Oleh: Irene Radjiman*

KEMARIN saya dari rumah guru saya. Ada seorang dokter datang, minta air do’a pada beliau. Dokter ini minta advise dan sudah putus asa.

Keluarganya sama sekali tidak keluar rumah. Bahkan beliau sendiri juga memilih tidak pulang, karena takut secara tidak sadar sudah tertular, dan akan menulari keluarganya. Namun ternyata ibunda sang dokter sakit. Saat pemeriksaan swab dinyatakan positif.

Pertanyaannya, virus ini masuk darimana? Padahal ikhtiar perlindungan diri mereka sangat ketat. Ini fakta riil dan nyata.

Saya mau sedikit cerita. Silahkan hubungkan cerita saya ini dengan fakta diatas.

Kakak saya seorang bidan. Dulu saat saya masih kuliah, sering diajak ke RS tempat beliau bekerja. Saya sering melihat penanganan beberapa dokter kandungan pada pasiennya. Sebut saja dokter A. Saat itu dokter A kedatangan pasien. Saat pemeriksaan, si bumil ini ternyata kadar gula darahnya mencapai 200. Kolesterolnya hampir 250. Kadar gula darah dan kolesterol yang cukup tinggi. Tapi dokter A mengatakan ini pada si ibu

“Gula darahnya 200, kolesterol 250, Bu.”

“Wah tinggi ya Dok.”

“Ah enggak, belum sampai 300 kok. Nggak apa-apa. Asal ibu nurut dengan saran saya. Perbanyak makan sayuran dan buah. Perbanyak minum air putih. Sering jalan kaki. Kurangi makan yang berlemak, minuman manis dan makanan yang mengandung gula. Rilex aja pikirannya yaaa, dibikin santai dan senang, yang penting ibu sehat. Setelah seminggu kontrol lagi ya untuk saya periksa” Katanya sambil tersenyum.

Saat ibu itu pulang, para perawat pada tanya, “Dok, itu tadi si ibu gula darah dan kolesterolnya tinggi banget, bahaya itu Dok buat kehamilannya.”

“Betul, tapi kalo saya bilang seperti itu, bukan hanya bahaya untuk kehamilannya, tapi juga bahaya untuk kejiwaannya. Dia jadi cemas, takut, panik, akibatnya bisa lebih fatal. Justru bisa membuat masalah baru. Belum lagi kalau kecemasannya ini berdampak pada emosinya, suami dan anak-anaknya bisa kena sasaran. Lebih tidak bagus kan kondisinya. Justru bisa merambah ke semua aspek.”

“Betul Dok, tapi kan kita sebagai tim medis, tidak boleh membohongi pasien.”

“Siapa yang membohongi pasien? Bukankah tadi saya katakan kebenarannya kadar gula darah dan kolesterol beliau. Dimana letak bohongnya?”

“Tadi Dokter mengatakan, itu tidak tinggi.”

“Betul kadar itu tidak tinggi bila dibandingkan dengan yang mencapai kadar 300 kan? Dimana letak bohongnya? Saya hanya memilih kata-kata yang menenangkan, tanpa harus berbohong.”

Benar saja. Setelah sepekan si ibu datang kembali. Saat di cek kadar gula darah dan kolesterolnya turun.

Saya berharap kita semua bisa bersikap seperti dokter A. Bila yang sembuh ternyata masih lebih banyak dibanding yang tidak mampu disembuhkan, beritakanlah berita kesembuhan. Bila yang hidup masih lebih banyak dibanding yang meninggal, beritakanlah kehidupan. Bila yang sehat masih lebih banyak dibanding yang kurang sehat, beritakanlah tentang kesehatan.

Kalau selalu memilih kata-kata “Tetaplah dirumah, angka positif terjangkit virus masih tinggi.” Kata-kata ini bukan hanya menimbulkan kecemasan, tapi bisa bikin orang stres. Saat kecemasan meningkat, imun tubuh menurun. Emosional tidak stabil. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan, tapi juga pada sosial ekonomi.

Seharusnya dengan adanya qif-19 atau tidak, nggak perlu banyak keluar. Keluarlah hanya untuk urusan yang syar’i. Menafkahi keluarga, itu urusan syar’i. Sholat jama’ah ke madjid, itu urusan syar’i. Sebab terlalu banyak keluar tanpa urusan yang syar’i hanya akan mendatangkan murka Allah.

Keluar ngumpul sama tetangga cuma buat ghibah. Coba berapa prosentase penggibah se-Indonesia Raya ini? Belum lagi pembullynya. Belum lagi maksiat di perkantoran, korupsi, kolusi. Belum lagi kalau terjadi perselingkuhan. Itu baru yang terlihat dari kehidupan normal. Belum yang sengaja keluar buat kongkow untuk mabuk. Keluar sekedar mencari pemuas birahi. Ini lho, gara-gara orang yang suka keluar rumah dengan kelakuan kayak gini, Allah kirimlah qif-19, akhirnya disuruh #StayAtHome buat sadaaaaarrrr. Nggak tahu udah sadar apa nggak.

Jadi nggak perlu menakut-nakuti mereka yang masih keluar karena alasan syar’i. Insyaa Allah mereka aman.

Tak perlu memilih kata-kata yang mengundang kecemasan dan kekhawatiran, hanya dengan alasan “waspada” ; “kita tetap harus ikhtiar” ; dsb. Bila kita percaya virus itu makhluk Allah, maka Allah juga yang ijinkan virus untuk hinggap pada siapapun.

Kerajaan Namrudz itu kurang steril apa? Kok bisa lalat masuk menyerang membuat dia gatal-gatal?

Maka guru saya berkata, “Kembalilah pada Allah dan jangan menuhankan ikhtiar. Sejatinya setiap ibadah itu adalah ikhtiar. Setiap sunah itu adalah ikhtiar. Kepatuhan kita pada perintahNYA adalah ikhtiar. Kepatuhan kita untuk menjauhi laranganNYA juga ikhtiar. Ikhtiar dan ibadah itu sebenarnya satu. Jangan dipisah.”

Sebagai contoh, karena butuh perhatian dari bos, maka anda sering berkunjung kerumahnya, membawakan oleh-oleh. Saat ditanya, “Kok sering banget kerumah bos?” Anda akan jawab, “Iya, lagi PDKT, namanya juga usaha.”

Sama, kita juga. Gimana PDKT nya pada Allah, itulah ikhtiar kita. Silahkan temukan benang merah, dari awal tulisan ini hingga akhirnya.

“Selamat berfikir, wahai kaum yang berfikir.”
(t.me/ireneradjiman, 9 Juni 2020)

*seorang penulis inspiratif

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini