Oleh Agus Sumarwoto*

RAHWANA hidup di masa Ramayana, raja diraja angkara murka saat itu. Dia memimpin Alengko dengan nafsu egoisme untuk memenuhi hasrat kenikmatan duniawi yang tidak ada batasnya. Lupa nasib rakyatnya, suka memeras tapi juga suka menghamburkan harta kerajaan. Setiap hari pesta pora dengan dilayani banyak wanita dan minuman keras. Dia hancur bersama rakyatnya ketika berupaya menuruti nafsunya merebut istri orang (Sri Rama) yaitu Dewi Sinta.

Dewasa ini, kepemimpinan ala Rahwana telah mendominasi dunia dan mengendalikan seluruh sendi kehidupan jagad. Mereka tidak ragu mengorbankan rakyatnya maupun rakyat negara lain, menumpuk harta untuk pribadi, hidup mewah, bersenang-senang dengan banyak wanita, dan selalu melakukan konspirasi dalam rangka mempertahankan dan membesarkan pengaruh dan kekuasaan.

Ada raja kasino jadi Presiden, ada presiden yang hobi menghukum mati pejabatnya, ada yang berpenampilan dingin tapi bertangan besi, ada yang bergiliran berkuasa dengan koleganya, ada yang sering menjalankan operasi menghabisi rival maupun yang kritis, ada yang bisanya hanya jualan minyak tapi memang kaya. Banyak macamnya.

Dan yang pasti mereka punya banyak wanita, ada juga yang sesama jenis. Ada yang dirahasiakan, tapi ada yang terang-terangan dilegalkan. Di Jazirah Arab, beristri 4 itu lazim bagi rakyatnya, pemimpin-pemimpinnya ada yang punya harem berisi 20 wanita bahkan lebih juga biasa.

Di Eropa, Amerika, dan Australia, kebebasan seks jadi protokol HAM yang direstui negara, punya anak tanpa nikah, bahkan sesama jenis minta legalisasi. Pornografi jadi industri yang dilindungi.

Di Asia, seks bebas seolah diharamkan, tapi prakteknya disembunyikan. Di negara maju Asia dan beberapa negara kecil, pornografi menjadi industri dan pariwisata yang dilindungi. Di Afrika yang tampaknya terbelakang, praktek eksploitasi wanita juga lazim.

Luar biasa kalau membicarakan ini.
Negara-negara besar, negara-negara maju, kerajaan-kerajaan kaya di dunia ini telah didominasi oleh gaya kepemimpinan Ala Rahwana. Yang murni untuk kepentingan rakyat tidak banyak.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa angkara murka sudah mendominasi dunia. Artinya : nilai-nilai luhur, kemanusiaan, KeTuhanan, kemuliaan dan nilai-nilai positif lainnya sudah sedemikian tereduksi, terkikis, dan hampir punah. Jadi, kartu-kartu permainan ke depan dalam kehidupan kita tinggal menyisakan kerusakan alam, bencana kemanusiaan, bencana alam, atau pengembalian harmoni alam semesta.

Sudah tidak banyak kartu pilihan kawan. Yang enak-enak dan nikmat-nikmat sudah habis dimainkan.

*penulis seorang spiritualis, tinggal di Yogyakarta.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini