Oleh KH. Dr. Amidhan Shaberah*

Untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) secara global, umat manusia membutuhkan langkah-langkah integratif dan multidisiplin. Individu, publik, negara, dan benua tidak akan mampu menyetop globalisasi virus corona karea kompleksitas permasalahannya. Hanya kerjasama antarpihak – baik stake holder maupun share holder – yang memungkinkan pencegahan penularan virus corona dapat berjalan simultan. Tanpa itu, rasanya agak sulit karena kompleksitas masalahnya sangat luas. Tidak hanya menyangkut pencegahan sebaran corona virus (CoV) yang tak kasat mata. Tapi juga menyangkut problem sosial, psikologi, kepercayaan dan agama di tngah masyarakat.

Karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islaam, saya ingin melihat problemaka wabah corona di kalangan umat Islam. Permasalahan di kalangan umat Islam yang paling krusial adalah, perbedaan pandangan akibat perbedaan tafsir dalam membaca ayat-ayat suci Qur’an. Di medsos, seorang relawan mempertanyakan, kenapa ada hadist yang menyatakan bahwa orang yang mati karena serangan wabah penyakit atau thoun dianggap mati syahid? Ini artinya orang yang meninggal karena terinfeksi CoV pun statusnya mati syahid. Mati syahid dalam perspektif Islam niscaya masuk sorga. Apakah hadist ini yang menyebabkan umat Islam tidak peduli himbauan pemerintah agar melakukan swakarantina?

Ketika pemerintah menghimbau umat Islam untuk tidak melakukan salat Jumat di masjid dan salat jamaah di mushala, ternyata tak sedikit pengurus masjid, mushala, dan masyarakat yang melanggarnya. Di mushala, adzan salat masih tetap berkumandang dan masyarakat sekitar tanpa merasa bersalah – bahkan bangga — menjalankan salat jamaah. Sebagian umat Islam, tidak melihat inti dari anjuran pemerintah untuk mengisolasi diri guna mencegah penyebaran CoV tersebut. Sebaliknya yang dilihat adalah anjurannya semata, tanpa melihat tujuannya. Akibatnya, dengan mempermainkan ayat, sebagian dari ustad atau pemuka agama, menolak anjuran pemerintah tersebut. Alasannya meyakinkan: hidup mati manusia bukan karena corona. Tapi karena Allah semata.

Banyak ayat dan hadist yang sepintas membenarkan pendapat yang mengabaikan anjuran pemerintah tersebut. Surah At-Taubah 51, misalnya, menyebutkan: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Juga Surah Yunus 107, menyatakan “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Begitu pula Surah Hud 6 memberitahu: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauhmahfuz).

Masih banyak ayat-ayat sejenis itu dalam Quran. Seperti Surah Hud 56; Al-Ankabut 60; Al-Fathir 2; Az-Zumar 38; dan lain-lain. Semua ini menggambarkan bahwa Allah adalah penentu segalanya. Sehingga tidaklah layak umat beriman menakuti wabh penyakit apa pun. Sebab, kehidupan dan kematian manusia hanya di tangan Allah.

Hadist yang mendukung ayat-ayat Kemahamutlakan Allah tersebut lebih banyak lagi. Sehingga, jika seseorang yang hanya takut kepada Allah, lalu meninggal karena wabah penyakit, maka ia mati syahid. Ini artinya, ketakutan kepada Allah adalah jihad. Sedangkan kematian akibat virus adalah pengorbanan. Pengorbanan tersebut adalah kesyahidan. Jaminannya surga.

Di pihak lain, tak sedikit pula ayat Quran menyatakan, bahwa setiap perbuatan adalah tanggungjawab manusia itu sendiri. Dalam Surah Al-Mudatstsir 38, Allah menyatakan: “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.” Pengertian keharusan manusia bertanggungjawab atas perbuatannya, tertulis juga dalam Surah As-Shafat 22-24; An-Naml 18; Al-An’am 164 An-Nahl 25; Yasin 12; dan lain-lain. Begitu pula hadist yang mendukung ayat-ayat tersebut, banyak sekali.

Salah satunya, kisah tentang sahabat bernama Abu Ubaydah yang sangat dekat dengan Rasul. Abu Ubaydah adalah salah satu dari 10 orang yang pertama kali masuk Islam. Nama aslinya Amir bin Abdullah al-Jarrah. Abu Ubaydah termasuk sahabat Nabi yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan ikut hijrah ke Madinah bersama Rasul.

Suatu ketika ‘Amr bin Ash bertanya kepada Nabi Muhammad. “Ya Rasul, siapakah orang yang paling Baginda senangi di antara para shahabat” “Abu Bakar”, jawab Nabi. “Lalu siapa lagi?” “Abu Ubaydah bin al-Jarrah,” lanjut Rasul.

Di kesempatan lain, ketika Nabi telah meninggal, seorang shahabat bertanya kepada Aisyah, isteri Rasul. “Siapakah dari shahabat Nabi yang paling beliau senangi?” “Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaydah bin al-Jarah,” Jawab Aisyah.

Wafat karena Virus Penyakit

Suatu ketika, Umar Ibn Khattab bersama para shahabat hendak bepergian dari Madinah ke Syam (kini Suriah). Ketika rombongan sampai di sebuah tempat yang bernama Sargha, Umar bertemu Ubaydah bin Jarrah dengan rombongannya yang juga menuju Syam.

Tetiba, seseorang datang menemui Umar dan Abu Ubaidah. Ia memberitahu bahwa kota Syam sedang dilanda wabah penyakit (thaun) yang ganas. Umar ragu untuk meneruskan perjalanannya. Ia panggil para shahabat Muhajirin senior untuk bermusyawarah. Ada yang mengusulkan, Umar beserta rombongan harus tetap melanjutkan perjalanan ke Syam. Sebagian lain berpendapat sebaliknya. Umar dan rombongan kembali saja ke Madinah, karena ada wabah penyakit ganas di Syam.

Tak ada kata sepakat di antara anggota rombongan. Ketika perdebatan memanas, tetiba datanglah Abdurrahman bin Auf. Adurrahman mengaku pernah mendengar Rasul bersabda: “Jika kalian mendengar wabah penyakit menerjang suatu negeri, maka janganlah kalian menuju negeri itu. Namun jika kalian berada di negeri yang sedang dilanda wabah, maka janganlah kalian keluar dan lari dari negeri itu.” Sebuah hadist yang jenial sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Mendengar informasi dari Abdurahman bin Auf, Umar memutuskan batal ke Syam. Lalu kembali ke Madinah. Tapi Ubaydah menolak keputusan tersebut.

“Apakah kamu hendak lari dari takdir Allah, wahai Umar?” kata Ubaydah. Bagi Ubaydah, terkena wabah penyakit atau tidak, itu sudah takdir Allah. Ubaydah dan rombongannya meneruskan perjalanan ke Syam.

“Andai saja yang bertanya ini bukan dirimu, wahai Ubaydah, sahabat kinasih Rasul, ” kata Umar kepada rombongannya yang tidak bisa menahan kepergian Ubaydah dan kawan-kawannya ke Syam — “Kami akan menjawab, kami lari dari satu takdir menuju takdir yang lain. Semuanya sama-sama takdir Allah.

Bagaimana pendapatmu jika kamu membawa seekor unta di sebuah lembah dengan dua sisi, ada sisi yang subur dan ada sisi yang tandus? Mana yang kau pilih? Seandainya kau membawanya ke sisi yang subur, sesungguhnya itulah takdir Allah. Tapi jika kau membawanya ke sisi yang tandus, itu pun takdir Allah,” kata Umar panjang lebar. Setelah itu, Umar pn kembali ke Madinah.

Sesampainya di Syam, benar saja, wabah sedang merajalela. Tapi Abu Ubaidah berkhutbah di hadapan orang-orang: “Wahai manusia! sesungguhnya penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doa para Nabi kalian, dan penyebab kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Abu Ubaidah memohon kepada Allah untuk mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Tak lama kemudian Ubaydah terjangkit penyakit tersebut sehingga meninggal dunia.

Sepeninggal Abu Ubaydah, Mu’adz bin Jabal menggantikannya sebagai pemimpin rombongan. Mu’adz menyampaikan khutbah setelah wafatnya Abu Ubaidah: “Wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doanya para Nabi kalian dan penyebab kematiannya orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Mu’adz memohon kepada Allah agar keluarga Mu’adz mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Tidak lama kemudian Abdurrahman bin Mu’adz, anak Muadz bin Jabal, terjangkit wabah tersebut, dan meninggal dunia.

Kemudian ‘Amr bin al-Ash, Gubernur Syam, menggantikan kedudukan Mu’adz sebagai pengkhotbah. Tapi ‘Amr memilih kebijakan yang berbeda dengan kedua sahabat Rasu yang wafat tersebut. ‘Amr berdiri menyampaikan khutbah di hadapan masyarakat.

“Wahai manusia! Sesungguhnya jika wabah menjangkiti suatu negeri, maka dia akan melahapnya sebagaimana menyalanya api. Karena itu, menghindarlah kalian ke gunung-gunung.”

Berkat khutbah ‘Amr bin Ash, sang gubernur, penyebaran wabah penyakit itu terbendung. Lalu berhenti. Menurut catatan para sejarawan seperti al-Shafady dan al-Nuwairi, serangan wabah penyakit di Syam itu terjadi pada tahun 18 H. Korban tewas akibat wabah mencapai 25 ribu orang lebih.

Dari kisah di atas, umat Islam mendapat pelajaran berharga. Ikhtiar Umar bin Khatab dan ‘Amr bin Ash adalah yang menyelamatkan manusia dari terjangan wabah.

Kenapa? Umar dan ‘Amr berhasil menyelamatkan kaum muslimin dari serangan wabah yang lebih banyak. Umat diminta menajuhi wabah, mengisolasi ke gunung-gunung, dan menjauh dari keramaian.

Hasilnya: sebaran wabah pun terhenti. Lalu menghilang. Umar dan ‘Amr niscaya mendapat apresiasi Allah. Sesuai firman yang termaktub di kitab suci. Qur’an Surah A-Maidah 32 menyatakan: “Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.”

Umar dan ‘Amr dalam sejarah Islam kelak tercatat sebagai khalifah yang berhasil mengemban amanah. Jujur, bijak, pintar, dan berwawasan luas. Kelak kisah Umar dan ‘Amr tersebut menginspirasi ilmuan Islam seperti Ibnu Sina, Al-Battani, dan Al-Kwarizmi untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan berdasarkan fenomena empiris.

*penulis adalah Ketua MUI (1995-2015)/Komnas HAM (2002-2007)

 

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here