AKU masuk di koran Republika di setelah koran itu terbit empat bulan. Saat Republika terbit, aku masih berkantor di Jalan Empang Tiga, Pasar Minggu, menjadi redaktur di majalah Ulumul Qur’an yang dipimpin M Dawam Rahardjo.

Suatu siang, aku ditelpon Mas Haidar Bagir. “Simon saya mau ketemu,” katanya. Setelah bertemu, ternyata Mas Haidar yang waktu itu pemimpin perusahaan Republika, meminta aku untuk menjadi redaktur opini dan penulis tajuk rencana. Ia pun menjelaskan rinci pekerjaanku di koran “umat Islam'” bergengsi yg didirikan ICMI tersebut.

“Simon nanti satu desk dengan Daru Priyambodo,” ujar Mas Haidar yang aku kenal namanya sejak mahasiswa sebagai intelektual ITB dan pendiri penerbit Mizan itu. Tapi aku kan masih di Ulumul Qur’an? Kataku.

“Dirangkap juga gak apa. Ulumul Qur’an kan terbit tiga bulan sekali.” Jawabnya.

Hari-hari berikutnya aku bagi tugas dengan Daru Priyambodo, pria tinggi besar dan kocak itu. Sebelum di Republika, Daru adalah dosen sosiologi di Universitas Airlangga, Surabaya. Kami kompak. Menyeleksi naskah artikel yang masuk dan menulis tajuk rencana. Tiap hari, saat itu, aku dan Daru menulis dua tajuk rencana di Republika. Daru lebih banyak menulis tajuk masalah sosial politik. Aku lebih banyak masalah budaya dan agama. Sekitar tiga tahun aku satu desk dengan Daru di koran umat itu.

Di samping itu, Daru dapat tambahan tugas dari Pemred Parni Hadi. Menulis satir pendek yang lucu di pojok kanan bawah halaman pertama Republika. Satir lucu pendek ini termasuk rubrik favorit pembaca. Daru memang humoris high level.

Daru adalah pribadi yang sederhana. Pintar menganalisis setiap peristiwa sosial politik untuk kemudian menuangkannya dalam tajuk rencana.

Daru lebih cepat mengedit artikel yang masuk redaksi ketimbang aku. Tapi kalau ada artikel ambur adul dan harus dimuat karena penulisnya orang penting, Daru minta aku yang menulis ulang.

Weh…licik kamu Daru, kataku sambil tertawa. Ia pun cengengesan. Itu keahlianmu Simon. Katanya.

Aku pun dengan senang hati nuruti Daru. Kenapa Daru tak mau mengedit tulisan orang penting tersebut? Ya, maklumlah. Soalnya lebih mudah menulis artikel sendiri ketimbang merekonstruksi tulisan yang bahasa dan struktur kalimatnya seperti kapal pecah.

Lama tak bertemu setelah pindah ke Koran Tempo, Daru yang pinter dan humoris itu, Sabtu 12 Desember 2020, dalam usia 57 tahun, dikabarkan meninggalkan kita semua. Kebersamaanku bersamanya membuncah kembali. Terutama ketika rapat redaksi, saat Daru ngocol dengan humor satirnya.

Selamat jalan Daru. Semoga Allah memberimu tempat terbaik di sorga. Amin.

*kolumnis, mantan redaktur Harian Umum Republika

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini