“Mulai Maret sudah tidak jalan sama sekali,” kata Produser Film, Chand Parwez Servia saat gala premier film dokumenter Back Up melalui virtual pada Minggu (3/5/2020).

JAKARTA (Eksplore.co.id)-Industri perfilman di Indonesia lumpuh akibat pandemi Corona Virus Disease 2019/Covid-19 (Virus Korona). Hal ini terlihat dari bioskop sudah tidak dapat menayangkan film akibat penerapan social distancing (menjaga jarak) sebagai bagian pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dengan demikian prediksi 60 juta penonton di bioskop pada 2020 tidak dapat dicapai lantaran sampai sekarang hanya diraih kurang dari 20% saja.

“Mulai Maret sudah tidak jalan sama sekali,” kata Produser Film, Chand Parwez Servia saat gala premier film dokumenter Back Up melalui virtual pada Minggu (3/5/2020).

Dengan pencapaian hanya di bawah 20% dari 60 juta penonton ditaksir kerugian industri perfilman sebesar triliunan rupiah dihitung dari harga tiket Rp50.000 per penonton.

Untuk mengurangi kerugian industri perfilman bisa dilakukan pelaku perfilaman dengan pemutaran film secara daring. Langkah ini juga bisa menyelamatkan diri dari pandemi Covid-19.

“Saya lihat kita sudah menjadi orang-orang yang lebih aktif, lebih kreatif melalui seperti ini, virtual digital,” ucapnya.

Chand mengungkapkan pembuatan film tidak bisa dilakukan sekarang lantaran penerapan PSBB. Dia mengalami kejadian ini sewaktu syuting film di Malang, Jawa Timur (Jatim) dihentikan oleh walikota Malang secara langsung dengan alasan lockdown (penutupan wilayah).

“Padahal pemerintah pusat tidak memutuskan lockdown, akhirnya kita terpaksa stop (syuting),” jelasnya. (mam)

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini