JAKARTA (Eksplore.co.id) – ‘Tukang somasi’ dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Muannas Alaidid kembali beraksi. Kali ini korbannya wartawan senior Farid Gaban. Gara-garanya cuitan kritik mantan wartawan Tempo dan Republika itu terhadap langkah Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Teten dikritik karena menjalin kerjasama dengan Blibli, perusahaan milik Grup Djarum yang bergerak mengelola pasar online. Dalam kerjasama itu, Menkop merestui pembuatan UMKM Hub di Blibli. Farid mempertanyakan mengapa Menkop tidak bikin pasar online sendiri tapi lebih mengandalkan bantuan swasta.

Padahal, kata Farid mengutip pernyataan pejabat Bank Indonesia Miftahul Choiri dan Bhima Yudhistira dari Indef bahwa pasar online swasta itu kebanyakan justru memasarkan produk asing dari pada produk UMKM lokal.

“Lebaran ini saya dapat kado keren, surat somasi dari @muannas_alaidid, pengacara/politisi PSI. Dia mengancam mempolisikan saya jika tidak cabut kritik saya tentang kerja sama Menteri Teten Masduki dengan Blibli,” kata Farid. Alasan lengkap dia menolak somasi itu dimuat lengkap di akun twitter-nya pada 23 Mei 2020.

Kritik Farid sendiri diunggah dalam cuitannya tanggal 21 Mei 2020. “Rakyat bantu rakyat; penguasa bantu pengusaha. Gimana, nih, kang Teten Masduki? How low can you go?” cuit Farid yang kini alih profesi menjadi petani di Wonosobo.

Membaca cuitan tersebut, Muannas yang juga ketua umum Perhimpunan Cyber Indonesia mengingatkan agar Farid mencabut pendapatnya.  Inilah cuitannya pada 23 Mei 2020 di akunnya.

“Saya tahu persis soal ini, kerja sama ini tidak ada aliran dana APBN atau apa pun dari pusat. Juga Kemenkop ke Blibli. Mereka hanya membantu mempercepat adopsi digital untuk UMKM. Jangan sesatkan publik dibalik penguasa bantu penguasa, yang ada pemerintah ajak pengusaha bantu UMKM. Hapus, Bisa jadi delik lho,” ujar Muannas.

Dalam rilis yang dikirimkan ke sejumlah media, Muannas mengaku menunggu jawaban Farid dalam dua tiga hari lagi. Dan Farid pun tegas menolak tuntutan Muannas untuk mencabut pernyataannya terhadap Teten.

Penolakan Farid itu ditulis dalam sebuah artikel di akun twitternya pada Senin (25/5/2020) yang diberi judul “Saya, Pak Teten, dan Somasi”. Di situ, panjang lebar pengarang buku ensiklopedia ‘Jamrud Katulistiwa’ itu mengupas tentang centang-perentang pasar online besar yang ada di Indonesia.

Farid juga mempertanyakan mengapa Menkop dan UKM Teten Masduki tidak mengoptimalkan peran Smesco Indonesia yang berdiri sejak 2007. Juga Sarinah sebagai etalase produk lokal. Smesco Indonesia harusnya bisa membangun marketplace sendiri agar bisa mengontrol tujuannya membina dan mengembangkan UMKM lokal. UMKM lokal bukan hanya pedagang tapi juga produsen.

Saat ditanya tentang aksi Muannas, Teten berkilah. Dirinya mengaku tak masalah terhadap Farid Gaban. “Saya tidak anti kritik,” ujar Teten, seperti dikutip Tempo, Senin (25/5/2020).

Teten juga tak tahu alasan Advokat Muannas Alaidid mensomasi Farid untuk mencabut cuitannya di media sosial Twitter dalam waktu tiga hari. Tegas, Teten menyatakan dirinya sama sekali tidak terlibat dengan tindakan Muannas itu. Dia juga tak pernah memerintahkan politisi PSI yang gagal masuk ke Senayan itu mensomasi Farid. “Apa saya sekuasa itu? Bisa perintah?” katanya berkelakar.

Dukungan Publik
Tentu saja sikap kritis Farid mendapat dukungan moral dari para tokoh. Sebut saja Tifatul Sembiring, mantan menteri Kominfo.
“Seharusnya pemerintah berterima kasih jika ada yg mengkritisi secara konstruktif seperti ini. Tanggapi secara wajar. Netizen makin cerdas lihat persoalan. Kalau semua kritik dihadapi dg somasi atau kerahkan buzzeRp, masyarakat madani macam apa yang akan ditegakkan di negeri ini?” tulisnya di akun twitternya.

Fahri Hamzah, Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, juga membela Farid yang juga pengelola portal Geotimes Indonesia. “Masa yang dagang boleh dagang, yang kritik enggak boleh kritik sih?” ujar Fahri di akun Twitternya, @Fahrihamzah, Senin.

Ada lagi sejawat Farid, sesama wartawan.
Dandhy_Laksono. Dia mengaku kaget  mendengar jurnalis senior @faridgaban  diancam somasi oleh pengacara/politisi PSI karena mengkritik kerjasama Kementerian Koperasi dan UKM dan Blibli (grup Djarum). “Siapa yang sedang dia wakili dengan somasi itu? Somasi ini seolah demokratis, tapi merusak esensi demokrasi,” tulisnya di @Dandhy_Laksono.

Menurut Dandhy, Farid sudah lama bicara defisit perdagangan antara desa dan kota, antara Jawa dan luar Jawa. “Dia mendahului saya keliling Indonesia dan melihat bagaimana ini terjadi. Yang dilakukan Kemenkop UKM dan Blibli akan memperburuk. Itu esensi kritiknya,” ujar Dandhy,  penulis buku tentang investigasi jurnalistik. (ban)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini