HANYA ADA dua penyanyi di Indonesia yang tiap hari lagu-lagunya aku dengarkan di YouTube. Pertama Rhoma Irama. Kedua Didi Kempot.

Aku suka dangdutnya Rhoma sejak kecil. Saking jatuh cintanya kepada Rhoma Irama yang asal Tasikmalaya, mungkin dalam otakku terdapat semacam arketip serba indah tentang Tasik. Secara tak sadar, aku pun bercita-cita jadi orang Tasik. Harapannya kelak keturunanku berdarah Tasik. Tuhan memenuhi cita-cita terpendamku: berjodoh dengan gadis Tasik.

Dalam hati, setiap orang Tasik pasti bisa menyanyikan lagu-lagunya Rhoma Irama. Dan benar, istriku yang secantik Ani suka tembangnya Bang Haji Rhoma, idolaku.

Setelah Bang Haji, idolaku adalah Didi Kempot. Didi Kempot bagiku adalah sebuah keajaiban. Ia bisa menyanyikan lagu Jawa dengan irama yang enak di telinga dan lirik yang merakyat.

Merakyat, maksudku, lagu-lagu Didi merupakan pengalaman sehari-hari rakyat kecil di Pantura. Seperti putus cinta yang semudah membalikkan telapak tangan di Stasiun Balapan Solo.

Lagu Stasiun Balapan bagiku yang orang Pantura, liriknya sangat pas. Sekian tahun berpacaran, ketika ia ke Jakarta, putus. Pastilah sang gadis terpesona gemerlap Jakarta. Lalu melupakan kekasihnya di kampung.

Yang aku heran, apakah gadis-gadis Solo yg terkenal kesetiannya kini mulai mata duitan seperti gadis Pantura? Secara tersirat, Didi Kempot mengungkapnya di lagu Stasiun Balapan Solo tersebut.

Begitu juga lagu Pamer Bojo-nya Didi. Bagi orang Pantura, pamer istri muda adalah hal yang sangat biasa. Mantan istri kawin lagi, lalu pamer bojonya yang sugih, itu biasa sekali. Atau sebaliknya: sang pria yang tukmis, senang pamer bojo baru kepada mantan istrinya. Lagu Pamer Bojo terasa demikian “Nyirebon dan Ngindramayu” — meski diciptakan Didi, yang orang Solo.

Didi Kempot, adalah penyanyi yang piawai meracik musik dan lirik. Pengalamannya yang intens bergaul dengan rakyat kecil, membuat Didi tahu betul problema masyarakat akar rumput. Dan ia mampu mengungkapkannya dalam lagu campursari yang indah tersebut.

Popularitas Didi Kempot yang kini makin naik dan lagu-lagu lamanya yang ngehit kembali setelah lama tak terdengar, mengisyaratkan ada transformasi kultural di masyarakat Jawa. Salah satunya, legenda kesetiaan cinta di masyarakat Jawa kini mulai hancur dilanda pragmatisme matre. Ibaratnya, moralitas bawang putih kini tergerus moralitas bawang merah. Dan kesetiaan cinta pun kini fatamorgana belaka.

Kondisi itu diperparah dengan menguatnya etika dan moralitas generasi digital. Yaitu generasi yang hidup di dunia serba instan. Baik secara material maupun spiritual. Generasi ini sangat rapuh. Seperti gelas kaca yang mudah patah.

Nah, Didi Kempot mampu menangkap fenomena itu. Lalu, ia menciptakan tembang-tembang bernuansa broken heart, broken home, lara nestapa, dan sejenisnya. Dan publik milenial merasa terwakili. Tak hanya di Pantura. Tapi juga di pedalaman Jawa.

Didi Kempot menyadari betul, dunia digital telah merobek batas-batas kultural dan moral masyarakat. Ia kemudian, melalui lagu, menjadi jubir zamannya. Zaman ketika dunia, manusia, dan moralitasnya sudah terlipat.

Selamat Jalan Didi Kempot. Lagu-lagumu menjadi saksi sejarah generasi  gadgetanium yang resah dan patah. Semoga Tuhan menerima amal jariyahmu dalam bentuk tembang yang mengabarkan fenomena zamannya.

Asalmu Didi, dari tanah. Kini kau kembali ke tanah. Daaah…Selamat Jalan.

*Syaefudin Simon, kolumnis lepas

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini