, tapi kami membangun.”

Itulah bobroknya manusia. Merasa membangun bumi, tapi sebetulnya merusak. Fenomena tersebut terlihat saat ini. Orang membuat pabrik yang asapnya mengotori udara. Mereka merasa membangun ekonomi suatu negara. Padahal sesungguhnya sedang merusak atmosfir bumi, dengan menaburkan asap kotor (polusi) ke udara.

Kembali pada tragedi corona. Virus corona sebelumnya aman-aman saja. Tetiba orang membangun terowongan di Cina. Di dalamnya ada habitat kelelawar. Kelelawar itu dibunuh. Ada juga yang kemudian mengonsumsi daging kelelawar itu. Konon dagingnya bisa untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Akibat membunuh dan mengonsumsi kelelawar yang nota bene adalah  “binatang langka dan dilindungi” — muncullah bencana. Ternyata tubuh kelelawar adalah “habitat virus corona”. Begitu habitatnya dirusak, virus pun mencari “inang” untuk mempertahankan survivalitasnya. Inang terdekatnya adalah manusia. Itulah awal mula heboh Corona, yang kemudian menjadi pandemi.

Peristiwa itu awalnya muncul di Provinsi Wuhan, Cina. Orang-orang setempat suka mengonsumsi daging kelelawar yang dijual di pasar. Akibatnya    koloni virus corona yang hidup  di tubuh kelelawar,  keluar dan “menggigit” manusia. Dari situlah awal munculnya virus  mematikan yang kini menjadi pandemi dan mengguncang dunia.

Di pihak lain, perubahan cuaca panas (yang menyebabkan global warming) adalah akibat pemakaian gas karbon berlebihan. Padahal manusia sebetulnya bisa mencegah anomali cuaca tersebut. Caranya mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. Juga membersihksn kotoran di sungai,  laut, darat, dan udara.

Memang ini bukan pekerjaan mudah. Tapi hal itu harus dilaksanakan. Demi kesehatan dan kesejahteraan warga bumi.

Dari kasus corona dan perubahan iklim yang kemudian menyebabkan global warming, inti permasalahannya adalah sama. Manusia menuai bencana akibat merusak lingkungan.

*penulis adalah Sekjen DPR RI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini