DUNIA psikiatri Islam menangis. Salah seorang “pendekar dan suhu”-nya Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater terkemuka di Indonesia meninggal, Kamis (4/12/2020) di Jakarta.

Dadang Hawari, tak hanya terkenal dalam dunia psikiatri, tapi juga terkenal sebagai da’i yang mumpuni. Dalam ceramah-ceramahnya, pria kelahiran Pekalongan 16 Juni 1940 tersebut selalu mengaitkan dunia kesehatan jiwa dengan agama. Khususnya Islam. Bagi Dadang, yang mendalami Islam sejak kecil di Kota Batik, kesehatan jiwa manusia tidak hanya terkait dengan masalah-masalah medis dan psikologis. Tapi terkait pula dengan keimanan dan spiritualitas.

Pendekatan Dadang Hawari tersebut saat itu, di tahun 70-80-an dianggap aneh dalam dunia kedokteran jiwa yang sekularistik. Di masa itu, pakar psikiatri, masih berkutat pada pengobatan kejiwaan dengan pendekatan medis dan psikologis. Pendekatan agama masih terpinggirkan. Karena dianggap tidak ilmiah. Tapi Dadang Hawari terus mengampanyekan bahwa masalah kesehatan jiwa tidak hanya soal medis dan psikis, tapi juga soal agamis. Orang-orang yang mempunyai dasar keimanan dan ketauhidan yang kuat, kata Dadang Hawari, niscaya tidak mudah terserang depresi — salah satu penyakit kejiwaan yang paling banyak diderita manusia.

Menurut Dadang Hawari, agama sangat bermanfaat untuk terapi dan memelihara kesehatan jiwa. Ia menginisiasi pengobatan jiwa dengan konsep BPSS (Biology, Psychology, Social and Spiritual). Keempatnya merupakan sistem yang terpadu. Keterpaduan tersebut, ungkap Guru Besar Psikiatri Universitas Indonesia itu, merupakan suatu keniscayaan dalam memahami kesehatan jiwa manusia. Ini karena jiwa dan raga dalam kehidupan manusia saling mengisi dan menjadi sistem yang tak terpisahkan satu sama lain. Itulah sebabnya, jiwa yang kuat hanya tumbuh bersama raga yang sehat.

Dadang Hawari yang menekuni ilmu kedokteran sejak 1968 ini mengungkapkan: peran agama dalam dunia psikiatri modern telah diakui dunia internasional sejak 1993. Agama kini telah telah menjadi bagian integral dalam dunia psikiatri. Itulah sebabnya Dadang Hawari menyatakan seorang pasien gangguan kesehatan jiwa, tak cukup dianalisis dari aspek medis semata, tapi juga harus dianalisis dari aspek agamanya. Analisis pemahaman agama pasien tadi tidak hanya terkait dengan nama dan simbol agama, tapi terkait pula dengan perspektif keimanan dalam agama yang diyakininya.

Jika pemahaman agamanya menghasilkan tindakan yang destruktif, yang kemudian menimbulkan stres dan depresi, baik secara personal maupun sosial, berarti ia berpenyakit. Penyakit itu datangnya dari pemahaman agama yang salah. Kenapa? Karena agama seharusnya merupakan ajaran yang menyelamatkan dan menyehatkan. Jika agama ternyata menimbulkan keresahan dan gangguan jiwa, berarti ia salah dalam memahami agama. Itulah kaitan antara agama dan kesehatan jiwa.

“Semua agama, memerintahlan pengikutnya untuk berbuat baik. Dengan demikian, agama merupakan petunjuk hidup yang harus dijalankan secara benar, agar manusia selamat dalam mengarungi kehidupan,” kata dokter spesialis kejiwaan senior ini. Secara khusus Dadang Hawari menyatakan, bila orang memahami secara mendalam, Rukun Islam dan Rukun Iman sebetulnya merupakan pedoman hidup dalam berumah tangga dan bermasyarakat untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. Dengan menjalankan Rukun Islam dan Rukun Iman, seorang muslim mampu mengendalikan diri dan tercegah dari segala perbuatan keji dan munkar.

Di samping sebagai psikiater dan da’i, Dadang Hawari dikenal pula sebagai penulis buku yang produktif. Beberapa karya tulisnya yang terkenal — ‘Managemen Stress, Cemas dan Depresi’, ‘Doa dan Dzikir sebagai Pelengkap Terapi Medis’, serta ‘Dimensi Kesehatan Jiwa dalam Rukun Iman’ menjadi buku best seller.

Dalam bukunya yang lain, ‘Gerakan Nasional Anti Mo-Limo’ dan ‘Love Affairs (Perselingkuhan) Prevensi dan Solusi’ Dadang Hawari mengingatkan kita untuk menghindari perbuatan Lima (5) M. Yaitu, pertama, hindari madat alias narkotika karena merusak otak dan jiwa; kedua, hindari minuman keras, yang dapat merusak jiwa dan raga manusia; ketiga, hindari main judi yang dapat membawa kerugian moril maupun materil; keempat hindari maling termasuk korupsi yang menimbulkan bencana ekonomi; dan kelima hindari madon atau main perempuan, prostitusi, pelacuran, dan penyimpangan seksual lainnya karena merusak rumah tangga dan kehidupan sosial.

Dadang Hawari adalah salah satu psikiater terkenal di Indonesia. Dia kerap menjadi narasumber berbagai media nasional untuk berbagai kasus psikologi dan psikiatri. Dia adalah sosok yang tidak asing lagi di kalangan pemerintahan, ilmuwan, agamawan, dan juga masyarakat awam. Aktivitasnya beragam, mulai psikiater, mengisi ceramah masalah kesehatan, hingga meniti karir akademisnya menjadi Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selamat jalan Profesor Dadang Hawari. Allah niscaya memelukmu di sorga karena pengabdianmu untuk nusa dan bangsa tiada tara.

*Dr.KH Amidhan Shaberah, ketua MUI (1995-2015), Komisioner KOMNAS HAM (2002-2007)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini